
Jam menunjukkan pukul 3:00pm. Tapi Dea belum juga pulang. "Nggak biasanya Dea sampe jam segini belum pulang," ucap Febby pada dirinya sendiri. Tuan Angga yang mendengarnya pun menjawabnya. " Dea tidak pulang hari ini. Tadi dia sudah minta izin denganku akan tidur di rumah temannya."
Febby menatap sinis suaminya. " Oh," jawabnya singkat. Tuan Angga terkekeh melihat tingkah Febby. " Masih ngambek?" ucapnya seraya mendekati Febby lalu memeluknya dari belakang.
Febby membalikkan badannya. Menatap suaminya tajam. "Habisnya, Mama pergi saja nggak bilang sama kita. Padahal aku masih kangen sama Mama. Baru juga aku pulang kemarin, masa sekarang Mama langsung pergi?" ucapnya lirih sambil tertunduk lesu. " Dan kau?!! Kau malah seenaknya saja menciumku!" ucap Febby ketus.
"Karna kamu terlihat begitu menggoda," ucapnya sambil mengecup bibir Febby.
"Tuh kan, nyolong lagi. Hobi banget nyium bibir," jawabnya seraya melenggang pergi keluar kamar. Dia berjalan menyusuri lorong menuju sebuah taman.Dan saat dia akan turun dari tangga, tiba tiba dia kedatangan tamu.
" Febby, kamu sudah pulang?" tanya Marcel yang menghentikan langkah Febby. Disampingnya ada seorang wanita cantik nan anggun. "Eh Marcel, kamu sudah pulang?" jawab Febby kaku sambil tetap menatap kearah wanita itu.
Siapa wanita ini? Apa dia kekasihnya Marcel? Lalu kenapa diajak pulang kesini? Dan Dea? dia hanya mempermainkan Dea?
Febby langsung menarik tangan Marcel. Membawanya menjauh dari wanita itu. " Siapa wanita itu? Apa dia kekasihmu? Lalu bagaimana dengan Dea? Apa kamu tidak memikirkan perasaannya? Hah?!!" sederet pertanyaan dilontarkan Febby. Marcel hanya diam membisu. Tidak tahu harus menjawab apa.
Dia malah mengira bahwa Selin itu kekasihku? Bagaimana kalau dia tahu siapa Selin. Wanita polos sepertimu, rasanya aku tidak tega untuk menyakitinya.
Marcel masih diam membisu. Pikirannya kacau. Entah bagaimana dia akan menjelaskan pada Febby siapa Selin. " Hai!" ucap Febby seraya menggoyahkan lengannya. Membuat Marcel terjaga dari lamunannya.
" Eh iya ada apa?" Marcel terlihat sangat gugup. " Selin. Hey ..." sapa Tuan Angga yang tiba tiba datang dari belakang. Sontak Marcel dan Febby berbarengan menoleh kearah suara itu. "Angga ...." balas Selin seraya berlari kearahnya dan langsung memeluknya.
Febby membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia masih diam mematung menyaksikan suaminya dipeluk wanita lain di depannya. Marcel yang menyadari kecemburuan Febby langsung mengalihkan suasana.
" Sorry, aku tidak memberitahu kepadamu bahwa Selin ikut pulang denganku. Mulai sekarang dia akan menetap di sini. Jadi untuk sementara dia tinggal di rumahku dulu. Bagaimana menurutmu?" ucapan Marcel akhirnya berhasil juga membuat mereka melepaskan pelukannya.
"Oh bagus dong. Jadi kita bisa sering berkumpul lagi," jawab Tuan Angga tanpa sungkan. Sedangkan Febby masih diam membisu menyaksikan tiga orang itu berbicara dan tertawa lepas. Dia merasa diabaikan. Febby akhirnya memilih pergi meninggalkan mereka. Selin melihat itu, namun dia memilih diam tidak memberitahukan kepada Tuan Angga dan Marcel.
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
"Brakkk!!!" Febby membanting pintu kamarnya sangat keras. " Siapa wanita itu? Kenapa dia terlihat sangat akrab dengan mereka berdua. Dan lagi, Angga berani beraninya memeluk dia di depanku?! Memangnya dia pikir aku ini apa?" Febby mengomel sendiri sambil menyeka air matanya. Berjalan mondar mandir sambil tetap meracau tentang suaminya dan wanita itu.
Sampai akhirnya dia melihat foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding." Hey kau! kau ini punya hati tidak sih?! Berani beraninya kau memeluk wanita lain di depanku?" ucapnya menantang pada foto suaminya. Febby kembali menyeka air matanya. Tangisnya pecah. Merasa tidak dianggap, merasa terabaikan. Sampai akhirnya Tuan Angga masuk menyusul Febby ke dalam kamar.
" Apa kau menangis?" suara Tuan Angga yang tiba tiba mengagetkan Febby. " Kau! sejak kapan kau ada disini?!" jawab Febby sinis sambil mengusap air matanya sebelum dia balik badan.
"Cemburu? Memangnya setampan apa kau sampai aku harus cemburu denganmu? Bukankah kau yang selalu merasa cemburu ketika Neddy mendekatiku?!" jawab Febby sinis sambil melipatkan kedua tangannya didada.
"Hey aku ini tampan! Lihatlah wajahku yang tampan ini, tubuhku yang gagah seperti ini? Bahkan semua wanita tergila gila kepadaku. Apa kau masih meragukan ketampananku?" jawab Tuan Angga penuh percaya diri sambil memasang wajah sok tampannya.
Febby hanya memalingkan wajahnya. Tuan Angga lalu memeluknya dari belakang. " Jangan marah ya. Dia itu sahabatku, teman masa kecilku. Kita bertiga besar dan tumbuh bersama. Maaf jika aku membuatmu cemburu," ucapnya seraya mengecup pipi Febby.
Seketika wajah Febby memerah seperti kepiting rebus. Dadanya terasa lega. Wajah yang semula cemberut kini sudah kembali tersenyum. Febby membalikkan badannya, merangkulkan kedua lengannya pada leher suaminya. " Oh ya? berpelukan sampai melupakan aku?" ucapnya sinis dengan tatapan yang tajam.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku," ucap Tuan Angga memohon maaf seraya memegang kedua telinganya. Ekspresi wajahnya yang lucu saat meminta maaf berhasil membuat Febby tertawa lepas. " Baiklah, aku maafkan."
Febby duduk di sofa, pandangannya masih tetap tertuju pada suaminya. Seperti mengisyaratkan padanya untuk mengenalkan dia pada Selin sebagai istrinya. " Kenapa menatapku seperti itu? Ayo sekarang kita harus turun menemui mereka," ucap Tuan Angga seraya menarik tangan Febby keluar.
" Hay, sorry menunggu lama," suara Tuan Angga dari tangga sambil menggandeng tangan Febby. Sontak Marcel san Selin menoleh kearahnya. Selin menatap tidak suka pada Febby. Mereka saling menatap tidak suka.
"Oh, nggak papa kok. Oh iya wanita yang di sampingmu itu siapa?" ucap Selin basa basi dengan tatapan tidak suka.
"Dia istriku, namanya Febby. Oh iya sayang, dia Selin sahabatku. Aku harap kalian bisa berteman dengan baik ya," ucap Tuan Angga saling mengenalkan keduanya. "Tentu," jawab mereka berdua kompak dengan senyum palsunya.
Cih, jadi ini yang dimaksud Marcel waktu itu. Bahwa Angga sudah punya pilihan lain. Dia sudah menikah? aku tidak akan membiarkan pernikahan kalian bertahan lama.
Selin mengumpat dalam hati sambil tetap memasang senyum palsunya. Hal yang sama pun juga dilakukan oleh Febby. Dia merasa tidak suka dengan Selin. Entah apa yang membuatnya tidak suka, tapi dia merasa ada gelagat aneh dari sorot mata Selin saat menatap suaminya.
Sahabat? kurasa dia tidak menganggapmu sahabat. Dari sorot matanya saat menatapmu saja sudah terlihat jelas kalau dia menyukaimu.
Febby meremas bajunya sendiri, menahan rasa cemburu yang mulai masuk dan memprovokasi dirinya.
Marcel hanya bisa menepuk jidatnya, menyadari bahwa sebentar lagi perang dunia ketiga akan segera dimulai. " Kau kenapa?" tanya Tuan Angga yang merasa aneh karena Marcel tiba tiba menepuk jidatnya.
"Oh tidak, tidak. Aku hanya lupa kalau aku harus membawa Selin ke rumahku untuk tinggal disana sementara waktu," jawabnya canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Oh ok. Sebaiknya Selin harus istirahat dulu. Kalian pasti capek habis perjalanan jauh. Nanti kita atur waktu saja buat bisa hangout bareng."
Marcel dan Selin mengiyakan ucapan Tuan Angga. Lalu mereka pamit pergi untuk pulang ke rumah Marcel. Sedangkan senyuman mengembang di bibir Febby saat melihat Selin pergi.