
Keesokan hari
Febby membuka matanya, menggeliatkan badannya. Dia menoleh kesamping, suaminya masih terlelap. Dia melangkah turun, membersihan badannya. Tak butuh waktu lama dia sudah selesai mandi. Namun suaminya masih jg belum bangun. Dia berdandan ala kadarnya, sambil menunggu suaminya bangun.
"Masih belum bangun juga, yasudah deh aku buatin sarapan dulu buat dia," ucapnya pada dirinya sendiri seraya pergi keluar kamar. Sesampainya di dapur, betapa terkejutnya Febby dengan apa yang dilihatnya. Selin sudah ada disana, dia sudah menyiapkan menu sarapan pagi. Perlahan Febby berjalan mendekat, melihat apa yang dimasak oleh Selin.
"Hay Febby, kamu sudah bangun? Maaf ya aku lancang masuk ke rumah kalian tanpa ijin. Aku berniat ingin membangunkan kalian, tapi aku urungkan. Jadi sambil menunggu kalian bangun aku buatin sedikit sarapan buat kalian," ucapnya manis sok akrab dengan senyuman yang terlihat manis namun penuh kepalsuan.
Febby hanya membalasnya dengan senyuman. " Iya gapapa kok. Kamu datang kesini sendirian? Marcel mana?" balas Febby basa basi sambil melihat sekitar mencari Marcel namun dia tidak melihatnya.
"Aku datang sendiri. Tidak apa apa kan?" ucap Selin lagi dengan senyum liciknya. Febby hanya mengiyakan dengan wajah malas. Tak lama kemudian Tuan Angga datang. " Pagi sayang," ucapnya seraya menuruni anak tangga menyapa Febby. Seketika Febby dan juga Selin menoleh kearahnya. Selin berniat ingin maju dan menyapa Tuan Angga. Namun gerakan Febby jauh lebih cepat. "Pagi juga sayang. Kamu sudah bangun?" jawabnya seraya berlari kearah suaminya. Febby langsung meraih tangan suaminya dan bergelayut manja. Wajah Selin memerah menahan amarah.
Cih ... sayang? kita lihat sebentar lagi kamu akan kehilangan dia.
" Loh Selin kok kamu ada disini?" ucap Tuan Angga yang menyadari ada Selin juga. Selin membalasnya dengan senyuman. Belum sempat dia berbicara, Febby sudah lebih dulu memotong jalannya. " Iya sayang, dia sengaja datang kesini pagi pagi katanya mau buatin sarapan untuk kita," potong Febby dengan senyum manja. Febby melirik kearah Selin, tersenyum puas karena membuat Selin tidak bisa berkutik.
Selin berusaha menahan amarahnya. Walau sebenarnya dia sangat ingin mencakar cakar Febby, namun dia berusaha sebisa mungkin melakukan aktingnya dengan sempurna. " Iya Angga, aku sengaja datang kesini untuk masakin makanan buat kalian. Itung itung sebagai kado pernikahan kalian dari aku. Kamu tidak keberatan kan?" balas Selin dengan senyum manisnya.
"Tentu saja tidak. Iya kan sayang?" Tuan Angga menjawabnya santai seraya merangkul Febby. Dia tidak sadar kalau jawabannya benar benar sudah menyalakan bom pada istrinya.
Kemudian mereka duduk pada tempatnya masing masing. Dengan cekatan Selin lebih dulu mengambilkan nasi untuk Tuan Angga. Merebut posisi dan kewenangan Febby. Febby menatapnya tajam, namun Selin tidak menghiraukannya. " Karena ini kado dari aku, jadi pagi ini aku yang ambilin nasi buat kalian," ucap Selin seraya mengambilkan nasi untuk Febby juga.
Selin menatap Febby dengan sinis. Seperti sedang melakukan perang dingin. Febby hanya membalasnya dengan senyuman. "Hem masakan kamun enak banget. Masih sama seperti dulu," ucap Tuan Angga tiba tiba setelah menyantap beberapa suap nasi. Selin tersenyum, " Kamu bisa saja."
"Uhuk ... uhuk ...." Febby tiba tiba terbatuk. "Sayang kamu nggak apa apa kan? hati hati dong," ucap Tuan Angga seraya memberinya air minum dan menepuk nepuk punggung Febby. "Masakannya pedas, aku nggak suka pedas," ucap Febby seraya meneguk air minumnya.
"Pedas? enggak kok aku rasa ini nggak terlalu pedas. Lagipula bukannya kamu suka pedas?"
"Iya Feb, aku rasa aku masaknya nggak terlalu pedas kok," ucap Selin menimpali ucapan Tuan Angga. Membuat Febby semakin terpojok.
"Tapi sekarang aku nggak suka pedas! Perut aku nggak enak banget. Aku ke kamar dulu," ucapnya seraya pergi ke kamarnya. Tuan Angga pun langsung menyusulnya.
Dia itu nggak peka banget sih jadi orang. Masa iya dia nggak tahu kalau aku cemburu?
"Ah sebel ... sebel ... sebel ...." Febby berteriak sendiri di dalam kamar.
"Sebel kenapa?" suara Tuan Angga mengagetkan Febby. Febby langsung menjadi salah tingkah. Dia duduk di pinggiran ranjangnya. Memasang wajah cemberutnya.
"Sayang, maafkan aku. Apakah perutmu masih terasa nggak enak? Apa kita perlu periksa?" tanya Tuan Angga yang terlihat khawatir dengan Febby. Febby hanya menggeleng sambil menunduk.
"Menurutmu?!" balas Febby ketus.
"Apa kamu cemburu dengan Selin? hem?" ucapnya lagi seraya mendekatkan wajahnya pada Febby. Membuat wajah mereka kini begitu dekat. Wajah Febby langsung memerah. Dia langsung membuang muka kearah lain.
"Menurutmu istri mana yang tidak marah kalau ada wanita lain di rumahnya?"
" Iya aku minta maaf. Nanti akan aku beri tahu dia supaya kalau mau kesini bilang dulu. Bagaimana? Tapi sekarang kita harus turun dulu. Kasian Selin dibawah sendiri, dia pasti merasa khawatir juga sama kamu," ucap Tuan Angga membujuk Febby.
"Males ah, aku mau pergi dulu saja. Cari angin segar," jawabnya sungkan.
"Tidak boleh! kamu tidak boleh keluar sendirian. Aku nggak mau kalau sampe Neddy gangguin kamu."
"Kenapa? Lalu bagaimana dengan Selin?" balas Febby ketus.
"Kenapa dengan Selin?" tanya Tuan Angga bingung.
"Kenapa dengan Selin? pikir saja sendiri!" jawab Febby ketus seraya pergi begitu saja. Sedangkan Tuan Angga masih diam mematung karena tidak tahu apa kesalahannya.
Saat Febby menuruni tangga dia melihat Selin sedang duduk di ruang tamu. Febby melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"Febby, apa kamu tidak apa apa?" suara itu sontak menghentikan langkah kakinya. Febby menoleh kearahnya, lalu tersenyum sinis tanpa menjawab sepatah katapun. Dia kemudian pergi meninggalkannya dengan kesal.
Berbeda dengan Febby, Selin justru terlihat sangat bahagia. "Sepertinya mereka bertengkar. Baguslah," ucapnya pada diri sendiri. "Selin, kenapa kamu membiarkan Febby pergi?" ucap Tuan Angga seraya menuruni anak tangga.
"Aku tidak bisa mencegahnya. Sepertinya dia marah padaku," sambil memasang wajah sedih.
"Sudah kamu jangan mikirin dia. Dia cuma sedang kesal saja. Oh iya kamu sebaiknya pulang saja. Aku harus mengejar Febby," seraya pergi mengejar Febby.
"Iya, sekali lagi maaf ya aku sudah buat kalian berantem," sambil pasang wajah sok bersalah. " Iya," jawab Tuan Angga singkat seraya memberikan senyum kecilnya.
Tuan Angga mengejar Febby, namun mobil yang dikendarai Febby sudah tidak terlihat. Akhirnya dia menggunakan GPS untuk melacak keberadaan Febby. Setelah sebelumnya dia memasang GPS pada mobil Febby.
Telaga Hijau
Tuan Angga kaget saat mengetahui keberadaan Febby. "Ngapain dia kesana? Bagaimana kalau sampai dia bertemu ... Arghhh ...." Tuan Angga mengusap wajahnya kasar.
Dia langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Menyusul Febby ke Telaga Hijau secepat mungkin.