Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 38. Pindah rumah


Lintang mematung di samping mobil. Matanya menyusuri rumah mewah yang menjulang tinggi di depannya itu dengan lekat. Tak pernah terbesit dalam otaknya akan menempati rumah se bagus itu.


Selain ukurannya yang luas, yang membuat rumah gaya Eropa itu terlihat megah adalah memiliki jendela besar dan banyak yang berguna untuk memperlancar sirkulasi udara dan cahaya. 


Terdapat pula teralis pada jendela yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menambah kesan Eropa klasik yang kental. Seperti pada umumnya desain rumah Eropa milik Yudha menggunakan jendela berjenis double-hung yang terdiri dari dua susun. Desain tersebut dipadukan juga dengan desain yang tampak dari luar seperti huruf U terbalik.


Rumah itu juga memiliki pilar atau menara yang menjulang tinggi. Pilar yang berdiri kokoh dari atas tanah hingga lantai paling atas. Bentuk pilar yang dibangun berupa silinder atau hexagon berwarna putih dan warna netral itu melengkapi keindahan bangunan itu. 


Ornamen nya pun tak kalah menarik  membuat rumah itu sempurna. Banyaknya detail ornamen yang menjadi ciri khas yang kental dengan desain Eropa.  Di antaranya adalah ukiran-ukiran khas gaya Eropa yang menambah kesan mewah dan megah.


"Apa kamu suka?" tanya Yudha, ikut mengamati rumahnya yang baru jadi beberapa minggu lalu. 


Ia pun tak menyangka akan menempati rumah itu dengan Lintang, istri barunya. Pasalnya, Yudha membuatnya hanya untuk cadangan jika bosan di rumahnya yang lama. Akan tetapi, takdir berkata lain sehingga membuatnya harus merajut rumah tangga dari nol. 


"Suka," jawab Lintang singkat, mengikuti langkah Lion yang berlari ke arah taman. 


Berbeda dengan rumah yang lain, pemandangan di depan dan samping pun tak kalah menarik, berbagai pohon dan bunga mahal menghiasi setiap tempat memanjakan mata. Terdapat juga arena olahraga yang cocok untuk menghabiskan waktu luang. 


Lion langsung masuk ke lapangan basket dan berlarian di sana. 


Bi Siti mendekati Yudha yang belum masuk juga, sedangkan Mbak Mimah dan sopir membantu membawa beberapa koper milik mereka. 


"Pak, baju bu Lintang di bawa ke kamar yang mana?" tanya Bi Siti berbisik, takut mengganggu Lintang yang terus tertawa melihat aksi Lion yang sangat menggemaskan. 


"Kalau punya bu Lintang bawa ke kamar utama. Punyaku bawa ke kamar lain, terserah yang penting jangan di kamar Lion," jawab Yudha. Meskipun pelan Lintang masih bisa mendengar ucapan suaminya. 


Namun, wanita itu diam tanpa menjawab dan pura-pura fokus pada Lion. 


Sinar mentari terasa menyengat, Yudha menghampiri Lintang yang ada di depan lapangan berteriak memanggil Lion untuk masuk. 


"Aku mau main dulu, Pa."


Terpaksa Yudha meninggalkan Lion. Ia masuk bersama dengan Lintang.


"Selamat datang bu Lintang," canda Yudha membuka pintu utama. 


Ternyata tak hanya diluar saja yang mewah, dalamnya pun membuat mata terhipnotis. Beberapa hiasan mahal yang menggantung di dinding serta perabot rumah tangga yang nampak mahal membuat Lintang terpana. 


"Itu kamar kamu." Menunjuk ruangan yang ada di samping tangga. Menunjukkan tempat-tempat lainnya, serta ruangan untuk bersantai. 


"Lintang," panggil Yudha saat Lintang hampir saja keluar dari ruangan tempat mereka berada. 


"Aku tahu kamu belum mencintaiku, tapi aku harap kamu menghargai usahaku." 


Lintang membalikkan tubuhnya dan berlalu. Untuk saat ini belum siap berkata apapun dan ingin mencoba menjalani lembaran baru, ikhlas dengan apa yang terjadi dan berharap ada cahaya yang lebih terang. 


Ponsel yang ada di saku Yudha berdering, Lintang yang sudah tiba di depan pintu kamar pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Menoleh ke arah suaminya yang nampak bingung. 


"Siapa, Pak?" tanya Lintang kepo. 


Yudha berjalan ke arah Lintang dan menunjukkan nomor yang tidak dikenal. 


Lintang menggeleng tanpa suara, ia tak ingin ikut campur terlalu jauh, takut itu nomor rekan bisnis Yudha atau orang penting. 


"Besok saya mau kerja, takutnya Gita curiga, sudah hampir seminggu saya bolos."


"Baiklah, aku akan atur waktu berangkat kita, supaya semua karyawan tidak melihat kamu saat keluar dari mobil. Aku akan pastikan pernikahan kita tidak ada yang tahu seperti yang kau mau." 


"Tidak usah, saya naik motor saja."


Bukan Lintang jika langsung menerima tawaran Yudha. Ia tetap kekeh dengan pendiriannya. Tak ingin merepotkan Yudha dan Andreas. 


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Yudha sambil merentangkan tangan. Merasa geregetan dengan istrinya yang masih berkepala batu. 


"Nggak!" jawab Lintang membuka pintu kamarnya lalu masuk. Menutup pintunya dengan keras menandakan jika ia belum ikhlas untuk disentuh. 


Yudha tersenyum menatap pintu yang tertutup rapat. Menatap layar ponselnya  yang kembali berdering dengan nomor seperti tadi. 


"Siapa sih ini, gangguin saja." Yudha mengabaikan panggilan itu dan keluar menghampiri Lion yang masih sibuk bermain basket dengan penjaga kebun.


Lagi-lagi ponselnya berbunyi, kali ini bukan panggilan, melainkan pesan yang masuk.


Kenapa kamu nggak angkat Telepon ku, sih. Ini aku Claire. 


Setelah membaca pesan itu, Yudha mengingat-ingat nama yang menurutnya tidak asing baginya. 


"Claire, sepertinya aku kenal. Tapi siapa?" Mengetuk-ngetuk dagu nya, mencoba menelisik masa lalu saat ia masih banyak teman perempuan. 


Mata Yudha membulat sempurna dan menepuk jidat. Setelah beberapa saat berkelana, akhirnya ia mengingat gadis Singapura yang berambut pirang dengan mata coklat. Namun, bukan itu yang membuat Yudha tertawa, tapi cinta gadis itu yang tak pernah surut padanya meskipun sudah menikah dengan Natalie. 


Kisah sepuluh tahun lalu kembali terlintas, di mana Claire mengantarkan Yudha di bandara internasional saat pulang. Claire juga terang-terangan mengatakan jika dirinya mencintai Yudha, bukan cuma itu saja, gadis itu pun memberi banyak kenangan saat Yudha masih kuliah di negara tempat tinggalnya. 


Mungkin semua itu karena kendala kata 'jodoh' hingga mereka tak bisa bersatu. 


Yudha membalas pesan yang dikirim Claire. 


Apa kabar? Sekarang kamu ada di mana? tanya Yudha. Seperti dulu saat bertemu, pasti itu yang di pertanyakan. 


Aku baik. Sekarang aku ada di Indo, kamu tinggal di mana, apa kita bisa bertemu?


Yudha tak perlu basa-basi lagi, baginya saat ini hanya Lintang dan Lion yang paling penting dalam hidupnya. Ia tak mau menyakiti hati istrinya untuk yang kedua kali dengan jalan yang berbeda 


Kapan-kapan saja, sekarang aku sibuk. Nanti aku kabari kalau ada waktu senggang, jawab Yudha akhirnya. 


Oke, aku tunggu, awas saja kalau bohong, aku akan datang ke rumah kamu dan mengaku sebagai pacar kamu, ancam Claire. 


"Gila." 


Yudha tak membalas pesan dari Claire. Ia tak mau terhanyut dengan hubungan yang terlarang pada wanita lain. Sebab, menurutnya tidak akan ada hubungan yang sehat antara pria dan wanita tanpa ikatan mengingat Natalie yang selingkuh dengan rekan kerjanya.