
Suasana rumah kembali ramai. Lion bermanja-manja di pelukan ibu sambungnya. Mereka menghabiskan waktunya hingga larut.
Sayup-sayup terdengar suara Yudha berbicara serius dengan seseorang yang ada di balik telepon.
Tempat bermain Lion yang sangat dekat dengan ruang kerja Yudha membuat Lintang bisa dengan jelas melihat pergerakan suaminya, juga kesibukan yang tiada henti.
"Mbak Mimah, jaga Lion sebentar!"
Setelah Mimah datang, Lintang beranjak dari duduknya. Berjalan pelan mendekati pintu ruangan Yudha yang sedikit terbuka.
Pembicaraan sang suami dengan seseorang sudah selesai. Yudha memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam, bak orang yang frustasi pria itu terus berdecak.
Lintang masuk dengan penuh keraguan. Mencoba memerangi hatinya yang masih bertolak belakang, harus maju seperti kata Luna, tidak boleh takut dengan apa yang seharusnya ia lakukan.
"Ada apa, Mas?" tanya Lintang lembut.
Yudha menggeleng dan tersenyum. Hanya disapa sedemikian rupa saja hatinya kembali stabil. Rasa marah yang beberapa saat bersemayam kini lenyap seketika hanya dengan menatap wajah istrinya.
"Tapi, tadi aku dengar mas marah-marah." Lintang duduk di depan Yudha agak menjauh, bahkan berseberangan meja. Masih canggung untuk lebih dekat lagi.
Kenapa duduknya di situ sih, Yudha menggerutu dalam hati. Padahal, ia sudah menyiapkan pahanya untuk menopang tubuh seksi Lintang.
"Ada beberapa klien yang tidak menepati janji, tapi Andreas sudah menyelesaikan semuanya."
Lintang manggut-manggut mengerti, sebagai karyawan ia pun terkadang sering mendengar itu terjadi di kantor.
"Lion di mana?" Yudha menutup beberapa map dan juga laptop tanda ia sudah mengakhiri pekerjaannya.
"Sama mbak Mimah, di luar."
Lintang berdiri dan memalingkan tubuhnya berniat keluar. Namun, panggilan Yudha menghentikan langkahnya. Hawa aneh mulai menyusup hingga membuat Lintang takut. Jantungnya berirama lebih cepat saat Yudha sudah berada di belakangnya.
"Terima kasih, karena kamu sudah mau kembali padaku. Mulai besok kamu bisa mengatur keuangan rumah ini."
Yudha mengambil tiga kartu dari dompetnya dan menyodorkan di depan Lintang. Memenuhi nafkah lahir yang belum sempat ia berikan karena keadaan yang sangat rumit.
Lintang membisu, kembali berpikir keras untuk mengambil langkah selanjutnya. Sebab, ia tak mau salah dan akan menjadi fatal.
Ingin menerima, namun juga belum yakin bisa memegang amanah. Ini pertama kalinya ia harus memikirkan tanggung jawab atas rumah tangga yang dijalaninya hampir satu minggu.
"Aku tidak akan menuntutmu untuk melakukan kewajiban yang memang kamu tidak bisa," lanjut Yudha menegaskan, seakan ia tahu kebimbangan yang melanda istrinya saat ini.
Setelah mendengar penjelasan Yudha, Lintang menerima kartu itu dan membawanya keluar. Menghampiri Lion yang sudah hampir terlelap.
"Lion sayang, malam ini mau tidur sama siapa?" tanya Lintang lirih. Mengelus pipi gembul putranya yang nampak menggemaskan.
"Mbak Mimah." Lion menjawab dengan suara pelan karena sudah setengah sadar.
Lintang mencium kedua pipi Lion bergantian lalu meminta Mimah untuk membawa bocah itu ke kamarnya.
"Bi Siti," teriak Yudha dari depan ruang kerja. Bibirnya terus menguap. Matanya terasa berat seakan rasa kantuk itu sudah menguasai dirinya.
"Tolong buatin kopi tanpa gula," titah Yudha pada Bi Siti yang baru saja tiba.
Setelah bi Siti kembali ke belakang, Yudha beralih duduk ruang keluarga. Memakai kacamatanya lagi. Memeriksa beberapa dokumen yang masih tertinggal.
Lintang yang mendengar permintaan Yudha itu pun menghampiri Bi Siti meminta wanita paruh baya itu untuk mengajarinya membuat kopi kesukaan Yudha.
"Biar aku yang bawa, Bi."
Lintang membawa secangkir kopi ke ruang keluarga. Tak hanya meletakkan kopinya di meja, ia ikut duduk di samping Yudha yang membuat sang empu mengernyitkan dahi.
"Kamu belum tidur?" tanya Yudha antusias. Pasalnya, Lintang tidak terbiasa tidur di jam yang sudah larut.
Entah apa yang ada di pikiran istrinya saat ini, Yudha pun tak tahu, yang pastinya gadis itu nampak aneh semenjak kembali dari rumahnya tadi.
Yudha menyesap kopinya serta menghirup aroma yang khas, kini matanya kembali terbuka dan rasa kantuk itu mulai lenyap. Sesekali menatap wajah Lintang yang sangat cantik. Meskipun belum bisa menikmati secara keseluruhan, Yudha sudah bersyukur bisa membawa gadis itu pulang.
"Kalau kamu ngantuk tidur saja, aku juga sudah hampir selesai." Mengelus punggung Lintang dengan lembut.
Lintang meremas sepuluh jari-jarinya. Wajahnya mulai pucat saat Yudha terus menyentuhnya. Seluruh organ tubuhnya mulai tak berfungsi hingga pergerakannya tercekat. Tak hanya itu, Lintang merasa gugup. suaranya pun tertahan di tenggorokan. Ia bagaikan anak kecil yang sedang menikmati belaian lembut Yudha.
"Apa mau aku temani dulu tidurnya?" tawar Yudha menggoda, meskipun tak serius, tetap saja membuat rona wajah Lintang memerah malu.
Bagaimana ini, aku harus jawab apa?
"Ak…aku ke kamar dulu."
Lintang berlari kecil menuju kamarnya.
Yudha hanya tersenyum kecil seraya menatap punggung Lintang yang mulai menjauh.
Gubrak
Suara pintu tertutup sedikit keras.
Tak lama kemudian, suara jeritan dari kamar Lintang terdengar membuat Yudha kaget. Ia melompat dari sofa dan berlari menuju kamar Lintang. Tanpa aba-aba membuka pintu kamar sang istri tanpa mengetuk.
"Ada apa, Sayang?" tanya Yudha cepat. Menghampiri Lintang yang duduk di tepi ranjang dengan kedua telapak tangan yang menutup wajahnya.
"Aku takut itu." Menunjuk ke arah bawah kaki meja tanpa membuka mata.
Yudha merangkul pundak Lintang saat melihat cicak mulai merayap.
"Jangan takut, aku di sini, lagipula cicak itu hanya lewat, mungkin dia pingin melihat cara kamu tidur."
Sebenarnya Lintang tidak takut, hanya saja terkejut saat melihat cicak jatuh dari plafon hingga suaranya terlepas.
Seketika Lintang menepuk lengan kekar Yudha. Kembali bergidik, menaikkan kakinya ke atas ranjang lalu menarik selimut.
"Aku temani kamu sampai tidur." Yudha mengganti lampu terang menjadi lampu temaram. Memeriksa jendela lagi, memastikan kalau semua sudah terkunci. Menarik kursi dan duduk di sisi ranjang.
Hening tercipta, Lintang mencoba untuk memejamkan mata, namun tetap saja tidak bisa, ia memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan berulang-ulang. Menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tanpa sisa, dan itu pun tidak cukup membuatnya tenang.
"Kenapa, Sayang?" tanya Yudha pada akhirnya.
"Aku nggak bisa tidur," keluh Lintang dengan bibir manyun.
"Apa karena aku di sini. Kalau begitu aku keluar."
Lintang menggeleng cepat, meraih tangan Yudha yang hampir saja pergi.
Deg deg deg
Jantung Lintang berdetak dengan cepat. Ruangan kamar yang dingin itu tiba-tiba panas. Ini adalah momen yang paling mendebarkan, namun juga menegangkan bagi dirinya.
"Mas, kamu mau kan, tidur di sini?" Mengucap dengan malu-malu.
Yudha ingin berteriak, mengumumkan pada semua orang apa yang dikatakan istrinya saat ini. Namun itu tidak mungkin terjadi, cukup dirinya yang merayakan anugerah malam ini.
"Dengan senang hati."
Yudha langsung naik dan membaringkan tubuhnya di samping Lintang.