Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 73. Syarat


Lintang duduk di ruang tengah. Matanya terus fokus pada amplop yang ada di depannya. Ia seperti diteror oleh wanita-wanita yang menyukai suaminya. Setelah Claire yang mengirim foto pasaran, kini giliran Natalie mengirimkan sebuah foto yang menurutnya sangat rendahan. 


"Apa aku harus turun tangan dan menjadi pengawal mas Yudha, supaya mereka tidak bisa berulah?" ucapnya kesal, ingin merobek gambar itu, namun ia ingin Yudha pun melihatnya sendiri. 


"Kenapa mereka bisa bertemu, apa ini sengaja atau hanya kebetulan?" 


Sedikitpun hatinya tak merasa cemburu melihat itu. Namun, tetap saja jengkel melihat suaminya disentuh orang lain. Apalagi status mereka adalah mantan, yang seharusnya dibuang pada tempatnya. Lintang lama-lama geram di ganggu wanita-wanita yang nampak tidak laku, atau memang sengaja mereka mengejar Yudha yang tampannya luar biasa. 


"Sayang, kamu harus sabar, punya papa tampan di atas rata-rata harus terima konsekuensinya." Mengelus perutnya yang masih rata. 


Suasana rumah sangat sepi, hanya ada bi Siti dan mbak Mimah membuat Lintang jenuh.


Ia meraih ponselnya, lalu menghubungi Yudha, ingin memberi kabar pada pria itu tentang apa yang dilakukan Natalie. 


Tersambung, beberapa menit kemudian Yudha mengangkat teleponnya. Suara lembut menyapa, tak lupa sebutan mesra pun diluncurkan untuk Lintang.  


"Apa kamu sudah makan?" tanya Yudha sambil mengetik sesuatu di laptop. Menjepit benda pipihnya dengan pundak. 


"Sudah, tadi dapat kiriman dari Bu Natalie." 


Yudha mengerutkan alisnya. Terpaksa ia mengalihkan otaknya pada sang istri yang terdengar ketus. 


"Maksud kamu apa?" tanya Yudha memutar kursi kebesarannya, kini ia menghadap ke luar jendela. 


"Aku tahu tadi mas ketemuan dengan bu Natalie, tapi tidak harus mesra juga." 


"Mesra?" Yudha jadi bingung. Memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing. Harus sampai kapan ia terhindar dari kasus dengan para wanita yang membuat hidupnya terus terusik. Mengganggu rumah tangganya yang baru terjalin rapih. 


"Sayang, aku tidak pernah mesra dengan orang lain selain istriku. Meskipun ilmu agamaku tipis, tapi aku tahu mana yang boleh dan tidak. Tadi dia hanya mengantarkan Lion, karena mobilku di bengkel, terpaksa aku menemani Lion, tapi setelah tiba di sekolah aku naik kendaraan umum." Panjang lebar Yudha menjelaskan membuat hati Lintang lega. Meskipun ia tetap percaya pada sang suami, tetap saja harus mendengarnya secara langsung. 


"Sekarang mendingan kamu istirahat, jangan pikirkan apapun, percayalah aku tidak akan menghianati mu. Aku tahu rasanya diselingkuhin itu sakit, dan aku tidak akan melakukan hal yang sama," ucap Yudha meyakinkan. 


Lintang tertunduk lesu, ternyata mempunyai suami tampan dan mapan tak sebahagia dan semulus yang ia bayangkan. Banyak cobaan yang harus dihadapi jika ingin rumah tangganya langgeng. 


"Cepat pulang, aku kangen," ucap Lintang kemudian mengutarakan isi hatinya.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi aku pulang, sekarang kamu makan setelah itu tidur, tunggu aku."


Setelah memutus sambungannya, Yudha kembali fokus dengan pekerjaannya, ia pun tak ingin berlama-lama menjauh dari Lintang. Apalagi pergulatannya sempat gagal itu membuat Yudha ingin terus mencobanya lagi. 


Tok tok tok 


Ketukan pintu membuat Yudha menoleh. 


"Masuk!" sahutnya tanpa menghadap. 


Ternyata sang asisten yang kini merangkap menjadi sekretaris yang datang. 


"Ada apa, Andre?" tanya Yudha. 


"Maaf pak, saya mengganggu. Ada mahasiswa magang yang ingin bertemu, Bapak," ucap Andreas. 


"Bian?" tebak Yudha seketika. Sebab, hanya pria itu satu-satunya siswa magang yang pernah berinteraksi dengannya. 


"Iya, katanya adiknya bu Lintang," ucap Andreas menjelaskan, meskipun wajah Bian tak asing, Andreas memastikan keakuratan tentang pengakuan itu. 


"Iya, rencananya aku mau menyuruh dia menggantikan Hilya, tapi kamu tes aja dulu, kalau kinerjanya baik, it's okay. Tapi kalau menurut kamu Bian kurang mumpuni, kasih pekerjaan lain, aku akan secepatnya mencari sekretaris yang baru."


Setelah dirawat sehari semalam, akhirnya kondisi pak Juli semakin membaik. Pria itu bisa turun dari ranjang, ke kamar mandi sendiri serta beralih duduk di sofa. 


Kedatangan bu Fatimah tak hanya menghibur rasa sakit yang diderita pak Juli, akan tetapi juga mengobati rasa rindu yang menyesakkan dada. 


"Kamu ke sini diantar siapa?" tanya pak Juli duduk di samping bu Fatimah. 


"Supirnya Yudha," jawab Bu Fatimah singkat, membuka rantang yang ia bawa. 


"Nggak usah repot-repot. Lagipula di sini sudah ada makanan dari dokter." Menyungutkan kepalanya ke arah meja yang ada di samping brankar. 


"Aku tahu kamu nggak suka bubur, Mas. Jangan dipaksakan, nanti perutmu sakit." 


Sekecil apapun bu Fatimah tetap ingat dengan apapun yang tidak disukai suaminya. 


Bu Fatimah menyodorkan piring yang di penuhi nasi dan lauk itu di depan pak Juli. 


Aroma khas masakan menusuk rongga hidung pak Juli hingga membuat perutnya keroncongan. Tapi, ia masih malu-malu untuk segera melahapnya. 


"Bu, apa kamu yakin tidak mau kembali padaku?" Pak Juli mengalihkan pembicaraan. 


Bu Fatimah memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia tak ingin melihat wajah  pak Juli yang nampak penuh harap. Keputusannya tetap sama, ingin bercerai dari pria yang ada di sampingnya itu. Namun, bayangan manis di masa lalu juga semrawut dan membuatnya ragu.


"Ini semua tidak ada hubungannya dengan Yudha, aku sadar, siapa seseorang yang seharusnya aku perjuangkan."


Bu Fatimah tertawa. Ini seperti lelucon di tempat yang salah. Setelah lima tahun hidup dalam keterpurukan dan kehilangan akal sehat. Pak Juli sedetik pun tidak pernah menampakkan wajahnya, tapi kenapa baru sekarang, dulu kemana di saat dirinya harus berjuang melawan rasa sakit, dulu kemana disaat Lintang hanya sendirian merawat dirinya. 


"Maaf, Mas. Tapi aku tidak bisa. Aku tetap ingin kita bercerai. Kamu dengan kehidupanmu, begitu juga denganku. Kita akan menjadi orang lain," ucap Bu Fatimah kekeh. 


Dering ponsel pak Juli menghentikan bibir pria itu yang hampir berbicara. Ia meraihnya dan meletakkan di telinga setelah melihat siapa yang menghubunginya. 


"Halo, Nak. Ada apa?" tanya pak Juli lembut. 


Bu Fatimah mengusap air matanya lalu mendekat, ingin mendengar suara Lintang. 


"Gimana keadaan ayah?" 


Sebenci apapun, Lintang tetap saja tidak tega melihat ayahnya yang saat ini sakit,  apalagi itu semua adalah ulah ibunya. 


"Ayah sudah sehat, nanti siang boleh pulang, jangan khawatir. Jaga bayi kamu dengan baik. Ayah sudah tidak sabar ingin menimangnya."


Terdengar suara gelak tawa dari sudut bibir Lintang. Entah, sudah sekian lama akhirnya pak Juli bisa melihat kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. 


"Masih lama, ayah. Nggak tahu kenapa dedeknya ingin di elus sama opa nya, aku mau ke sana tapi nungguin mas Yudha, dia belum pulang." 


"Kak…" 


Suara berat dari ambang pintu membuat Lintang menoleh. Ia meletakkan ponselnya tanpa memutus sambungannya. 


"Bian, ngapain kamu ke sini?" tanya Lintang menyelidik. 


"Aku ke sini disuruh jadi supirnya kak Lintang. Katanya itu syarat untuk menjadi sekretaris di kantor kak Yudha."


Lintang hanya menahan tawa mendengar sebuah syarat yang tidak masuk akal.