
Pak Juli tergugu. Sungguh, kebahagiaannya malam ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Keluarga yang lama diabaikan memberi kejutan indah. Sekecil apapun mereka tak pernah melewatkan momen penting. Selalu mengutamakan dirinya setiap waktu.
Lion yang ada di atas ranjang ikut turun dan meniup lilinnya. Mendahului pak Juli yang masih sibuk dengan tangisannya.
"Ini ulang tahun opa, Sayang. Kenapa kamu tiup?" tegur Yudha menggiring Lion ke ruang tamu. Kini semua orang berkumpul di sana, begitu juga dengan pak Juli yang tak ingin mengakhiri suasana itu.
Ucapan dan doa bertubi-tubi menghiasi telinga pak Juli. Luna dan Arief ikut merasakan perbedaan melihat keluarga Lintang yang kini bersatu lagi.
"Opa, cepetan potong kuenya?" pinta Lion sambil mencolek butter cream warna-warni yang menyelimuti kue di atas meja.
Anak ini, kapan tidak mempermalukan ku, gerutu Yudha dalam hati. Menatap semua orang yang tertawa dengan tingkah konyol anaknya.
"Ayah, panjatkan doa dulu sebelum memotong," pinta Lintang. Menahan tangan sang ayah yang hampir memegang pisau.
Pak Juli menengadahkan tangan ke atas. Kedua matanya terpejam. Berdoa dari hati terdalam.
Ya Allah, terima kasih atas anugerah yang Engkau berikan. Seperti janjiku saat meminang Fatimah, hari ini dan seterusnya aku akan menjaganya. Aku akan berada di sampingnya sampai Engkau mengambil nyawaku. Berikanlah kebahagiaan untuk putriku. Izinkan dia menjemput kebahagian bersama orang yang dicintainya.
Setelah mengusap wajahnya dengan pelan, Pak Juli mengambil pisau. Ia mulai memotong kue yang ada di depannya.
Potongan pertama langsung diberikan pada Lion, satu-satunya bocah yang paling tidak sabar ingin mencicipinya.
"Enak?" tanya Lintang yang juga mendapat suapan yang kedua.
Saking tak sabarnya, Lion pun memotong sendiri dengan ukuran yang lebih besar lalu melahapnya.
"Sekarang giliran Ayah menyuapi ibu," ucap Lintang yang mengambilkan untuk Yudha. Ia ingin melihat kemesraan mereka yang pasti nya seru.
Pasangan yang saling beradu romantis. Luna dan Arief pun tak mau kalah, mereka juga mesra seperti yang lainnya.
"Nggak usah, ibu malu. Sudah tua," tolak Bu Fatimah memalingkan pandangannya ke arah Luna dsn Arief.
Pak Juli tersenyum tipis. Menyodorkan kue di depan bibir Bu Fatimah.
"Di hari anniversary kita, aku meninggalkanmu, disaat itu aku bilang tidak akan pulang lagi karena aku mencintai perempuan lain. Kamu menangis dan merangkul kakiku. Tapi apa yang aku lakukan? Aku tidak peduli, tapi aku berat mengucapkan kata cerai."
Bu Fatimah meneteskan air mata. Bukan hanya pak Juli, dirinya pun masih mengingat itu semua, bahkan sekarang pun masih membekas di ulu hati.
"Tapi malam ini, aku sendiri yang akan mengatakan di depan anak dan menantu kita, bahwa aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Bukan karena kamu kaya dan banyak uang, tapi aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu."
Suasana itu semakin mengharukan. Lintang tak sanggup untuk menahan air matanya saat melihat ketulusan sang ayah. Ia yakin ini akhir dari segalanya, kedua orang tuanya bersatu dan kembali membina rumah tangga.
"Ayo dong, Bu. Buka mulutnya," pinta Lintang membujuk.
Bu Fatimah membuka mulutnya. Meskipun ragu, tetap saja ia menerima suapan dari sang suami.
Suara tepuk tangan riuh mengiringi saat Bu Fatimah membalasnya. Menerima pelukan hangat dari pak Juli.
Setelah sekian lama, Akhirnya Allah menjawab doaku, meskipun terlambat, aku tetap merindukanmu.
"Terima kasih," bisik Pak Juli di telinga Bu Fatimah.
Acara itu semakin meriah dengan tingkah lucu Lion, dari sekian banyak orang, bocah itu yang menghabiskan banyak kue nya.
Mereka juga menikmati makanan yang di maaak pak Juli. Meskipun sederhana, tetap saja sedap, bahkan Yudha nampak menyukainya.
"Lion, kita pulang yuk!" ajak Yudha pada Lion yang sedang bermain dengan pak Juli.
Lion memanyunkan bibirnya. Menatap pak Juli dan Bu Fatimah bergantian.
"Malam ini aku mau tidur dengan opa dan oma, Pa. Aku nggak mau ikut pulang."
Lion berhamburan memeluk Bu Fatimah. Seakan tak ingin lepas dari wanita itu.
"Tapi di sini nggak ada ac nya, Sayang," sergah Bu Fatimah langsung.
"Nggak papa, Oma. Lion sudah biasa kok," bantahnya.
Entah kenapa, ia begitu ngotot ingin menikmati ranjang berderit di kamar bu Fatimah. Bagi Lion, Itu seperti sebuah mainan yang unik.
Terpaksa Lintang dan Yudha menyetujui permintaan bocah itu. Dengan berat hati mereka meninggalkan Lion di rumah orang tuanya.
Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menerobos jalanan di antara kegelapan. Hari ini ia merasa kebahagiaannya sempurna. Seluruh keluarganya yang pernah terpecah belah kini utuh kembali.
Yudha menoleh, menatap Lintang yang nampak bermain ponsel miliknya. Menatap perutnya yang mulai membuncit. Tangannya mengulur lalu mendarat di sana. Meraba-raba calon bayinya yang masih bersemayam.
"Sayang, nanti kalau anak kita cewek, aku akan kasih nama dia Rembulan. Tapi kalau cowok, namanya Bintang."
"Aku setuju," jawab Lintang tanpa meletakkan ponselnya. Ia pun enggan untuk mencari nama-nama bagus yang pasti akan membuatnya pusing.
Disaat Hening, tiba-tiba Lintang tertawa. Menutup mulutnya dengan telapak tangan membuat Yudha penasaran. Pasalnya, yang dilihat sang istri itu adalah ponsel pribadinya, yang menyimpan banyak kenangan dirinya seorang.
"Kamu lihat apa sih?" tanya Yudha mencoba merebut ponselnya dari tangan Lintang.
Lintang mengangkat tangannya. Menghadapkan layar tepat ke arah sang suami yang sibuk dengan setirnya.
"Mas lihat deh," pinta Lintang cekikikan.
Yudha menoleh lagi, menatap layar yang menyala, nampak di sana gambarnya yang masih remaja itu hanya memakai ****** *****.
Kapan foto itu diambil? Yudha sudah lupa akan masa mudanya.
Seketika wajahnya bersemu malu saat sang istri nampak terhibur.
"Sayang, sini hp nya, aku malu."
Meskipun saat ini otaknya sangat mesum, tetap saja insecure jika Lintang tahu kepribadiannya yang ternyata adalah orang konyol.
Yudha tak berputus asa dan ingin merebut benda pipihnya. Lintang tak mau kalah, ia mengimpitnya dengan erat. Namun, karena menghindari tangan Yudha, benda itu jatuh di bawah kakinya.
"Awas ya, sampai rumah akan aku hukum kamu," ancam Yudha dengan bergelak tawa.
Baru saja Yudha membungkuk. Suara klakson terdengar memberondong. Lintang menjerit saat sebuah truk dari arah berlawanan melaju dengan kencang.
"Mas, awas…!" Lintang menarik lengan Yudha.
Yudha membanting setir ke arah kiri menghindari truk itu. Namun nahas, mobil yang di tumpanginya menabrak sebuah pembatas jalan hingga mobilnya terperosok ke dasar jurang.
Sebuah ledakan terdengar membuat beberapa orang yang melintas harus berhenti.