Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 125. Pengakuan Indira


"Semua Keputusan ada di tangan kamu, Ra." Pak Juli menekankan pada Indira untuk mengambil keputusan. Sebagai seorang ayah ia ingin yang terbaik untuk anak nya di masa depan. 


Ruangan tamu itu tampak mencekam. Bian membisu seribu bahasa, kali ini ia tak punya pendapat apa-apa selain mengikuti ayahnya dan mendukung keputusan Indira. Begitupun dengan Sovia yang tak ingin salah langkah mengingat Indira yang sudah dewasa. 


"Tapi aku masih sekolah, Yah." Indira mengucap dengn berat. Di satu sisi ia pun tak mau kehilangan Keanu, namun disisi lain Indira masih enggan jika hari-harinya harus bertugas menjadi seorang istri yang menurutnya itu terkekang. 


"Sebentar lagi kan lulus? Bagaimana kalau kamu menikah, Keanu juga nggak melarang kuliah kok," ucap Sovia memberikan pendapat. 


"Nanti aku akan bicarakan ini dengan kak Keanu."


Indira meninggalkan ruang tamu dengan membawa hati yang masih bimbang. Ia tak ingin cepat mengambil keputusan, takut fatal dan akhirnya menjadi janda muda seperti mamanya. Pikirannya pun masih sangat labil dan belum siap untuk menjadi seorang istri. 


"Kalau kamu sendiri bagaimana, Bi?" Meskipun bukan ayah kandung, pak Juli juga peduli pada pria itu. 


"Aku belakangan, Yah. Yang penting Indira bahagia, aku juga bahagia." 


Indira menatap motor nya yang terparkir lalu menghampirinya. 


"Mending aku ke kantor kak Keanu. Pasti dia lebih mengerti aku."


Indira memasukkan motornya di  tempat parkiran. Namun, sebelum ia melepas helm, seorang penjaga datang mendekatinya. 


"Maaf Mbak, ini tempat khusus untuk petinggi di kantor ini," ucapnya pada Indira.


Aku kan calon istri pemilik perusahaan ini, jawab Indira dalam hati. 


Sebagai tamu yang baik, ia tetap memindahkan motornya di area parkir bagian belakang, khusus para karyawan dan juga pegawai lainnya. 


Indira kembali menghampiri satpam yang masih menatapnya dari jauh. 


"Pak, Saya ingin bertemu dengan kak Keanu Delbert, apa orangnya ada di dalam?"


Satpam itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menatap penampilan Indira dari atas hingga bawah. 


Yang ia tahu, Keanu tak memiliki saudara ataupun kerabat jauh yang tinggal di Indo, karena dengan jelas bos nya itu  memperkenalkan diri sebagai warga asing, namun tiba-tiba ada yang memanggilnya kak. 


"Maaf, Tuan Keanu hanya akan bertemu dengan orang penting saja."


Indira berkacak pinggang mendengar ucapan pria yang ada di depannya itu. 


"Kamu pikir aku bukan orang penting. Kak Keanu itu calon __" Indira menghentikan ucapannya, tidak mungkin ia mengatakan statusnya, sedangkan hatinya masih ragu untuk menikah dengan pria itu 


"Maaf Pak. Saya sudah punya janji, dan beliau menyuruh saya datang ke sini."


"Baiklah, kalau begitu silahkan masuk. Nanti langsung lapor saja ke resepsionis."


Indira mengangguk dan langsung masuk ke dalam. 


Indira menghentikan langkah. Matanya menyusuri ruangan yang nampak unik, namun juga menyeramkan. Tempat itu mendominasi warna gelap. Banyak lukisan naga terpanjang di sisi kiri kanan yang membuat bulu halus merinding. 


"Mbak cari siapa?" tanya seseorang dari arah belakang. 


Indira mengelus dada, terkejut dengan wanita itu. Entah dari kapan datangnya, Indira pun tak menyadari nya. 


"Saya ingin bertemu dengan pak Keanu," jawab Indira ragu. Pasti orang itu akan mengira ia salah masuk seperti satpam tadi.


"Sebentar, saya akan bicara dengan sekretaris pak Keanu dulu, silahkan duduk." 


Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali menghampiri Indira yang duduk manis sambil bermain layar ponselnya. 


"Maaf nama mbak siapa?" tanya nya. 


"Indira," jawab Indira tanpa menatap. 


Ya ampun gini amat, mau bertemu calon suami saja susahnya kayak mau bertemu presiden. 


Indira hanya bisa menggerutu dalam hati. Dadanya terasa hampir meledak dengan langkah yang harus dilewati sebelum bertemu Keanu. 


"Silahkan ke lantai dua puluh. Beliau sedang rapat, anda disuruh langsung ke ruangannya."


Indira beranjak lalu berjalan menuju lift. Mengikuti petunjuk dari salah satu pegawai kantor itu. 


Seorang wanita cantik dan berpakaian seksi mengulurkan tangan di depan Keanu. 


"Terima kasih, Sis." Keanu  menerima uluran tangan wanita itu. 


Dari jauh, Indira berdiri dengan kedua tangan saling dilipat. Matanya menatap Keanu dan wanita yang ada di depannya itu bergantian. Lalu menunduk, mengabsen penampilannya dan tubuhnya yang lumayan kurus. 


Tubuhku kurang ideal, apa kak Keanu akan lebih tertarik dengan perempuan yang lebih dewasa dan berisi seperti ucapannya waktu itu. 


"Kak keanu," panggil Indira melangkah pelan ke arah Keanu. 


Keanu tersenyum tipis. Melepaskan jabatan tangannya. Menjemput Indira yang sudah hampir dekat. 


"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Keanu merangkul pundak kecil Indira. 


"Sendiri, naik motor," jawab Indira. Matanya tak teralihkan dari wanita yang juga menatapnya. 


Keanu melihat jam yang melingkar di tangannya lalu mengernyitkan dahi. 


"Ini sudah siang, Ra. Kamu gak kepanasan?" tanya Keanu. Mengusap dahi Indira yang maish dipenuhi peluh.


Indira hanya menggeleng tanpa suara. 


"Ini siapa, Pak?" tanya wanita itu menunjuk Indira. 


Indira meraih tangan wanita itu cepat-cepat. "Nama saya Indira, calon istri kak Keanu." Menegaskan.


Hati Keanu sejuk bak terguyur air es. Akhirnya Indira berani mengakui dirinya sebagai calon suami di depan umum, termasuk kliennya. 


Wanita itu hanya mengangguk pelan.


Ternyata selera pak Keanu anak abg. Hanya mengucap dalam hati lalu pergi meninggalkan mereka berdua. 


Keanu membuka pintu ruangannya dan mengajak Indira masuk.


"Kak, aku gak mau kamu dekat-dekat dengan perempuan seperti tadi. Kamu gak lihat dia itu sepertinya suka menggoda." 


"Iya." Keanu hanya menjawab singkat menggiring Indira menuju sofa. 


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Keanu lembut. 


"Aku cuma mau bilang, kalau aku setuju kita menikah setelah aku lulus sekolah."


Seketika itu juga Keanu mengangkat tubuh Indira dan memutarnya. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin kuliah ke  Swiss?" tanya tante lta, yang tak lain adalah mamanya Hilya. "Apa Yudha membawa kasus penculikan anaknya itu ke polisi?" imbuhnya lagi. 


Hilya tersenyum. Memasukkan beberapa baju kesayangannya ke dalam koper. Duduk  di samping mamanya. Menatap ke arah taman yang nampak indah. 


"Bukan karena itu, Pak Yudha dan keluarganya sudah memaafkanku. Aku hanya ingin menjadi lebih baik lagi dan memiliki karir yang bagus."


Hilya hidup di keluarga yang berada. Namun sifatnya yang sedikit arogan membuatnya liar dan sering keluar rumah hingga nampak menjadi seorang pecundang. 


"Lalu, Mama yakin kalau ada alasan lain selain itu?" 


Mama lta menutup koper nya setelah penuh. 


Hilya beranjak lalu berdiri di depan cermin. Memastikan kembali penampilannya yang memang sudah rapi dan cantik. 


"Mama gak usah khawatir, aku bukan buronan kok, tidak akan ada yang mencariku sampai ke sana."  Membuka laci, menatap cincin emas yg diberikan Bian beberapa waktu lalu. Meskipun harganya murah, tetap saja itu berharga baginya. 


Ia memungut lalu menyematkan di jari manisnya dan memakai kacamata hitam. 


Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal masa lalu yang indah dan buruk, aku berharap setelah pulang nanti semua akan berubah. Dan kamu sudah mendapatkan perempuan yang lebih cantik dan baik. 


Hilya keluar dari kamarnya bersama dengan mamanya yang akan mengantar sampai ke bandara.