Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 61. Mereda


Setelah puas meluapkan amarahnya, Bu Fatimah melepaskan sapu. menatap nanar ke arah punggung sang menantu yang masih setia melindungi tubuh putrinya. 


"Kamu tidak apa-apa, Mas?" Lintang mengelus pipi Yudha yang nampak memerah. Keringat dingin mulai bercucuran menghiasi wajah tampannya. Pasti saat ini Yudha menahan sakit akibat ulah ibunya. Tapi bagaimana lagi, itu tak bisa dicegah dan juga tak bisa dihindari. 


Yudha menggeleng tanpa suara, tangannya mulai gemetar saat tubuhnya mulai lemas. 


"Sudah, Bu. Kasihan mas Yudha," pinta Lintang mengiba. Menangkup kedua tangan nya ke arah sang ibu. Meminta ampun atas nama suaminya. 


"Kenapa kamu sulit dibilangin sih, Lin? Kamu ingin kecewa seperti ibu. Ibu melakukan semua ini karena takut. Takut kalau kamu akan dikhianati. Semua laki-laki tidak ada yang tulus pada perempuan seperti kita. Mereka hanya memandang rendah dan akhirnya akan pergi."


Bu Fatimah mengusap air mata yang mulai membasahi pipi. Mengingat rasa sakit yang pernah diterima karena pengkhianatan yang dilakukan suaminya. Ia tak mau semua itu terulang lagi pada Lintang. 


Yudha merangkak, menyentuh kaki Bu Fatimah, bersimpuh di depannya. Menundukkan kepala tanda hormat pada sang mertua. 


"Aku mencintai Lintang, Bu. Aku tidak akan menghianati dia. Apapun keadaan ibu dan Lintang aku akan menerimanya  seperti dia menerima ku," ucap Yudha meyakinkan membuat Lintang terharu. Tak menyangka, suaminya mau memohon dan menerima pelampiasan kemarahan sang ibu yang sedikit brutal hanya untuk dirinya. 


Kini Lintang yang merangkak, duduk di depan Yudha."Mas Yudha sudah mengakui semua kesalahannya, Bu. Aku tahu ibu sakit hati padanya. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Sekarang ibu tenang dulu."


Perlahan Lintang meraih tangan Bu Fatimah. Mendudukkannya di tepi ranjang. Mengambilkan segelas air putih untuk wanita itu, sedangkan Yudha masih diam di tempat menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. 


Bu Fatimah meneguk airnya hingga kandas. Lagi-lagi menatap Yudha yang terus menunduk. 


"Meskipun aku orang miskin, tapi aku tidak sudi punya menantu seperti kamu. Lintang terlalu berharga untuk kamu yang sombong. Semua hartamu saja tidak akan bisa membeli putriku."


Yudha mencerna setiap apa yang diucapkan bu Fatimah. Ternyata perkataannya waktu itu terpahat dan menjadikan seorang ibu murka. 


"Maafkan aku, Bu," ucap Yudha penuh penyesalan. Ia berharap mendapatkan maaf dari bu Fatimah. 


Lintang meringsek, menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Ia pun sempat sakit hati dan tak ingin memaafkan Yudha. Namun, saat melihat ketulusan pria itu, hatinya luluh begitu saja, dan ia pun ingin ibunya melihat kebaikan Yudha. 


"Mas Yudha tidak pernah membeliku dengan hartanya, tapi dia membeliku dengan nyawanya." 


Yudha menatap mata Lintang yang berkedip. Memberi kode akan sesuatu yang belum ia mengerti. 


"Maksud kamu?" tanya Bu Fatimah antusias, ingin tahu maksud ungkapan Lintang. 


"Selama ibu sakit, Mas Yudha yang menjagaku, Mas Yudha yang menemaniku siang malam. Dia yang membawa ibu berobat, bahkan dia tidak peduli pada dirinya sendiri hanya demi aku dan Ibu."


"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Bu Fatimah menyelidik. Tidak percaya begitu saja dengan Lintang. 


Lintang menatap Yudha yang belum berani menampakkan wajahnya. 


"Mana berani aku berbohong pada ibu. Lebih baik sekarang ibu istirahat. Aku dan mas Yudha akan jagain ibu di depan." 


Lintang menaikkan kedua kaki Bu Fatimah lalu membaringkan tubuh tua itu. 


"Bu, malam ini mas Yudha boleh kan, tidur di sini?" pinta Lintang ragu, takut sang ibu kembali histeris seperti kemarin. 


Bu Fatimah memalingkan pandangannya ke arah lain, masih belum sepenuhnya merestui Yudha sebagai menantunya. 


"Terserah," jawab Bu Fatimah singkat, dan itu mampu melenyapkan rasa sakit yang mengendap. 


Setelah keluar dari kamar bu Fatimah, Lintang langsung memeluk erat tubuh kekar Yudha. Rasa bersalah yg kian membesar melihat perlakuan sang ibu. 


"Maafkan ibu, Mas. Aku nggak tahu kejadiannya akan seperti ini," ucap Lintang terputus-putus menahan air matanya yang hampir saja luruh. 


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini belum seberapa dibandingkan dengan kesalahanku pada kamu dan ibu. Sekarang kita ke kamar, aku mau mandi."


"Lion gimana?" tanya Lintang saat keduanya sudah berada di dalam kamar. 


"Nanti biar di antar supirnya mama," jawab  Yudha sambil meringis. Melepas kemeja nya dan meletakkan di keranjang kotor. Berjalan ke arah kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat Lintang memanggilnya.


"Ada apa?" Yudha menatap Lintang yang berjalan menghampirinya. 


Membalikkan tubuhnya dan mengusap-usap punggungnya yang dipenuhi dengan tanda merah, bekas cambukan bu Fatimah. 


"Ini pasti sakit? Kenapa tadi Mas menolongku? Seharusnya biar aku saja yang di pukul ibu."


Yudha tertawa menggelegar, seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal, ia pun menahan rasa perih yang membuatnya tak nyaman. 


"Nggak ada yang sakit, kamu tenang saja, nanti akan sembuh sendiri."


Pintu diketuk dari luar membuat keduanya saling tatap. Lintang membukanya, sementara Yudha hanya diam di depan kamar mandi. 


"Ibu," seru Lintang melihat bu Fatimah berdiri di depan kamarnya. 


Wajah Bu Fatimah tampak cemas, namun Lintang hanya bisa memeluknya tanpa bertanya. 


Melirik ke arah Yudha sekilas lalu menatap Lintang lagi. 


"Nanti setelah suami kamu  mandi, oles ini." Menyerahkan botol kecil di tangan Lintang. "Biar lukanya cepat sembuh," imbuhnya lalu pergi. 


Lintang tersenyum kecil menatap punggung ibunya yang kembali menjauh.


Ayah, kamu yang menghancurkan masa depan ibu. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu untuk bertemu ibu sampai kapanpun, aku benci ayah. 


Usai mandi, Yudha langsung tengkurap di atas ranjang seperti permintaan Lintang. Ia hanya memakai handuk yang menutupi area sensitifnya. Baginya, itu adalah sebuah kesempatan yang akan membuatnya untung besar. 


Lintang naik dan duduk di paha Yudha, mengoles sedikit demi sedikit di bagian kulit yang nampak memerah. 


Aawwww, ringis Yudha yang membuat Lintang terkejut. 


"Sakit ya, Mas?" Lintang menghentikan aktivitasnya, memastikan jika sang suami tidak kesakitan. 


"Sedikit, tapi nggak papa, lanjutkan saja." 


Baru beberapa oles, Yudha sudah memberontak. Ia membalikkan tubuhnya hingga berbaring, menarik tubuh Lintang yang tergeser di sampingnya. 


"Apa?" tanya Lintang saat tangan Yudha mulai jahil. Bahkan sudah hampir mencapai tujuannya.


Tangannya menyusup ke dalam baju Lintang yang sedikit ketat. Mencari sesuatu yang membuatnya kecanduan. 


"Mas, ini hampir maghrib." Lintang memegang tangan Yudha yang kini sudah menemukan mainannya. 


"Nggak papa, lagian nggak ada yang melarang, ibu sudah mengizinkan aku tidur di sini juga, kan?"


Otak mesum Yudha langsung beraksi. Ia menyambar bibir Lintang dan menciumnya dengan lembut sebagai awal permulaan sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih panas lagi.