Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Lelaki misterius 2


Hari sudah pagi, Tuan Angga terbangun dari tidurnya. Dia tertidur di sofa semalaman.


" Febby .... " nama itu yang langsung diingatnya. Dia langsung teringat dengan Febby. Tuan Angga bergegas membuka pintu kamar mandi. Dan betapa terkejutnya dia mendapati Febby yang duduk bersandar di lantai kamar mandi, dia tertidur di kamar mandi.


" Febby, bangun .... " ucap Tuan Angga datar membangunkan Febby, namun tak ada jawaban. Tuan Angga lalu mendekati Febby, menyentuh tubuhnya berniat untuk membangunkan.


" Tubuhnya panas sekali, kau demam, " ucap Tuan Angga spontan saat menyentuh tangan Febby. Lalu bergantian memeriksa keningnya, tubuhnya sangat panas.


Tuan Angga langsung membopong Febby, merebahkannya di ranjang. Dia mengganti pakaian Febby yang basah lalu mengompresnya.


Sambil menunggu Febby sadar, Tuan Angga memesan sup hangat untuk Febby. Tuan Angga menatap lekat wajah Febby, ada penyesalan dalam dirinya. Namun dia tetap tidak dapat menahan amarahnya saat mengetahui Febby memiliki hubungan dengan laki laki lain dibelakangnya.


Andai saja kau tidak menghianatiku, aku tidak mungkin melakukan ini padamu. Apa kau tahu? aku sangat mencintaimu, tapi inikah balasanmu?


Tuan Angga bergumam sendiri, sorot matanya tidak dapat berbohong bahwa hatinya sangat terluka.


" Aduh ... kepalaku pusing, " ucap Febby tiba tiba membuyarkan lamunan Tuan Angga.


" Kau sudah sadar? jangan banyak bergerak, berbaringlah dan makan sup ini selagi masih hangat, " ucap Tuan Angga lembut pada Febby.


" Kau tidak perlu melakukan ini padaku. Aku bisa sendiri, " Febby menolak makan sup yang Tuan Angga siapkan untuknya.


" Kau jangan keras kepala, kau sedang sakit jadi turunkan sedikit egomu, " Tuan Angga mulai sedikit kesal.


" Aku ingin pulang. "


" Kita baru sampai disini tadi malam. Mana mungkin sekarang kita pulang, jangan buat Mama kecewa, " ucap Tuan Angga menolak ajakan Febby.


" Tapi aku ingin pulang, aku tidak mau disini, " Febby masih tetap ngeyel bersikeras ingin pulang.


" Prang .... " suara mangkuk pecah yang dilempar oleh Tuan Angga.


" Jangan buat kesabaranku habis! " Tuan Angga sudah mulai marah, tatapannya tajam.


Namun itu tak membuat Febby takut. Febby justru turun dari ranjang berniat ingin pulang. Dengan sigap Tuan Angga langsung menarik tangan Febby dan menghempaskan Febby ke ranjang.


" Apa yang akan kau lakukan, apa kau berniat untuk pergi dari sini? kau tidak bisa lari dariku, " ucap Tuan Angga ketus dengan tatapan tajam yang menakutkan. Membuat siapapun yang menatapnya pasti bergidik ngeri.


" Sebenarnya apa salahku! aku benar benar tidak pernah memiliki hubungan dengan laki laki lain! " teriak Febby dengan isak tangisnya.


Siapa yang harus aku percaya? dia atau bukti foto itu? aku harus selidiki ini, aku tidak ingin mengambil keputusan yang salah. Aku tidak ingin kehilangan Febby apapun yang terjadi.


" Aku akan cari bukti sendiri kau jujur atau berbohong. Kali ini kau diam disini, aku akan mengompresmu sambil menunggu sarapan kita datang, " ucap Tuan Angga datar. Febby diam dan langsung menggeser tubuhnya menjauhi Tuan Angga.


" Tok ... tok ...ceklek .... " suara itu mengagetkan mereka berdua. Lalu masuk pelayan hotel membawa nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.


" Maaf Tuan, Nyonya, saya mengganggu. Saya hanya mengantarkan sarapan pagi kalian, " ucapnya sopan.


" Iya taruh saja di meja. Dan tolong bersihkan pecahan mangkuk itu, " ucap Tuan Angga pada pelayan itu sembari menunjuk kearah pecahan mangkuk itu.


" Baik Tuan, " pelayan itu langsung membersihkan pecahan itu.


" Sudah Tuan, ada lagi yang perlu saya bantu? " ucap pelayan itu sopan.


" Tidak ada, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang, " ucap Tuan Angga datar tanpa menatap ke arah pelayan itu.


" Baiklah, saya permisi dulu Tuan, " pelayan itu lalu pergi.


" Sekarang makanlah, aku akan menyuapimu. Kau harus mau perutmu harus di isi, " ucap Tuan Angga lembut sambil menyuapi Febby.


" Febby mengiyakan perintah itu. Setelah selesai menyuapi Febby Tuan Angga bergegas pergi ingin membeli obat untuk Febby.


" Pintar, kau menghabiskan sarapanmu. Coba saja kau selalu jadi orang yang penurut, aku pasti akan lebih memanjakanmu. Ya sudah aku pergi dulu sebentar ke Apotek, beli obat buat kamu, " ucapnya seraya bangkit dari duduknya.


" Kau tidak sarapan dulu? " ucap Febby tiba tiba menghentikan langkah Tuan Angga.


" Aku akan makan nanti setelah pulang dari Apotek. Kau istirahat saja dulu, tunggu aku kembali, " ucapnya sambil tersenyum hangat pada Febby lalu pergi.


Dia itu meskipun menyebalkan dan juga kasar tapi dia sangat perduli denganku. Apa dia benar benar cemburu? tapi ... perlakuannya sangat kasar.


Sampai Tuan Angga pulang dari Apotek Febby masih tertidur. Tuan Angga membiarkannya tertidur.


Hem dia sudar tidur, maafkan aku sayang karena aku kamu jadi seperti ini. Aku benar benar tidak bisa mengontrol emosiku.


Batinnya sambil menatap lekat wajah Febby. Wajahnya terlihat sangat pucat namun tetap terlihat cantik.


" Sebaiknya aku makan sarapanku dulu lalu bersih bersih badan, sambil menunggu dia bangun " ucap Tuan Angga kemudian.


Jam menunjukkan pukul 09:00 am. Namun Febby belum juga bangun. Tuan Angga mendekatinya, berniat ingin mengecek suhu tubuhnya.


" Demamnya masih tinggi, " ucapnya seraya menempelkan tangannya pada kening Febby.


" Sayang ... bangun dulu sebentar ya, "ucapnya lirih seraya mengelus rambut Febby.


" Emmhh ... aku dingin ... " ucapnya lirih sambil menggeliat.


" Minum dulu obatnya ya, habis itu kamu istirahat lagi. "


Febby mengiyakannya, meminum obatnya lalu kembali tidur. Tuan Angga mengganti kompres yang sudah dingin itu, dicelupkannya ke dalam air hangat lagi, diperas lalu dikompreskan di dahi Febby.


Saat Tuan Angga meletakkan kompres, tiba tiba Febby memegang tangan Tuan Angga, lalu menariknya dalam dekapannya.


Tuan Angga hanya tersenyum lalu mengelus rambut Febby. Namun Febby semakin menariknya ke dalam dekapannya.


" Dingin ... " hanya suara itu yang keluar dari mulut Febby.


Tuan Angga lalu menarik tangannya, merubah posisi duduknya. Dia berbaring di samping Febby lalu memeluknya dari belakang.


" Tidurlah sayang, " ucapnya sambil mengecup rambut Febby dari belakang lalu memeluknya dan tertidur bersama.


Baru beberapa menit Tuan Angga memejamkan mata, tiba tiba ponsel Febby berdering.


Tuan Angga lalu bangun dan mengambil ponsel itu.


"Nomor tidak dikenal ... " lalu Tuan Angga menjawab panggilan itu.


" Hallo sayang ... kamu kemana saja sih aku kangen tau, " terdengar suara itu diseberang telfon.


Wajah Tuan Angga langsung memerah. Sorot matanya sangat tajam.


" Siapa kau, kenapa kau berani memanggil istriku dengan panggilan sayang! " ucap Tuan Angga keras menahan geram.


" Ooo rupanya kamu, hahaha ... aku adalah orang yang sangat istrimu cintai. "


" Keparat! siapa kau sebenarnya! " Tuan Angga semakin marah sampai Febby terbangun karena teriakan Tuan Angga.


" Kau kenapa? " tanya Febby lirih sambil berusaha bangun dari tidurnya. Membuat Tuan Angga kaget dan langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam.


Tuan Angga mendekati Febby, menyerahkan ponsel itu pada Febby dan menyuruh Febby untuk menjawabnya.


" Siapa dia? kalau kau memang tidak ada apa apa dengannya, maka jawablah. "


Febby hanya mengangguk pelan.


" Hallo ... " ucap Febby lirih.


" Hai sayang ... aku kangen banget sama kamu. Tadi kenapa suamimu yang mengangkatnya? padahal aku sangat berharap aku bisa langsung mendengar suara indahmu itu, " jawab seseorang di seberang sana.


" Kau ... siapa kau? aku tidak mengenalmu, "


" Jangan seperti itu sayang, apa kau takut dengan suamimu? apa dia ada disampingmu sekarang? "


" Tapi aku benar benar tidak mengenalmu, " ucap Febby lirih, dia bahkan tidak punya tenaga untuk berteriak.


Tuan Angga yang sudah tidak sabar mendengar percakapan mereka, langsung menyambar ponsel itu dan mematikannya.


" Aku sudah muak! siapa laki laki itu, kenapa kau berusaha menutupi semuanya, " ucap Tuan Angga dengan suara yang terdengar dingin dan menakutkan.