Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 65. Minta cerai


Lintang membuka kedua tangan Bu Fatimah yang mengepal sempurna. Ada guratan kekecewaan di wajah sang ibu. Matanya berkaca menandakan jika rasa sakit yang mengendap itu kembali muncul. Apalagi pak Juli nampak bahagia dengan keluarganya dan itu pun membuat Lintang tak terima. 


"Ayo, Bu! Kita masuk, Mas Yudha sudah menunggu," ajak Lintang dengan lembut. Menggeser tubuhnya saat ada pengunjung yang melintas. 


Hahaha


Suara tawa menggema dari meja Pak Juli. Seolah-olah tak ada beban sedikitpun. melupakan orang yang pernah menemaninya dari nol. Menyerahkan jiwa raga juga masa mudanya hanya untuk mengabdi pada dirinya. 


"Kalau ibu seperti ini terus, ayah akan menertawakan kita, bangkitlah. Lupakan ayah dan semua masa lalu. Biarkan dia hidup di atas penderitaan kita. Aku yakin Allah maha adil. Tunjukkan pada ayah kalau ibu juga bisa bahagia tanpa dia." 


Mata Lintang berkaca. Tak kuasa melihat kehancuran ibunya yang terus menghantui. Seandainya dirinya yang ada di posisi bu fatimah, juga belum tentu bisa menjalani semuanya. 


Bu Fatimah mencoba meredakan dadanya yang terasa hampir meledak. Benar apa kata Lintang, ia harus berdiri dan  menjadi wanita yang kuat. 


"Sayang, Ibu," sapa Yudha yang baru saja keluar. 


Beberapa pengunjung yang sedang menikmati hidangannya menoleh, menatap Yudha yang mengeraskan suaranya. Begitu pula dengan pak Juli sekeluarga, mereka menyadari suara yang tak asing itu. 


Yudha, Fatimah, Lintang. 


Pak Juli beranjak, menatap ke arah Yudha yang merangkul pundak istri pertama nya. Dalam hati ingin menyapa, namun diurungkan nya mengingat sang menantu bukan orang sembarangan yang bisa didekati. 


"Ada ayah." 


Lintang mengucap tanpa suara. Yudha melirik sekilas ke arah pria tua yang masih menatap nya. 


"Andreas," panggil Yudha pada sang asisten.


Andreas mendekati Yudha yang kini menjadi pusat perhatian semua pengunjung. Di bawah sinar lampu yang menggantung indah ia terus memeluk ibu mertuanya. 


"Katakan pada pak Anka, kalau aku ingin membeli restoran ini. Berapapun harga nya, aku akan membelinya untuk ibu mertuaku."


Ekspresi yang berbeda saat mendengar pernyataan itu. Ada yang melongo, ada juga yang kagum, tepuk tangan riuh menggema, salut pada Yudha yang memberikan hadiah semahal itu pada Bu Fatimah. 


Beberapa menit kemudian, Andreas kembali dengan membawa sebuah keberhasilan. Ia mampu mendapatkan tempat itu meskipun dengan harga yang fantastis. 


Yudha melepaskan pelukannya. Merangkul Lintang dan Bu Fatimah. menghadap ke arah beberapa tamu yang nampak menikmati hidangannya. 


"Perkenalkan, nama Saya Yudha Anggara, ini istri saya." Menunjuk Lintang yang ada di sisi kanannya. "dan ibu mertua saya." Menunjuk Bu Fatimah yang sedikit menunduk menghindari tatapan keluarga suaminya. 


"Kak Lintang…" Bian melambaikan tangannya ke arah Lintang yang langsung disambut baik sang empu.


Pak Juli hampir saja melangkah, namun gagal saat istri siri nya itu menarik kemejanya. 


"Malam ini, restoran ini resmi atas nama ibu Fatimah." Menunjukkan sertifikat asli yang kini menjadi hak kuasanya. 


Tepuk tangan kembali terdengar. Bu Fatimah sedikit bingung, namun ia harus tetap terlihat tegar dan bahagia, Tidak boleh terpuruk dengan keadaan. 


"Sebentar, aku mau menemui ayahnya Lintang."


Bu Fatimah berjalan pelan menghampiri meja suaminya. Ia tersenyum, mengulurkan tangannya ke arah Pak Juli, bagaimanapun juga mereka masih terikat dalam sebuah pernikahan yang sah secara agama dan negara. 


Pak Juli menerima uluran tangan itu, sedangkan Bu Fatimah langsung mencium punggung tangan sang suami.


Sentuhan hangat dan lembut yang dulu sering menyapa saat berangkat dan pulang kerja itu terasa kembali. Kenangan indah yang tenggelam di dasar jurang melintas di otaknya.


Lintang dan Yudha hanya bisa melihat dari jauh. Meskipun sedikit khawatir, ia yakin kali ini bu Fatimah bijak dan tidak akan membuat keributan. 


Bu Fatimah memutar tubuhnya. Mengusap air matanya yang lolos. Menelan pil pahit mengingat masa tuanya yang harus hidup tanpa seorang suami. 


Kembali melangkah menghampiri Lintang dan Yudha. 


"Kita masuk, ibu lapar."


Yudha dan Lintang menggiring bu Fatimah ke ruangan yang mereka pesan.


Setelah pulang dari restoran, Pak Juli masuk ke dalam kamar dan tak menghiraukan panggilan dari Sovia. 


Menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Menatap bayangannya sendiri dari pantulan cermin. 


Menjambak rambutnya sekuat tenaga hingga beberapa helai tersangkut di jarinya. Menangis tergugu dan ambruk di lantai. 


"Apa yang sudah aku lakukan?" 


Memukul dadanya dengan keras dan sesekali membentur kepalanya di ranjang. Terus merutuki kebodohannya yang sudah mengabaikan istri dan putrinya. 


Awal pernikahan yang terlewati dengan indah, namun berakhir dengan sebuah perpisahan. Keserakahan yang ia miliki kini harus kehilangan semuanya. Termasuk istri baik yang ia pilih dengan hati, bukan harta. 


Permintaan cerai dari Bu Fatimah seakan menusuk hingga jantung hati dan menghancurkan seluruh organ tubuh pak Juli. 


Di luar kamar


Indira hanya bisa mendengar kemarahan mamanya yang ditujukan untuk sang papa. Saking tak betahnya, Bian yang ada di ruang tengah itu pun menghampiri Sovia. 


"Bisa nggak sih? Mama itu tidak menjelekkan kak Lintang. Bagaimanapun juga dia itu adalah anak papa," Bian membela Lintang. 


"Sejak kapan kamu berani melawan mama," sergah Sovia pada Bian yang berdiri di depannya. 


"Sejak jalan hidup mama salah, tapi menyalahkan orang lain." 


Sebuah tamparan mendarat di pipi  kokoh Bian. Pria itu hanya mengelus pipinya yang terasa nyeri dan sedikit memerah. 


"Kamu itu belum tahu apa-apa tentang kehidupan, jadi nggak usah ngajarin mama."


"Dulu aku memang nggak ngerti karena masih kecil. Tapi sekarang aku sudah tahu, kalau mama hanya perempuan yang merebut suami orang."


"Dasar anak tidak tahu diri." Mendorong tubuh Bian hingga jatuh tersungkur. 


"Kakak nggak boleh bicara seperti itu." Indira ikut menyahut. 


"Mama yang sudah membesarkan kita, Kak. Tanpa mama kita tidak bisa seperti ini. Kak Lintang dan ibunya saja yang tidak bisa menjaga papa dengan baik. Mereka itu kampungan."


"Jaga bicara kamu!" bentak Bian pada sang adik. 


Indira langsung berlari dan berlindung di balik punggung mamanya. 


Bian bangkit, mendekati Indira dan mamanya.


"Jangan sekali-kali kamu menghina kak Lintang, kalau bukan karena dia, mungkin kamu sudah meninggal. Kak Lintang yang menyumbangkan darahnya untuk kamu. Dia yang sudah merelakan darahnya mengalir di tubuh kamu. Jadi aku harap, kamu sadar, kalau mama memang salah, bukan kak Lintang dan ibunya."


Setelah menjelaskan panjang lebar, Bian keluar dari rumah untuk menjernihkan otak yang selalu keruh memikirkan keluarganya.