Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 50. Menutupi tanda merah


Lintang memegang gagang sapu kuat-kuat. Mematung di depan kamar mandi, menunggu sang penghuni keluar dari sana. Bersiap akan segera melayangkan pukulan jika pintu itu terbuka. Dadanya meletup-letup setelah melihat bayangannya dari pantulan cermin. Tak menyangka, Yudha membuat kulitnya kini seperti macan tutul, mengenaskan. Untung saja ia sadar sebelum keluar dari kamar, bagaimana jadinya jika semua orang tahu, pasti akan menjadi bahan ledekan. 


Ya, walaupun tanpa disadari Mimah sudah tahu itu, setidaknya tak terlanjur orang banyak.


Pintu terbuka lebar


Seperti rencana awal, Lintang langsung mengayunkan senjatanya ke arah Yudha berharap pria itu kesakitan. Namun, semua tak seperti ekspektasinya. Nyatanya, pria itu menangkapnya dengan mudah sebelum menyentuh tubuh kekarnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Yudha terkejut, melepas handuk kecilnya di kepala, butiran air yang membasahi badannya itu sangat menggoda. Namun, bukan saatnya untuk semua itu, kembali ke tujuan awal, ingin balas dendam dengan apa yang sudah dilakukan Yudha padanya. 


"Apa ini, ini, ini?" teriak Lintang, menunjuk beberapa titik leher yang memerah. 


Yudha mengatupkan bibirnya menahan tawa. Melepas sapu yang ada di tangan Lintang dengan pelan, lalu memeluknya. Menyandarkan kepala wanita itu di dadanya. 


"Itu adalah tanda cinta dariku. Sebentar lagi akan hilang," ucap Yudha mencoba menenangkan. 


"Tapi aku malu," sergah Lintang sambil mencubit kecil lengan sang suami. Menghirup aroma sabun yang menusuk ke rongga hidung. Melupakan kejengkelannya karena tak bisa memakai baju bebas. 


"Malu sama siapa?" Yudah mengelus punggung Lintang dengan lembut.


"Mbak Mimah, Bi Siti, dan Gita, pasti dia bertanya. Apa itu, Lin? Siapa yang sudah menggigitmu? Jangan-jangan semalam kamu menyerahkan kehormatanmu pada pria hidung belang." Menirukan suara cempreng Gita. 


Yudha menangkup kedua pipi Lintang dan menatapnya dengan lekat. 


"Apa kamu belum siap jika semua orang tahu kita adalah suami istri?" tanya Yudha antusias. Sebab, dirinya sudah ingin mengatakan pada seluruh dunia tentang hubungan mereka. 


"Bukan belum siap, tapi aku butuh waktu yang tepat, karena Gita tidak mungkin percaya begitu saja dengan ucapanku. Aku takut dia menuduhku yang bukan-bukan. Status kita berbeda, mana ada seorang bos menyukai karyawan rendahan seperti ku. Bahkan mereka pasti mengira aku yang menjebak, Mas lalu minta dinikahi, bukankah itu yang sering terjadi?"


Yudha mencerna ucapan Lintang. Memang benar, hubungan seperti itu  jarang sekali terjadi dan itu adalah salah satu kontroversial bagi setiap kalangan. 


"Baiklah, kalau itu mau kamu tidak apa-apa. Sekarang kita keluar, aku lapar." 


Yudha menggiring Lintang ke arah lemari. Membukanya dan memilih baju untuk wanita itu. Memilih baju yang bisa menutupi area lehernya. 


Yudha mengambil Sweater Turtleneck yang  berwarna putih. Menempelkan tepat di dada sang istri. Terlihat sangat pas saat di padupadankan dengan wajah cantiknya dan kulitnya yang bening. 


"Pakai ini saja."


Lintang berdecak kesal. "Aku berangkat kerja di kantor, Mas. Bukan belanja di mall. Lagipula ini musim panas, pasti semua orang akan menertawakan ku," bantah Lintang menolak baju yang diambil suaminya. 


"Ini memang musim panas, tapi aku bisa menghujani mu dengan cintaku."


Lintang mengerutkan alisnya. Sejak kapan suaminya bisa menggombal yang terdengar sangat menggelitik jiwa, lebay. Itu bukan Yudha yang biasa ia lihat dengan wajahnya yang khas datar, tapi pria si perayu wanita. 


"Ya ya ya, terserah mas saja. Pokoknya aku mau mas cari cara, gimana supaya orang-orang nggak lihat tanda merah di leherku, titik." 


Lintang kembali membaringkan tubuhnya di sisi Lion yang masih terlelap. 


Malas untuk keluar, apalagi sampai kedua pembantunya tahu. Mau di taruh di mana wajahnya yang terlewat polos itu. 


Setelah beberapa menit berpikir keras, Yudha masih saja tak punya jalan keluar seperti yang diminta Lintang, jalan satu-satunya hanya dengan baju itu. 


Ia meraih ponsel lalu menghubungi Andreas. 


"Halo, Andre. Nanti jam delapan kamu kumpulkan seluruh karyawan dan pegawai lainnya di lantai bawah, katakan pada mereka ada pengumuman penting. Siapapun tidak boleh ada yang ketinggalan. Jika ada yang berani melanggar, akan ada hukuman berat."


Kali ini Lintang menurut apa kata Yudha, daripada semua orang mempertanyakan tanda di leher dan membuatnya mati kutu. 


"Sudah dengar, kan? Sekarang kamu mandi, kita akan berangkat naik mobil." 


Lintang mengangguk tanpa suara. Membangunkan Lion sebelum dirinya bersiap pergi. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yudha memarkirkan mobilnya di tempat khusus. Ia tak langsung turun. Matanya terus menyusuri sekitar. Memastikan di tempat itu benar-benar sepi. 


Menghubungi Andreas lagi dan meminta pria itu untuk datang.


Lintang sibuk merapikan rambutnya, memakai bedak lagi serta lipstik yang sedikit menyala. Itu menandakan jika hari ini dirinya sangat bahagia. Ia tak mau ada yang curiga dengan penampilannya, meskipun jelas berbeda, tetap ingin seperti Lintang yang dulu. 


Andre datang lalu membantu Lintang membuka pintu mobil. 


Yudha memakai kacamata hitamnya, tangannya menggenggam tangan sang istri dengan erat. 


"Gimana, apa semua pegawai sudah berkumpul?" tanya Yudha santai, sedangkan Lintang mulai panik, takut ini gagal dan tak sesuai rencana yang dibuat suaminya. 


"Sudah, Pak. Silahkan bapak dan Bu Lintang lewat sini." Menunjuk jalan  rahasia. Tidak ada yang tahu jalan itu, kecuali Yudha dan Andreas. 


Plak 


Lintang memukul punggung lebar Andreas dengan keras hingga membuat sang empu terkejut. 


"Kenapa, Sayang?" tanya Yudha pada Lintang yang nampak sinis pada Asistennya. 


"Dia memanggilku, Bu. Aku kan masih __" 


Lintang menggantung ucapannya. Teringat dirinya saat ini bukan perawan lagi, bahkan semalam adalah bukti jika dirinya saat ini sudah resmi menjadi nyonya Yudha seutuhnya. 


Menggaruk tengkuk lehernya, menyembunyikan wajahnya yang mulai bersemu. 


"Cepetan, Mas. Nanti kalau ada yang lihat  gimana?" Lintang mengalihkan pembicaraan, menarik tangan Yudha dan berlalu mengikuti langkah Andreas. 


Setelah beberapa menit tegang, akhirnya Lintang bisa bernapas lega, ia sampai ke ruangannya dengan selamat tanpa hambatan. Tidak ada satupun karyawan yang melihat kalau dirinya datang bersama dengan sang bos sekaligus suaminya. 


"Sekarang mas pergi!" Mendorong Yudha yang hampir masuk ke ruangannya. Mengusir pria itu, takut ada yang melihat mereka. 


"Cium dulu dong, buat penyemangat," pinta Yudha manja. Menunjuk pipinya bagian kanan. 


Andreas yang ada di belakang Yudha terpaksa memalingkan tubuhnya, takut adegan itu akan membuat jiwa jomblo nya meronta-ronta. 


Cup 


Sebuah kecupan mendarat di pipi Yudha dengan lembut, Lintang tak mau mengulur waktu yang bisa membuat semuanya terbongkar. 


"Selamat bekerja, ingat jangan ke sini lagi, dan juga jangan kirim apapun kecuali pesan."


Yudha segera masuk ke lift dan meninggalkan lantai sepuluh.