Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Amnesia


Dea semakin dibuat kesal dengan tingkah Marcel. Sepanjang perjalanan mereka hanya bertengkar, sampai akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit yang dituju. Mereka bergegas menuju ruangan Tuan Angga setelah sebelumnya Marcel Menemui dokter yang menangani Tuan Angga.


Dan betapa terkejutnya mereka mendapati tubuh Tuan Angga penuh dengan perban dan selang2 oksigen.


" Tuan Angga koma, entah sampai kapan dia bisa melewati masa kritis ini. Tapi mengingat dalamnya jurang itu, dia masih hidup saja itu sudah luar biasa. Ada kekuatan yang membuatnya bisa bertahan sampe detik ini, " ucap dokter menjelaskan kepada mereka berdua mengenai kondisi Tuan Angga.


Tak terasa air mata Marcel dan Dea menetes melihat keadaan Tuan Angga. Marcel mendekat kearah Tuan Angga, menggenggam erat tangannya.


" Kau harus sembuh demi cintamu, kau sudah mengorbankan dirimu demi cintamu. Kau harus mendapatkannya teman. "


Dea hanya menangis namun tak berani mendekat, kakinya gemetaran melihat keadaan kakak iparnya yang seperti ini.


" Apa kakak ipar baik baik saja? dia pasti sembuh kan? " tanya Dea lirih sambil meremas tangannya namun tidak berani mendekat.


" Ya dia baik baik saja, sebaiknya kita pulang sekarang. Disini sudah ada suster dan dokter yang menjaganya. Kau harus istirahat besok kau harus sekolahkan anak kecil? " ucap Marcel meledek Dea.


Dengan merengut pasang wajah sok imut Dea hanya mengangguk pelan, lalu mereka pulang setelah berpamitan dengan dokter.


»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»


Pagi hari matahari sudah mulai condong. Dea sudah bersiap siap akan berangkat sekolah. Namun dia tidak melihat kakaknya di meja makan.


" Apa kakak masih belum bangun ya, kok belum turun ikut sarapan? " ucap Dea kepada Marcel sambil menarik kursi lalu duduk dan memakan sandwich.


" Entahlah, biarkan saja nanti kalau dia sudah turun aku yang akan mengantarnya ke Rumah Sakit. Kau bisa berangkat sekolah dengan supir hari ini. Aku ingin menemani kakakmu, " jawab Marcel sambil mengunyah makanannya.


" Benarkah? berarti ini hari bebas dong, " Dea menyauti Marcel masih dengan mengunyah sandwichnya.


" Apa maksudmu hari ini hari bebas? " tanya Marcel penasaran sambil menaikkan alisnya.


" Iyalah bebas, selama aku diantar jemput denganmu aku merasa tikus dalam sangkar. Yang harus setiap saat siaga supaya tidak lengah diterkam kucing. "


Marcel terkekeh mendengar celotehan Dea.


Gadis ini benar benar menarik.


Saat mereka sedang asik mengobrol Febby turun dari kamarnya.


" Sepertinya asik sekali, sedang ngobrol apaan sih, " suara Febby mengagetkan mereka.


" Oh tidak kok, adikmu itu lucu sekali aku gemas, rasanya aku ingin memakannya. Hahaha .... " jawab Marcel sambil terkekeh sambil sesekali melirik Dea. Dea hanya menatap kesal kearah Marcel.


" Oh, lalu bagaimana apa sudah ada kabar mengenai Angga? " Raut wajah Febby berubah murung lagi saat mengucap nama itu.


" Iya dia sudah selamat, sekarang dia koma, " jawab marcel singkat.


" Aku ingin kesana, kau bisa mengantarku kan? "


" Tenanglah Kak, sebaiknya Kakak sarapan dulu. Habis itu Kakak bisa bersiap siap buat melihat keadaan Kakak ipar, " sahut Dea yang tiba tiba nyeletuk. Marcel setuju dengan pendapat Dea, akhirnya Febby hanya mengiyakan saran dari mereka.


Setelah selesai sarapan, Dea berangkat sekolah sedangkan Febby bersiap siap untuk segera ke Rumah sakit.


»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»


Sesampainya di Rumah sakit betapa terkejutnya Febby mendapati suaminya. Tangisnya pecah, dia langsung berlari menghampiri suaminya yang terbaring tidak sadarkan diri. Penyesalan terlihat jelas di matanya.


" Ini semua salahku, andai saja kemarin pertengkaran itu tidak terjadi. Andai saja kemarin aku tidak mengatakan hal itu, mungkin sekarang dia tidak akan seperti ini, " ucap Febby menyesali apa yang sudah terjadi.


" Tapi ... bagaimana mungkin aku bisa mencintai dia. Dia saja menikahiku hanya menjadikanku alat balas dendamnya saja, " ucap Febby tertunduk, dia teringat kembali dengan kata kata Neddy.


" Apakah kau tidak sedikitpun melihat cinta di mata dia? dia benar benar mencintaimu, terlebih dengan alasan apapun dibalik pernikahan itu, dia mencintaimu. "


Marcel berusaha meyakinkan hati Febby bahwa Tuan Angga temannya memang benar benar mencintainya.


Febby hanya bisa menangis, tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia kembali memeluk suaminya, lalu mengecup keningnya.


Setelah itu Marcel mengajak Febby pulang, karena Marcel harus ke Kantor. Dia harus menghandel semua pekerjaan Kantor.


" Sebaiknya kita pulang sekarang, biarkan Angga istirahat. Sudah ada dokter dan suster yang berjaga disini. "


Febby hanya mengangguk, lalu mereka pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Marcel mengantar Febby ke kamarnya. Lalu dia pergi lagi untuk ke kantor.


Disisi lain


Kabar kecelakaan Tuan Angga akhirnya sampai ke telinga Neddy. Tentu saja hal itu tidak dia sia siakan. Neddy langsung menelfon Febby, dan mengajaknya untuk bertemu.


Namun Ajakan itu ditolak mentah mentah oleh Febby, dia sadar pertengkaran itu terjadi karena hasutan kata kata Neddy. Febby berusaha untuk menghindar dari Neddy sementara waktu ini.


»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»


3 bulan kemudian


Setelah 3 bulan lamanya Tuan Angga dalam masa koma, akhirnya sekarang dia sadar.


Mendengar kabar itu Febby langsung bergegas ke rumah sakit.


" Marcel, aku mendapat telfon dari rumah sakit. Angga sudah siuman ... " raut wajahnya yang selama 3 bulan ini selalu murung kali ini berubah menjadi bahagia.


" Apa kau yakin? " tanya Marcel tidak percaya.


" Iya, ayo cepat kesana, " ajak Febby antusias.


Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit bersama. Disepanjang perjalanan hanya ada senyum bahagia dalam wajah Febby. Marcel pun ikut bahagia karena akhirnya Febby bisa tersenyum kembali setelah 3 bulan ini dia selalu bersedih.


Sesampainya di rumah sakit, Febby langsung turun dari mobil dan bergegas menemui Angga suaminya.


" Hey tunggu aku sebentar, " teriak Marcel karena Febby meninggalkannya yang sedang memarkirkan mobilnya. Namun teriakan Marcel tidak dihiraukan oleh Febby.


Setibanya di kamar Tuan Angga, Febby langsung berlari dan memeluk suaminya. Namun pelukan itu ditolak oleh Tuan Angga.


" Akhirnya kau sadar juga, aku sangat merindukanmu, " ucap Febby seraya memeluk Tuan Angga.


" Lepaskan aku, siapa kau? aku tidak kenal denganmu, " balas Tuan Angga yang langsung melepaskan pelukan Febby.


" Kau bercanda ya, tidak lucu tau! " ucap Febby sedikit ketus karena merasa suaminya sedang bercanda.


" Maaf Nyonya, saya harus memberitahukan hal ini pada Nyonya. Karena akibat dari kecelakaan itu Tuan Angga mengalami Amnesia, " ucap dokter menjelaskan kepada Febby.


" Apa? dia Amnesia? tapi apakah dia bisa sembuh? apakah dia mengingatku kembali? " ucap Febby lirih, terlihat jelas kekecewaan diwajahnya.


" Apa? dia Amnesia dok? " teriak Marcel dari balik pintu saat mendengar pernyataan itu.


" Iya, tapi kalian tenang saja, ini masih bisa sembuh. Kalian hanya perlu bersabar, dan lakukan kegiatan ataupun tempat tempat yang sekiranya berkesan bagi dia. Supaya ingatannya bisa lekas pulih, " ucap dokter menjelaskan.