Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 93. Kesetiaan Andreas


Lintang masih menunggu. Menatap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. Tak pernah berhenti berdoa untuk sang suami, bukan untuk rohnya saja. Akan tetapi, untuk jasadnya juga yang belum ditemukan sampai sekarang. 


Satu minggu berlalu, Lintang masih berharap besar suaminya kembali. Meskipun kemungkinan itu sangat kecil, tetap saja ia yakin dengan keajaiban Allah. 


Hari-hari Lintang dilalui hanya dengan melamun, tersenyum sendiri saat melihat foto Yudha, bercanda dengan Lion, dan sesekali menangis. Mengenang sosok yang membuat hidupnya berwarna. Apalagi saat Lintang mengingat perjuangan Yudha untuk mendapatkan dirinya, pasti rasa bersalah itu kian menggunung. 


 


Semenjak kejadian itu, setiap hari Andreas pun datang ke rumah. Melaporkan setiap perkembangan perusahaan yang kini dipegangnya, dengan bantuan Bian, Andreas mampu menangani pekerjaan dengan baik. 


Mobil berhenti di halaman rumah Lintang. Andreas turun menghampiri Bu Fatimah yang duduk di teras depan. Seperti biasa, ia menyerahkan dokumen di depan wanita itu. Memberikan instruksi dengan apa yang harus dilakukan Lintang, satu-satunya orang yang kini berhak menggantikan posisi Yudha. Setelah Bu Fatimah masuk ke dalam, Andreas menghubungi Lintang. Mereka berbicara lewat telepon.


"Itu laporan proyek yang ada di luar kota. Silahkan Ibu tanda tangan," pinta Andreas dengan ramah. 


Lintang membaca dengan teliti. Tak ingin ada kesalahan sedikitpun saat bertindak, baginya perusahaan itu adalah amanah besar dari sang suami yang wajib ia jaga sebaik-baiknya. 


"Pokoknya saya serahkan semua pekerjaan pada bapak dan Bian. Nanti kalau saya sudah siap, saya akan melanjutkan semuanya. Tapi Bapak jangan lupa, tetap cari Mas Yudha sampai dia ketemu." 


"Baik, Bu." Meskipun pernyataan dari warga kampung itu sangat meyakinkan, Andreas masih saja mencari jejak Yudha. 


Semenjak dinyatakan meninggal, Lintang mengurung diri di kamar. Kehidupannya terasa gelap tanpa arah. Seakan tidak punya tujuan lagi. Lion, hanya bocah itulah yang selalu memberi semangat padanya untuk tetap berdiri tegak. 


Setelah selesai menandatangani, Lintang keluar dari kamarnya menghampiri Bu Fatimah. Meminta wanita itu untuk mengembalikan dokumennya. Tak banyak bicara, hanya sesuatu yang menurutnya penting, itu saja. Lintang kini tertutup walaupun dengan keluarga. 


Bu Indri sangat prihatin dengan Lintang, wajahnya pucat, akhir-akhir ini selain sulit makan, menantunya itu pun tidak pernah mengurus penampilannya, kehilangan Yudha membuat Lintang lemah. 


''Sayang, kamu mau makan apa hari ini?'' tawar Bu Indri, mendekati Lintang dan merangkulnya. Semua keluarga sengaja tinggal di rumah Lintang. Memberikan suasana baru supaya Lintang bisa tegar. 


Lintang mengetuk dagunya seperti memikirkan sesuatu. Mengabsen daftar makanan yang selalu menjadi favoritnya dan Yudha. 


Demi anakku, aku harus bisa. Begitulah kata hatinya. 


"Terserah, Mama saja. Kalau ada, aku mau makan makanan kesukaan mas Yudha." Lintang membalut lukanya yang tak kunjung reda itu dengan senyuman. 


Bu Indri mengangkat jempolnya tanda setuju. Ia tahu, jika Lintang hanya pura-pura saja, dari sorot mata yang sendu, Lintang tak bisa membohongi semua orang, bahwa dirinya masih terhanyut dalam kesedihan. 


Bu Fatimah kembali menghampiri Lintang lagi. Membawa selembar kertas kecil lalu di berikan pada putrinya. 


Apa saja keperluan ibu yang habis, saya akan membelikannya. 


Itulah yang ditulis Andreas dalam kertas itu.


Di rumah banyak orang, namun hanya Andreas satu-satunya orang yang memperhatikan tentang hal itu. Terkesan sepele, namun sangat berharga. 


Lintang menatap ke arah pintu depan, nampak sang asisten memunggunginya. Kesetiaan Andreas sangat luar biasa hingga membuat Lintang kagum. 


"Bilang ke Pak Andreas, suruh dia membelikan susunya Lion, Bu," jawab Lintang tanpa mengalihkan pandangannya. 


Biasanya Yudha yang selalu bertanya seperti itu, namun sekarang harus orang lain yang mengurus tentang dirinya dan Lion. 


Baru saja membalikkan tubuh, terdengar suara haduh dari depan. Bu Indri yang ada di dapur kembali keluar. 


Seperti suara Bu Natalie?


Andreas dan Pak Didin berdiri di ambang pintu, menghalangi langkah Natalie yang terus memaksa masuk.  


Lintang meraih tubuh mungil Lion dan mendekapnya dengan erat. 


''Mas Yudha sudah meninggal, aku yang lebih berhak atas anakku, kalian jangan ikut campur,'' bentak Natalie pada Andreas dan Pak Didin.


Dada Lintang bergemuruh, ada rasa takut yang mengendap, meskipun pada kenyataannya Lion hanya anak sambungnya, Lintang tidak rela jika bocah itu ikut dengan Natalie yang berstatus ibu kandung. 


"Ibu tidak berhak membawa Lion, karena hak kuasa sudah jatuh di tangan Bu Lintang."


"Lintang, keluar kamu!" teriak Natalie dengan lantang. 


Bu Indri merengkuh tubuh Lintang dan Lion. Menggeleng pelan, memberi kode pada sang menantu untuk tidak menanggapi Natalie. 


"Silahkan Ibu pergi dari sini! Atau aku akan memanggil warga untuk mengusir ibu." Menunjuk ke arah gerbang. 


Andreas bersikap tegas, bagaimanapun juga ia ingin memberikan kenyamanan untuk Lintang dan Lion. Mereka adalah tanggung jawab besar yang harus ia lindungi. Meskipun harus mengorbankan nyawa sekalipun tak pantang baginya untuk menyerah. 


"Aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Aku pastikan kali ini kalian akan kalah," ancam Natalie lalu pergi. 


Ini tidak boleh terjadi, bagaimanapun juga Lion akan tetap tinggal bersamaku. 


Lintang menyerahkan Lion pada Bu Indri, ia berjalan ke arah depan. Menutup pintunya sedikit, membiarkan sang asisten berada di luar, sedangkan dirinya ada di dalam. 


''Saya mohon Bapak harus memenangkan kasus ini, jangan sampai Lion jatuh ke tangan Bu Natalie. Kasihan mas Yudha, jika tahu semua ini, pasti dia menderita saat melihat anaknya bersama dengan perempuan yang paling ia benci."


"Baik, Bu. Saya akan berusaha menenangkan kasus ini," jawab Andreas. Meskipun ia sendiri belum yakin, setidaknya memberikan jawaban yang membuat Lintang lega. 


"Ada apa ini?" Suara berat menyapa dari luar. 


"Maaf, Pak. Tadi bu Natalie datang, dia ingin mengambil alih hak asuh Lion," jawab Andreas dengan jelas. 


"Papa, tolongin aku," seru Lintang dari dalam terdengar memelas. 


Pak Radit masuk, menghampiri Lintang yang masih bersandar di dinding. Matanya sembab membuat pak Radit iba.


"Jangan khawatir, papa punya seribu cara untuk mendapatkan Lion, papa pastikan cucu papa tidak akan jatuh ke tangan siapapun, termasuk Natalie."


Lintang terharu mendengar ucapan pak Radit. Ternyata selama ini, ia dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang padanya. 


Setelah mendengar penjelasan pak Radit, Andreas berlalu untuk melanjutkan tugasnya di kantor.


Mas Yudha, aku akan menjaga apapun yang kamu tinggalkan. Seandainya kamu masih hidup, pulanglah. Kami semua merindukanmu, tapi jika Allah lebih sayang padamu. Aku akan berusaha ikhlas, semoga kamu mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Tunggu aku.


Lintang mengusap air matanya. Lalu, kembali berkumpul dengan yang lain.