
Lintang melepas mukena dan melemparnya dengan asal. Mengikat rambut, dan berlari ke kamar Yudha. Menyelimuti Lion yang masih meringkuk memeluk guling.
Menatap kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemericik air menggema menandakan jika Yudha belum selesai mandi. Atas permintaan Lion, semalam Lintang tidur di kamar itu. Meski begitu, ia sudah memasang pengaman supaya tidak terjebak dalam peristiwa yang belum diinginkan. Meminta Yudha untuk tidur di sofa setelah Lion terlelap.
Lintang menghampiri kamar mandi. Mengangkat tangan dan mengetuk pintunya.
Yudha membuka pintu sedikit dan menampakkan kepala. Rambutnya masih dipenuhi busa sampo dengan mata yang sedikit menyipit.
"Ada apa, Sayang? Aku buru-buru, keburu waktu subuh habis," ucap Yudha sambil menggosok badannya.
"Mau sarapan pakai apa?" tanya Lintang cepat tanpa menatap.
"Nggak usah, nanti sarapan di kantor saja, lebih baik kamu siap-siap, bangunin Lion juga," titah Yudha.
Lintang mengusap lembut pipi Lion dan menciumnya berulang kali. Menggoyang-goyangkan tangan mungilnya dengan pelan dan berbisik.
"Katanya hari ini mau sekolah, cepetan bangun, nanti terlambat."
Tak henti-hentinya Lintang terus mengganggu ketenangan sang buah hati yang masih tenggelam di alam mimpi.
"Nanti, Ma," jawab Lion dengan mata yang masih terpejam.
Lintang memutar otak, mencari cara yang jitu untuk membangunkan bocah itu.
"Kalau nanti, berarti di mandiin mbak Mimah ya. Mama mau ke kantor."
Seketika mata Lion terbuka lebar. Menatap Lintang dengan lekat. Bibirnya terus tersenyum dan sesekali mengusap-usapkan hidungnya di pipi gembul Lion.
Lion menyibak selimut lalu turun. Yudha keluar dari kamar mandi, matanya langsung tertuju pada baju koko yang sudah berada di atas sajadah.
"Kamu yang siapin ini semua, Sayang?" Pura-pura bertanya, padahal ia sudah tahu kalau Lintang lah pelakunya, siapa lagi yang berani ke kamarnya selain istri tercinta dan putranya.
"Nggak, tadi bi Siti yang siapin," kilah Lintang melewati tubuh Yudha. Menutup kamar mandi saat Lion sudah masuk lebih dulu.
Perlahan tapi pasti.
Semua sudah siap, Lion masuk ke mobil bersama mbak Mimah. Melambaikan tangannya ke arah Lintang dan Yudha yang ada di teras depan. Ini menjadi perpisahan mereka yang pertama semenjak tinggal di rumah sendiri.
Setelah mobil yang ditumpangi Lion menghilang, sebuah mobil pick up datang dari arah gerbang. Diikuti mobil mewah dari belakangnya.
Lintang menatap sebuah motor sport yang ada di atas mobil itu lalu beralih menatap Andreas yang berjalan menghampiri suaminya.
"Maaf, Pak. Saya terlambat," ucap Andreas memberikan beberapa lembar kertas di tangan Yudha.
"Tidak apa-apa, yang penting datang."
Lintang hanya diam mendengar pembicaraan dua orang laki-laki itu serta sopir.
Ternyata mas Yudha beli motor baru, tapi untuk siapa. Bukankah ada dua mobil di garasi, pemborosan.
Lintang hanya bergumam sendiri dalam hati melihat suaminya yang sesuka hati membeli apapun.
Lintang masuk ke dalam rumah. Menyiapkan kebutuhannya sebelum berangkat. Disusul Yudha yang nampak sibuk dengan beberapa dokumen.
"Pak, saya berangkat dulu," pamit Lintang.
"Duduk dulu, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Yudha menggeser map yang ada di depannya itu di depan Lintang.
Sertifikat rumah
Lintang membaca dalam hati. Melirik ke arah Yudha yang cengengesan.
"Kenapa, apa ada yang lucu?"
Lintang mengusap bibir dengan ujung jarinya, takut jika lipstik nya lah yang membuat Yudha tertawa.
"Tidak, pagi ini kamu cantik," puji Yudha membuat Lintang tersipu malu.
"Maaf saya terlambat." Lintang memalingkan tubuh.
Seketika Yudha meraih tangan gadis itu, menghentikan kakinya yang hampir melangkah.
"Simpan ini."
"Apa ini?" tanya Lintang tanpa membukanya.
"Sertifikat rumah, aku sudah mengalihkannya atas nama kamu. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan. Setelah sembuh nanti, ibu akan tinggal di sini bersama kita."
Mata Lintang berkaca, tak bisa berkata apa-apa lagi, ia merasakan ada ketulusan dari ucapan Yudha.
"Sekarang berangkatlah, nanti aku nyusul."
Setelah menyimpan pemberian Yudha, Lintang langsung keluar, sejenak mengamati motor mewah yang terparkir di samping motor miliknya.
Sesampainya di kantor, Lintang memarkirkan Motornya di tempat biasa, melepas helm yang dipakai. Memasukkan kuncinya di tas. Baru saja turun, sebuah motor sport berhenti di samping motor miliknya, bukan kuda besi yang membuatnya terbelalak, namun sang penumpang yang tersenyum padanya.
"Bapak," seru Lintang tanpa sadar membuat beberapa orang yang ada di sekitar itu menoleh lalu bertepuk tangan, kagum dengan tampilan baru Yudha.
"Keren nggak?" tanya Yudha menaik turunkan alisnya.
Lintang menoleh ke kanan kiri lalu menatap Yudha lagi.
"Nggak lucu, siapa yang suruh Bapak naik motor?" cetus Lintang berbisik.
"Aku tidak akan naik mobil kalau kamu juga nggak mau naik mobil."
"Terserah."
Lintang berlari menuju pintu depan. Lagi-lagi langkahnya terhalang sosok yang sangat familiar mematung di depan resepsionis.
Bu Natalie, ngapain dia di sini?
Daripada terkena masalah yang berakhir rumit, Lintang mengabaikan wanita itu.
"Tunggu!" panggil Natalie sedikit lantang.
Gawat, Bu Natalie tau nggak ya, kalau aku sudah menikah dengan Pak Yudha, mudah-mudahan dia nggak tahu.
"Mana Lion?" tanya Natalie ketus.
"Maaf, Bu. Lion tidak ikut saya, silahkan ibu tanya pada pak Yudha," jawab Lintang dengan suara lirih, takut semua orang tahu apa yang dibahas dengan mantan istri suaminya.
Yudha yang baru membuka pintu pun mendekati Lintang.
"Ada apa ini?" tanya Yudha pada Lintang.
"Bu Natalie menanyakan Lion, Pak. Saya memintanya untuk menanyakan langsung pada, Bapak."
"Hari ini Lion sekolah, memangnya kenapa?" tanya Yudha.
Beberapa karyawan pun pergi setelah menyapa Yudha, mereka tak ingin ikut campur dengan urusan bos nya.
Gita melihat Lintang dan Yudha yang berdiri bersejajar lalu menatap Natalie yang nampak marah-marah.
"Kamu pindah rumah, tapi nggak bilang ke aku, apa kamu berusaha memisahkan aku dari Lion?"
Natalie sudah tak bisa membendung amarahnya setelah mendengar Yudha pindah. Baginya itu adalah tindakan yang keterlaluan.
"Memisahkan? Bukannya kamu sendiri yang menciptakan ini semua. Kamu yang membuat Lion berpaling. Seharusnya kamu intropeksi diri, silakan pergi dari sini sebelum aku menyuruh satpam untuk mengusirmu?"
Yudha menunjuk pintu depan. Wajahnya berapi-api menahan dadanya yang meletup-letup. ia tak mau berdebat lebih lama lagi dengan Natalie.
Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku menenangkan mas Yudha di sini.
Natalie menghentak-hentakan kakinya lalu meninggalkan kantor Yudha dengan hati kesal.
"Silakan, Pak!" Lintang mempersilakan Yudha menuju lift. Setelah keduanya berada di dalam, Lintang memberanikan diri untuk memeluk Yudha, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Mendengar detak jantung suaminya yang sedikit memburu.
"Jangan emosi, tenangkan pikiran, Bapak. Lupakan kejadian tadi, anggap saja bapak tidak pernah bertemu dengan Bu Natalie," pesan Lintang menepuk punggung Yudha.
Baru saja ingin membalas pelukan Lintang, pintu lift terbuka membuat Lintang panik dan melepas pelukannya dengan cepat.