Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Di kamar mandi


Mendengar jawaban dari suaminya, Febby mulai cemas. Pikirannya melayang kemana mana.


" Apa yang kau pikirkan? apa menurutmu aku akan melakukan hal mesum padamu? hahaha, " ucap Tuan Angga dengan gelak tawanya yang melihat raut wajah istrinya berubah menjadi masam.


" Mesum! hey yang otak mesum itu kau bukan aku! " Febby menjawab ketus. Mereka saling menatap, mata mereka bertemu, ada perasaan aneh dalam hati Febby ketika menatap suaminya.


" Ah sudahlah aku malas berdebat denganmu. Kupikir jika kau amnesia kau bisa berubah menjadi orang yang baik dan menyenangkan, ternyata sama saja. Kau masih tetap menyebalkan, " ucap Febby mengalihkan perhatian dan memalingkan wajahnya.


" Hey yang menyebalkan itu kau! kapan kau bisa bersikap manis sedikit saja denganku. Aku ini suamimu kan, setidaknya tunjukkanlah sisi wanitamu yang lemah lembut itu padaku, " jawab Tuan Angga tak kalah ketus.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terus berdebat, layaknya anak kecil yang selalu ingin menang. Sampai akhirnya mereka tiba dirumah.


" Akhirnya setelah sekian lama, aku rindu rumahku, " ucap Tuan Angga sambil merebahkan dirinya di sofa. Sontak semua yang mendengar ucapannya kaget. Marcel yang menyadari hal itu langsung menatap Tuan Angga memberi kode untuk hati hati dalam berbicara.


Bodoh! jaga bicaramu jangan sampai kau kelepasan atau kau akan ketahuan.


Marcel menatap Tuan Angga memberi kode dengan isyaratnya. Tuan Angga langsung paham dengan apa yang dimaksud oleh Marcel meski hanya dengan tatapan mata saja.


" Rindu? kau kan amnesia bagaimana bisa kau rindu dengan rumahmu? " tanya Febby merasa ada yang aneh dengan ucapan suaminya.


" Memangnya kenapa kalau aku amnesia, aku memang lupa segalanya. Tapi kau tahu aku terlalu lama harus berbaring di ranjang rumah sakit, itu membosankan. Setidaknya seperti apapun rumahku aku bisa bebas sekarang, " jawab Tuan Angga memberi alasan. Febby akhirnya percaya dengan jawaban yang diberikan suaminya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


" Sudah sudah, jangan ribut. Sekarang kalian kembali ke kamar masing masing, bersihkan diri kalian lalu setelah itu turun lagi. Kita akan makan malam bersama, " ucap mamanya menengahi keributan yang mereka buat.


Akhirnya semua kembali ke kamar masing masing. Setibanya di kamar, Tuan Angga langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia memeluk Febby dari belakang, Febby yang sedang berbenah kamarnya sontak kaget dengan perlakuan suaminya.


" Hey ini tangan kondisikan! kau ini tidak punya etika ya! ngapain kamu meluk aku, lepaskan atau aku pukul kau, " Febby langsung mengomel dengan kecepatan 140 km/jam.


" Hari ini aku ingin mandi bareng sama istriku, bolehkan? " jawab Tuan Angga santai sambil mengeratkan pelukannya.


Mendengar jawaban seperti itu, Febby langsung memutar badannya menghadap suaminya. Kini jarak diantara mereka sangat dekat. Mata mereka saling bertemu, lagi lagi perasaan aneh timbul dalam hatinya.


Febby menatap tajam suaminya, tatapannya ganas seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Namun Tuan Angga sama sekali tidak menggubris tatapan kesal Febby. Dia langsung membopong Febby kedalam kamar mandi.


" Aww lepaskan! ... hey lepaskan aku .... " teriak Febby sambil memukul mukul pundak suaminya. Namun Tuan Angga tak memperdulikannya. Dia tetap membopong Febby sampai kedalam. Perasaan takut mulai menyelimuti pikiran Febby, namun dia tetap berusaha mengusai dirinya.


" Kau itu bukan anak kecil lagi. Jadi bisakan mandi sendiri? kurasa meskipun kau amnesia kau masih bisa mandi sendiri, " ucap Febby kesal. Dia berusaha untuk tetap tegas meskipun sebenarnya nyalinya sudah menciut .


" Tapi kau kan istriku, kurasa tidak ada salahnya pasangan suami istri mandi bareng, " jawab Tuan Angga dengan tatapan genitnya. Tanpa menunggu jawaban dari Febby, Tuan Angga langsung melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat.


" Hey manusia gila, apa yang kau lakukan! apa kau ingin mesum disini! " ucap Febby sambil teriak karena suaminya tiba tiba melepaskan semua pakaiannya di depannya.


" Siapa yang mesum? aku kan ingin mandi. Dan setauku kalau mandi ya pakaiannya harus dilepas. Lagi pula kalau aku ingin mesum disini juga enggak masalah. Aku kan mesum sama istri sendiri bukan istri orang lain, " jawab Tuan Angga dengan seringai liciknya.


Seketika nyali Febby semakin menciut, bahkan dia sudah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Febby mundur perlahan, berusaha sebisa mungkin untuk menghindari suaminya.


" Kenapa kau mundur mundur. Buka matamu! sampai kapan kau akan terus menutup matamu. Kubilang buka matamu dan lepaskan bajumu! " suara Tuan Angga berubah menjadi tegas.


" Jika kau berani mendekat aku akan teriak, " jawab Febby mengancam masih dengan menutup matanya.


" Teriak saja, memangnya kau pikir siapa yang akan malu saat semua orang kemari. Cepat buka pakaianmu, atau aku akan dengan senang membukanya, " gertak Tuan Angga.


Nyali Febby benar benar hilang, dia sama sekali tidak punya keberanian untuk menjawab ataupun menolaknya lagi. Akhirnya dia membuka matanya, namun tidak berani menatap suaminya. Perlahan Febby melucuti semua pakaiannya sampai telanjang bulat.


Tuan Angga menyaksikan setiap adegan demi adegan saat Febby membuka pakaiannya. Dia menelan ludahnya sendiri melihat kemolekan tubuh istrinya.


Akhirnya kau nurut juga sayang. Sepertinya kedepannya aku akan sedikit tegas denganmu agar kau menjadi istri yang penurut.


"Cantik ... sangat cantik .... " Tuan Angga memuji Febby. Wajah Febby memerah karena malu, dia tidak berani menatap suaminya dan berusaha menutupi area vitalnya dengan tangannya.


" Kenapa masih malu malu sayang. Kalau saja kau patuh dengan perintahku, mungkin aku tidak akan berkata kasar denganmu, " ucap Tuan Angga seraya mendekati Febby. Memeluknya lalu mencium lembut bibir tipis Febby.


Febby memejamkan matanya, tak ada perlawanan ataupun penolakan dari Febby. Tuan Angga melepaskan ciumannya sebentar, dia menyalakan shower lalu kembali menciumi bibir Febby. Kali ini Febby membalas ciuman yang diberikan suaminya. Dibawah guyuran air mereka saling berpagut mesra, saling mendesah menikmati setiap sentuhan yang mereka rasakan.


Setelah mereka selesai dengan adegan itu, mereka lalu mandi bersama. Febby sudah mulai membiasakan dirinya untuk bersikap biasa di depan suaminya meskipun sebenarnya dia masih merasa risih.


Setelah mereka selesai mandi, mereka ganti baju dan dandan sebentar ala kadarnya lalu turun kebawah untuk makan malam.


Sesampainya di meja makan, semua mata tertuju pada Febby dan Tuan Angga yang turun bersama sambil bergandengan.


" Ehem ... mandi aja sebulan lama banget, kya putri solo aja. Kita disini sudah lapar nih cuma nungguin kalian berdua enggak turun turun, " Marcel tiba tiba nyeletuk saat mereka datang.


Febby tersenyum canggung, namun tidak dengan Tuan Angga. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Lalu Mama memecah suasana dengan menyuruh mereka duduk dan makan malam dimulai.


" Ma, biar Febby yang ambilin ya buat Mama sama Papa, " ucap Febby sopan saat Mamanya hendak mengambilkan nasi untuk Papanya.