Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 82. Modal nekad


Setelah puas bercakap dengan Gita, lintang langsung beralih tempat, ke lantai lima belas, tepatnya di ruangan sang suami. Masuk tanpa mengetuk. Mendekati Yudha yang nampak sibuk dengan benda pipihnya. 


Ternyata di sana juga ada Andreas yang sibuk di lemari buku. 


"Ada pak Andreas," sapa Lintang ramah. Meskipun ia istri Yudha, tetap saja sopan seperti dulu. 


"Baik, Pak. Nanti saya akan menyuruh orang untuk datang ke sana." Ucapan terakhir Yudha pada seseorang yang ada di balik telepon. 


Yudha menangkap tubuh Lintang dan membawa ke pangkuannya. Memberikan kecupan lembut sebagai hukuman karena sudah berani menjauh selama tiga jam. 


Ya ampun, selama itu pasti pekerjaan Gita amburadul. Meladeni istri bos yang kini hanya pengangguran.


"Sudah puas kangennya?" tanya Yudha, mulai membuka laptop tanpa memindahkan tubuh Lintang. 


"Sudah, bahkan aku sangat puas sudah menggoda Gita." Melirik ke arah Andreas yang mulai nampak gugup. 


Apa Gita cerita pada Bu Lintang masalah tadi pagi?


Andreas menundukkan kepalanya. Malu jika apa yang dipikirkan itu benar terjadi.


Jantungnya berdegup kencang, harap-harap cemas jika Lintang akan mengadu pada Yudha. 


"Menggoda?" Yudha mulai kepo dengan apa yang dimaksud Lintang. 


"Maaf, Pak. Saya keluar dulu," ucap Andreas mengalihkan perhatian. Tangannya gemetar hingga map yang dibawanya ikut bergerak. 


"Kamu kenapa? Nahan pup, atau air kecil?" tanya Yudha konyol yang membuat Lintang tertawa geli. 


Andreas menggeleng cepat. Ingin keluar langsung, namun terasa tidak sopan hingga ia menyiapkan hatinya dengan apa yang akan diucapkan Lintang dan Yudha. 


"Bukan, Mas. Tapi menahan sabar, karena nanti malam pak Andreas mau datang ke rumah Gita untuk melamar." 


Yudha mengerutkan alis. Menatap Andreas lekat-lekat. Benarkah kamu sudah berani kawin? Begitu kira-kira yang ingin di tanyakan, namun tertahan di ujung lidah takut Lintang memarahinya. 


"Melamar, apa modal kamu?" Yudha meremehkan Andreas. Pria yang ia kenal angkuh diam-diam memiliki kekasih hati di belakangnya. 


"Nekad, Pak," jawab Andreas singkat padat dan jelas. Sebab, itu semua tidak akan berjalan, andaikan ia menuruti rasa takut dan tak percaya diri, pasti lama-lama Gita akan menjadi milik orang. 


Lintang hanya menahan tawa, akhirnya suaminya lah yang kalah telak dari sang asisten. 


"Yo wes sak karepmu, sekarang kamu siapkan untuk nanti malam saja, biar aku yang mengurus semua pekerjaan hari ini," tantang Yudha.


Yes Yes Yes 


Semenjak bekerja dengan Yudha, ini kali pertama pria itu membahagiakan Andreas, bahkan ia tak menyangka akan diberi waktu untuk istirahat, mempersiapkan nanti malam di rumah Gita. 


Setelah Andreas berlalu, Lintang meraih beberapa map yang menumpuk di meja lalu membawanya ke sofa. 


"Sok-sokan, memangnya mas bisa menyelesaikan pekerjaan ini dalam sehari?"


Lintang mulai membukanya dan mempelajarinya. Meskipun hanya karyawan, ia lumayan tahu pekerjaan yang dipegang suaminya. 


"Andreas saja bisa bermodalkan nekad, masa aku nggak bisa, di mana-mana bos harus lebih jago dari bawahannya."


Yudha menyombongkan diri, meskipun ia sedikit enggan, setidaknya terlihat luar biasa di mata istrinya. 


Baru beberapa menit bergulat dengan pekerjaan, Lintang merasa lelah. Seluruh tubuhnya pegal hingga membuatnya harus menguap. 


Yudha melirik sekilas ke arah sang istri yang menggerak-gerakkan tangan sambil memijat pinggangnya. 


"Kamu capek?" tanya Yudha menghampiri Lintang. 


"Kayaknya aku butuh istirahat sebentar deh, Mas."


Lintang mengambil tasnya. Ia masuk ke kamar. Meninggalkan Yudha tanpa pamit. 


"Ini namanya santapan empuk, mana mungkin aku bisa tahan." 


"Nanti kalau ada tamu, bilang saja aku lagi sibuk. Jangan sampai ada yang masuk ke ruanganku, termasuk Andreas." 


"Baik, Kak," jawab Bian tegas, menatap gerak-gerik Yudha yang sedikit mencurigakan. Melihat ponselnya lagi, melihat jadwal sang kakak yang tak ada kegiatan penting. 


"Sibuk apa? Bukannya hari ini dia hanya tanda tangan proyek dari Jawa. Kenapa harus melarang pak Andreas masuk, aneh."


Yudha menatap Lintang yang berbaring diatas ranjang. Berjalan mengendap-endap menghampirinya, melepaskan sepatunya lalu ikut naik. 


Tangannya mengulur, menyentuh lengan sang istri dari belakang hingga membuat Lintang membuka matanya yang terasa berat. 


"Mas, kamu ngantuk juga?" ucap Lintang sambil memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah Yudha. Membenamkan wajahnya di dada pria itu. 


"Nggak ngantuk sih, tapi __" 


Yudha menghentikan ucapannya. Mendaratkan ciuman di kening Lintang. 


"Dedeknya gak mau dijenguk, jadi jangan macam-macam kalau nggak mau aku usir." 


Cegeluk


Yudha menelan ludahnya dengan susah payah. Ternyata tak sesuai ekspektasinya yang akan diterima dengan baik, bahkan Lintang sudah memberi peringatan sebelum dirinya memulai. 


Kecewa itu pasti, namun Yudha tak bisa apa-apa selain nenerima permintaan sang istri dengan lapang. 


"Ya sudah, sekarang kamu tidur, nanti  kalau waktunya pulang, aku bangunin." 


Mengecup kening Lintang dengan lembut lalu meninggalkannya. 


Menemui Bian lagi dengan wajah merengut. 


"Sibuknya nggak jadi, nanti kalau ada tamu langsung suruh masuk," titah Yudha. 


Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung dengan sang kakak yang plin-plan. 


Andreas langsung menuju parkiran setelah menghubungi Gita. Ia ingin hari ini menghabiskan waktu bersama. Tidak hanya itu, Andreas pun langsung memberi tahu pak Setiawan jika hari ini Gita bekerja sama dengannya. Dengan begitu akan lebih aman. 


Andreas tersenyum saat melihat gadis yang ditunggu itu keluar dari kantor. Membuka kaca mobil saat Gita menghampirinya. 


"Mau ke mana?" tanya Gita menyembulkan kepalanya ke dalam mobil. 


"Jangan banyak tanya, cepat masuk, keburu siang." 


Kebiasaan, apa nanti masih akan secuek itu jika sudah menjadi suamiku.


Gita masuk tanpa protes lagi. Duduk di samping Andreas yang mulai sibuk dengan setir nya. 


Andreas menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota. Sebagai pria dewasa, ia berpikir matang sebelum melamar seorang gadis. 


"Kenapa kita ke sini? Memangnya bapak mau beli apa?" tanya Gita membaca tulisan terbesar yang menggantung di depan bangunan itu. 


"Aku mau beli kesukaan ibu kamu." 


Kok ibu, sih. Sebenarnya yang mau dilamar ibu apa aku? gerutu Gita dalam hati, cemburu saat Andreas lebih mementingkan sang ibu daripada dirinya yang berstatus calon istri. 


"Sekarang kita masuk, kamu pilih apa saja yang disukai ibu. Pastikan dia akan menerimaku." 


Otak Gita mulai mencerna ucapan Andreas, ia manggut-manggut mengerti. 


"Jadi bapak mau cari muka pada ibu?" tebak Gita tanpa basa-basi. 


Andreas mengangkat jempolnya. Ia tak malu, karena memang itu tujuannya. 


"Sedia payung sebelum hujan. Aku pastikan malam ini ibu akan menerimaku sebagai calon menantunya, itu artinya kamu adalah milikku." Andreas menegaskan.