Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 86. Kejutan


Banyak luka yang ditorehkan pak Juli. Banyak pula kisah manis yang ditanam untuk bu Fatimah dan Lintang. Hiruk pikuk rumah tangga yang pernah dialami membuat bu Fatimah bisa menilai dan memahami. 


Bukan kejahatan dibalas dengan kejahatan, bu Fatimah hanya butuh waktu untuk memantapkan hati. Meyakinkan diri ke mana hatinya berlabuh. Menyandarkan bahu di masa tua nya. 


Bu Fatimah mengambil koper dan membukanya. Memasukkan beberapa baju yang ada di lemari. Meskipun sedikit ragu, tangannya terus bergerak hingga tak menyisakan isi lemari. 


Duduk di tepi ranjang. Menatap ke arah ruang jendela. Tersenyum mengingat putrinya yang kini sudah bahagia bersama orang yang dicintai. Tidak ada halangan untuk dirinya pergi, namun hatinya masih sedikit berat meninggalkan rumah Lintang. 


"Kasihan mas Juli, bagaimanapun juga dia masih menjadi suamiku. Aku wajib melayaninya. Menyiapkan semua yang ia butuhkan." 


Bu Fatimah menarik kopernya lalu keluar. 


Lintang dan Yudha yang ada di ruang keluarga itu pun menghampiri Bu Fatimah. Keduanya menatap koper sang ibu lalu saling tatap. 


"Ibu mau ke mana?" tanya Lintang dengan cemas. 


"Ibu mau pulang ke rumah lama, kasihan ayah kamu di rumah sendirian." 


Itulah hati seorang istri, se benci apapun nuraninya tetap hidup. Rasa tak tega seakan menguasai jiwanya yang lembut. Hingga selalu mengambil keputusan dengan hati.


Lintang menatap Yudha sekilas selalu kembali pada sang ibu. Memeluknya dengan erat. Ia tidak pernah memberatkan. Apapun pilihan bu Fatimah akan disetujui asalkan bahagia. 


"Aku tidak pernah memaksa ibu untuk meninggalkan ayah ataupun kembali padanya. Tapi kalau ini pilihan yang terbaik aku akan selalu mendukung." 


Bu Fatimah berusaha tegar. Meskipun hatinya belum sepenuhnya terbuka, tetap saja ia tak memungkiri jika saat ini sedikit khawatir dengan suaminya. 


"Kamu dan Yudha sudah bahagia. Jadi ibu tidak khawatir lagi dengan masa depanmu."


"Apa tidak sebaiknya ibu dan ayah tinggal disini?" saran Yudha. 


Bu Fatimah menggeleng tanpa suara. Pergi dari rumah itu artinya ia pun ingin pindah dengan kehidupan baru. Bukan menopang pada sang menantu. 


Yudha melingkarkan tangannya di pinggang langsing Lintang. 


"Kalian jangan bertengkar. Jangan sakiti Lintang. Hati perempuan itu rapuh. Sedikit saja tersakiti, rasa itu akan selalu membekas sampai kapanpun. Jaga dia dengan baik, seperti saat ibu menjaganya dari kecil," pinta bu Fatimah yang membuat hati Yudha terenyuh. 


"Ibu tenang saja, aku akan membahagiakan Lintang. Setelah aku mengucapkan qabul, itu artinya dia tanggung jawabku," imbuh Yudha membuat Bu Fatimah lega. 


Yudha dan Lintang mengantarkan bu Fatimah. Tak lupa, Lion pun ikut bersama mereka. Meskipun tubuhnya sudah lelah dengan pekerjaan dan permintaan aneh-aneh sang istri, Yudha tetap semangat demi mertuanya. 


Setibanya di halaman rumah pak Juli, Lion langsung berlari dan mengetuk pintu, sedangkan yang lain masih sibuk mengeluarkan barang bawaannya. 


Ceklek 


Pintu terbuka lebar 


Pak Juli yang memakai peci itu langsung menggendong tubuh mungil Lion. 


"Opa belum tidur?" tanya Lion saat pak Juli mengangkat tubuh mungilnya. Ia bergelayut manja menyandarkan kepalanya di dada sang opa. Entah, Lion memang suka bermanja pada seluruh keluarganya. Hanya saja pak Radit sibuk dan tak punya waktu untuk santai bersama. 


"Belum ngantuk," jawabnya menatap Yudha yang menghampirinya lebih dulu, lalu beralih Lintang dan Bu Fatimah yang menyusul dari belakang. 


"Ada apa ini, tumben kalian ke sini?" tanya pak Juli cemas, ia mulai takut melihat wajah Lintang  yang penuh teka-teki. 


"Ibu mau tinggal dengan ayah," ucap Bu Fatimah lirih. 


Pak Juli termangu, seakan tak percaya dengan ucapan Yudha. Menatap istrinya dengan tatapan sendu. 


Jika mengingat kala itu, penyesalan pak Juli tiada ujung. Setiap malam harus bersujud dan menangis. memohon ampunan. Seakan tidak ada manusia yang lebih hina dari dirinya di dunia. 


Buliran bening lolos membasahi pipi keriput pak Juli. Rasa syukur tercurah dalam hati mendengar pernyataan itu. 


"Silakan masuk!" Pak Juli menggeser tubuhnya memberi ruang untuk yang lain ke dalam. 


"Kebetulan ayah juga sudah masak banyak." 


Lintang mengikuti langkah pak Juli menuju ruangan makan. Ia rindu kehangatan keluarga yang lama. Meskipun hidup sederhana, ia tetap bahagia. 


Lintang menatap nanar ke arah menu makanan yang tersaji. Sebagai seorang anak, hatinya ikut teriris, pasti ayahnya sangat kesusahan saat makan. Harus memasak sendiri dan membeli semuanya sendiri. Mencuci baju baju pun sendiri bagaikan angka satu. 


"Maafkan Lintang, Ayah." 


Lintang berhamburan memeluk sang ayah. Tangisnya pecah, ternyata sikap angkuhnya selama ini menciptakan sebuah penyesalan. 


Pak Juli mengusap pucuk kepala Lintang. Pelukan itu yang ia dambakan. Setelah sekian lama hilang, akhirnya keluarganya kembali. Malam yang sebelumnya dibalut dengan kesepian kini terasa indah tiada tara. 


"Kamu nggak salah, Nak. Ayah yang salah sudah meninggalkan kamu dan ibu. Kalian pantas marah dan membenci ayah." 


Yudha yang ada di ruang tamu hanya diam mendengarkan percakapan antara Lintang dan pak Juli. 


Bu Fatimah masuk ke kamar dengan Lion yang mengikutinya dari belakang. Di manapun berada, bocah itu tetap aktif dengan aksi lucunya. 


Lion langsung naik ke atas ranjang. Melompat-lompat kegirangan lalu tertawa saat mendengar decitan ranjang yang menurutnya menyenangkan. 


"Oma, Lion mau tidur disini, boleh?" tanya Lion polos. 


Bu Fatimah meletakan tas nya lalu menghampiri Lion. 


"Di sini panas, Nak. Tidak ada ac nya. Lebih baik Lion pulang sama mama dan papa."


Lion memanyunkan bibirnya. "Di rumah papa ranjangnya tidak berbunyi, Oma." 


Yudha yang masih bisa mendengar ucapan Lion hanya menahan tawa, entah yang keberapa kali Lion membuatnya malu. Bahkan saat ini lebih malu daripada kemarin di rumah Gita. 


"Justru yang tidak berbunyi itu yang nyaman, Sayang." 


Bu Fatimah masih membujuk dengan halus. 


Lion berbaring lalu menarik selimut. Menggerak-gerakkan tubuhnya hingga bunyi krik krik  itu terus terdengar. 


Yudha beranjak dari duduknya. Berdiri di ambang pintu kamar bu Fatimah. Matanya menatap rangkaian besi yang nampak lapuk itu. 


"Lion mau ranjang seperti punya oma?" tanya Yudha antusias. 


Lion mengangguk menampakkan wajahnya yang masih cemberut. 


"Kalau begitu biar ranjang oma dibawa pulang, nanti papa beli ranjang baru buat oma dan opa, Lion setuju, nggak?" 


Bocah itu mengangkat jempolnya dan kembali beraksi. 


"Ayah, bantuin ibu," teriak Bu Fatimah dari balik kamar. 


Yudha keluar saat pak Juli datang. Memberi kesempatan sang mertua untuk bisa berduaan. 


Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar Bu Fatimah dibuka dari luar. 


Lintang mematung di depan pintu dengan membawa kue tart di tangannya. 


Nyanyian ulang tahun menggema membuat suasana semakin ramai. 


"Selamat ulang tahun yang ke lima puluh lima, Ayah," ucap Lintang mengharukan.