Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 91. Kabar buruk


Lintang menumpahkan air matanya yang hampir mengering itu di pelukan Bu Indri. Mata ketiga wanita itu sembab dan memerah. Mimah membawa Lion masuk, menghindari mereka yang masih tenggelam dalam duka. Berharap hadirnya Yudha di tengah-tengah keluarga. 


"Mas Yudha, Ma __" Lintang tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia ingin menjerit mengingat suaminya saat ini. Seakan separuh jiwanya hilang ditelan bumi.


Bagaimana keadaannya, hidup ataukah mati, pasti akan kedinginan lagi seperti semalam. Lintang takut, orang yang melindunginya akan pergi untuk selama-lamanya. 


Lintang tak bisa membayangkan jika suaminya tidur di tempat itu lagi. Pasti Menyeramkan dan menakutkan. 


"Mama tahu, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Serahkan semuanya pada Allah, tetap berdoa supaya Yudha cepat ketemu." 


Lintang masuk dengan langkah pelan. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihan yang meliputi. Meskipun harapannya besar, tetap saja hatinya gelisah. 


Lintang langsung ke kamarnya. Meninggalkan bu Indri dan bu Fatimah. Ingin menyendiri untuk menenangkan diri. Ia menutup pintu. Menatap nanar ke arah foto pengantin yang terpajang di dinding kamar. Kakinya mengayun dan berdiri di depan gambar itu. Tangannya mengulur, menyentuh wajah sang suami yang tersenyum ke arahnya.


"Cepat pulang, aku merindukanmu." Lintang mengucap dengan bibir bergetar. Menahan dadanya yang terasa sesak. 


Sayang sini! 


Suara Yudha terngiang-ngiang di telinga Lintang. Meskipun kamar itu bukan tempat mereka bergulat, tetap saja ia seperti melihat sang suami yang berbaring di ranjang dengan telanjang dada. Tersenyum dan terus menggoda nya. Memberikan candaan mesum yang membuat dirinya terlena. 


Lintang membuka lemari mengambil piyama milik Yudha lalu memakainya.


"Awas saja kalau pulang, aku akan memaki mu," ucapnya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Mendekap foto Yudha di dadanya. Memejamkan mata, berharap saat terbangun nanti, Yudha sudah berada di sisinya.


Malam begitu cepat berlalu, Lintang melompat dari tempat tidur. Ia berlari ke kamar mandi lalu menjalankan kewajibannya. 


Sekilas ia menangis tersedu-sedu. Lalu, bangkit lagi dan tersenyum. 


"Pasti mas Yudha pulang pagi ini."


Tanpa melipat mukenanya, Lintang berlari menuju dapur. Meminta semua pembantu Bu Indri untuk membantunya memasak makanan kesukaan Yudha. 


Lintang menata makanan di meja makan. Senyumnya terus merekah saat Bu Indri menghampirinya. 


"Kamu ngapain, Nak?" tanya bu Indri bingung. 


Lintang tersenyum, menuang susu kedelai, minuman favorit Yudha. "Menyiapkan makanan untuk mas Yudha, Ma," jawabnya santai. 


Hati siapa yang tak tersayat mendengar itu. Bu Indri tak sanggup lagi untuk mengucap, ia duduk tanpa kata. Menatap beberapa menu makanan yang ternyata memang kesukaan putra tercinta. 


Lalu meraih tangan Lintang yang menyiapkan puding berbentuk hati di meja biasa Yudha makan. 


"Yudha belum ditemukan, Nak." 


Lintang menghempaskan tubuhnya yang lemas seketika. Ia pikir semua itu hanya mimpi. Lintang bahkan masih yakin jika Yudha pergi bekerja dan akan pulang lagi. 


Ternyata hidupnya tak seindah mentari pagi ini yang menghangatkan. Lintang tergugu dan membenamkan wajahnya di meja makan. 


"Kamu yang sabar, mama yakin sebentar lagi Yudha pasti ketemu," ucap Bu Indri meyakinkan. 


"Ma, aku mau ikut mencari mas Yudha," ucapnya di sela-sela tangis. 


Bu Indri langsung memeluk Lintang dengan erat. Mengecup pucuk kepalanya berulang kali. 


Entah harus bagaimana menjelaskannya, Bu Indri kehabisan kata-kata, sedangkan Bu Fatimah menggendong Lion dan membawanya ke arah taman. Ia pun tak sanggup jika harus melihat keadaan Lintang yang masih sok. 


"Kak Lintang…" Suara berat memanggil nama Lintang dari ambang pintu. 


Lintang mengusap air matanya. Berlari kecil menghampiri pria yang baru saja datang. 


"Bian," sapa Lintang tersendat.


Tak sungkan, Bian memeluk Lintang dengan erat. Memberikan kekuatan untuk bisa menyangga beban yang diderita sang kakak. 


"Maaf, Kak. aku baru datang," ucap Bian merasa bersalah. 


"Mama sakit, aku harus jagain dia, dan tadi aku mau ikut mencari kak Yudha, tapi pak Andreas bilang aku disuruh jagain, Kakak," ujarnya lagi menjelaskan. 


Lintang menatap Bu Indri yang ada di ruang makan. Lalu menatap Bian lagi. Sepertinya pria itu adalah jalan bagi dirinya untuk bisa datang ke tempat kecelakaan. 


"Antarkan aku mencari mas Yudha," pinta Lintang dengan penuh penekanan. 


Bian hanya mengangguk setuju. 


Tanpa pamit pada sang ibu, Lintang pergi bersama Bian, tak peduli dengan apapun, yang pasti ia ingin segera bertemu dengan Yudha kembali. 


Setibanya di lokasi, Lintang langsung turun. Ia berdiri di samping garis polisi. Tubuhnya lunglai mengingat tragedi malam itu. Bahkan teriakan Yudha yang memanggilnya dengan sebutan, 'sayang', masih menghiasi telinganya. 


"Kalau kamu ingin berpisah, kenapa malam itu kamu memelukku, seharusnya kamu membiarkan aku terbakar di dalam mobil, Mas. Di mana kamu sekarang? Apa kamu tidak merindukanku, kamu pernah bilang akan menemaniku saat lahiran, cepat pulang, aku menunggumu."


Bian ikut berderai air mata. Tak menyangka sang kakak lebih kacau dari yang ia pikirkan. 


"Aku yakin kak Yudha pasti akan kembali, Kak. Semua hanya butuh waktu, kita harus sabar dan berdoa."


"Semua orang bilang seperti itu, tapi apa? Mereka tidak bisa menemukan Mas Yudha," bentak Lintang pada Bian, kali ini dadanya meletup memendam amarah karena belum ada hasil. 


"Sudah dua malam mas Yudha di sana." 


Menunjuk jurang di mana ia dan Yudha terjun. 


"Dia pasti kedinginan, berteman duri dan ranting, tapi aku malah tidur enak di rumah. Istri macam apa yang tidak bisa menemani suaminya."


Lintang menjambak rambutnya, namun langsung dicegah oleh Bian. 


"Kakak jangan bicara seperti itu, tidak ada istri terbaik selain kakak dan ibu, kalian perempuan yang hebat. Aku yakin kak Yudha akan segera di temukan, kita harus sabar."


Bian menggiring Lintang ke mobil. Ia terus menjaganya, tak ingin Lintang tiba-tiba khilaf dan lari.


Sebuah rombongan datang. Lintang dan Bian berlari menghampiri mereka. 


"Bagaimana, Pak. Di mana suami saya?" tanya Lintang antusias. 


Semua polisi itu saling tatap. Mereka membius bibirnya. Menatap ke arah Andreas yang berdiri di tepi jurang. 


Wajah Pria itu tertunduk lesu dengan sebuah kantong kresek di tangannya. Penuh teka-teki yang membuat hati Bian menciut. 


Lintang tersenyum. Berlari menghampiri Andreas, ia tak mau membaca guratan cemas di wajah pria itu. Yakin jika sang asisten membawa kabar baik. 


"Di mana mas Yudha, Pak? Saya yakin bapak sudah menemukan mas Yudha, kan?" Lintang penuh harap sambil tersenyum renyah. 


Mata Andreas berkaca. Ia bingung harus berkata apa pada Lintang. 


Pak Juli dan Pak Radit menghampiri Lintang dan merengkuhnya dari belakang.


Hening


Hanya suara Lintang yang terus mengomel membuat hati semua orang semakin teriris. 


"Hanya ini yang bisa saya bawa, Bu." Mengangkat kantong keresk di depan Lintang. 


Saking penasarannya, Lintang langsung membukanya. Ia menjewer baju Yudha yang robek. 


"Lalu, di mana mas Yudha? Ini hanya bajunya."


Andreas diam seribu bahasa. 


Satuan polisi datang dan hormat di depan Lintang. 


"Maaf, Bu. Kemungkinan besar pak Yudha terbawa arus. Kami sudah menyisir sungai sampai ke laut, tapi kami tidak menemukannya." 


Seketika itu juga Lintang ambruk di dekapan ayah dan mertuanya.