
Tuan Angga melepaskan pelukan itu. " Sudah ayo makan, aku sudah sangat lapar," ucapnya lagi seraya menggandeng Febby untuk kembali duduk.
Tiba tiba semua lampu penerangan menyala semua. Menerangi dinner mereka. "Jadi kau sengaja mematikan semua lampu ya? dasar," ucap Febby pura pura kesal.
"Menurutmu?" jawab Tuan Angga menggoda Febby. Febby hanya mendengus kesal. Kemudian mereka memulai menyantap makanan yang telah tersaji di meja.
"Huft ... aku kenyang. Rasanya aku sudah nggak kuat berjalan deh. Nanti gendong ya," ucap Febby manja.
"Tadi belum makan saja sudah berat, apalagi sekarang? Sepertinya aku juga nggak kuat kalau harus gendong kamu," jawab Tuan Angga menggoda Febby.
Setelah selesai makan, mereka duduk berjajar menghadap pantai. Membiarkan semilirnya angin malam membelai lembut wajah mereka. Febby menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Mereka saling diam, sama sama berhayal dengan angannya masing-masing.
" Sayang, apa kau benar benar mencintaiku?" suara Tuan Angga memecah kesunyian. Febby hanya mengiyakan, menjawab singkat dengan masih terus menatap keindahan pantai dari taman belakang Villa.
"Apapun yang terjadi apa kau masih tetap mencintaiku dan tidak akan meninggalkanku?" suara itu terdengar sangat serius. Febby menarik kepalanya, menatap heran wajah laki laki di depannya yang tak lain adalah suaminya.
"Kenapa tiba tiba bicara seperti itu? Kau tau awal pertemuan kita memang tidak baik. Awal hubungan kita juga dimulai dengan tidak layak. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa denganmu. Entah sejak kapan juga perasaan ini muncul. Yang jelas sekarang aku mencintaimu dan akan tetap mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi."
Tuan Angga langsung memeluk Febby. Seperti tidak ingin angin malam membelai tubuh istrinya itu. Mengecup lembut ubun-ubun istrinya berulang kali. Febby mulai merasa engap dengan pelukan suaminya yang sangat erat, membuatnya susah bernapas.
Febby berusaha melepaskan pelukan suaminya. Menatap wajah suaminya dengan memberikan senyuman hangat. " Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu? Katakanlah," ucap Febby dengan suara yang lembut.
Tuan Angga terperanjak dengan kata kata yang dilontarkan oleh istrinya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu mengenai kegundahan hatinya. Selama ini semua kegundahan itu hanya berkecamuk dalam hatinya. Mungkin ini adalah saat yang tepat baginya untuk mengatakan segalanya pada Febby.
" Em ... tidak. Tidak ada, aku hanya takut jika suatu saat aku akan kehilanganmu," jawabnya sambil mencubit gemas pipi Febby.
"Ayolah, kenapa harus berbohong. Matamu itu jelas menunjukkan ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Angga, aku mencintai dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku juga akan mempercayai dirimu. Jadi ku mohon katakan sebenarnya ada apa?"
Tak ada jawaban dari Tuan Angga. Dia hanya menatap kecut wajah Febby. Keraguan muncul dalam hatinya. " Baiklah. Sayang, jika aku mengatakan bahwa aku pura-pura amnesia apa kau akan marah padaku?" ucap Tuan Angga dengan wajah kecut.
"Kau sudah tahu dan kau tidak marah padaku?" Tuan Angga sangat antusias dengan jawaban yang diberikan oleh Febby.
"Ya. Aku sudah menaruh curiga sejak awal. Tapi aku membiarkannya dan tidak menyelidikinya. Ya mengingat waktu kamu terkapar di ranjang Rumah Sakit rasanya itu sudah cukup membuktikan cintamu padaku kan?"
Tuan Angga hanya tersenyum kecut. Sorot matanya masih menyimpan kegundahan yang kian memanas. Febby mengetahui akan hal itu. Dia dapat melihat jelas kekhawatiran dari mata suaminya.
"Apa kau yakin tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? Ayolah, moodku sedang baik hari ini. Jadi ucapkan saja apa selalu menghantui pikiranmu itu," Febby masih berusaha memancing suaminya. Berharap dia akan mendapatkan jawaban dari kegelisahannya selama ini.
Tuan Angga hanya tersenyum, lalu memeluk erat kembali istrinya itu. " Tidak ada. Aku hanya takut jika suatu saat kau akan meninggalkanku," seraya mengeratkan pelukannya. Tanpa sadar langit menitikkan air. Membasahi tubuh mereka yang sedang menikmati suguhan pesona laut malam hari.
" Aduh hujan, ayo cepat kita harus pergi," ucap Febby seketika sambil beranjak pergi menarik tangan suaminya. Tuan Angga hanya mengikuti tarikan tangan Febby. Berlari sebisa mungkin menghindari hujan yang kian lebat.
"Huh, akhirnya. Kau! kenapa kau malah tertawa!?" ucap Febby kesal dengan tingkah suaminya. " Segitu takutnya sama hujan? toh hujan nggak akan memakanmu. Kenapa harus lari? bukannya akan lebih mesra jika kita berduaan di bawah guyuran air hujan?" balas Tuan Angga dengan senyum menggoda. Mereka kini sudah sampai di depan pintu masuk Villa. Febby hanya bisa mendengus kesal. Lalu masuk ke dalam Villa, berlari menaiki anak tangga tanpa memperdulikan panggilan dari suaminya.
Tuan Angga mengejar Febby sampai depan pintu kamar mereka. Tuan Angga langsung menarik tangan Febby sebelum Febby membuka pintu kamarnya. Febby terhenti seketika. Membalikkan badannya dan memasang wajah cemberut. Tuan Angga lamgsung mencium kening istrinya. Wajah Febby seketika memerah, menahan malu tapi dia juga masih sebal dengan suaminya. Dia hanya berusaha untuk tetap acuh pada suaminya.
Febby langsung masuk ke kamarnya. Mengambil handuk dan langsung ganti pakaian di kamar mandi. Tuan Angga duduk di sofa sambil menunggu Febby keluar. Setelah Febby keluar, dia langsung naik keranjang. Menarik selimut lalu menutup matanya berpura pura tidur. Mungkin itu bentuk ngambeknya dia pada suaminya.
Tuan Angga tau bahwa Febby sedang ngambek karena dia meledeknya tadi. Disusulnya Febby, Tuan Angga merebahkan tubuhnya di samping Febby. Memeluknya dari belakang. Namun di luar dugaan Febby membalikkan badannya dan langsung mencium bibir suaminya. Tuan Angga dibuat kaget dengan aksi Febby.
"Eh kupikir kamu sedang marah karena tadi aku goda. Kenapa sekarang jadi agresif begini?" ucap Tuan Angga di sela sela nafasnya. Febby tak menjawab. Dia langsung mencium bibir suaminya lagi dan kini ciumannya lebih liar. Tuan Angga tampak menikmati setiap serangan demi serangan yang di berikan oleh Febby.
" Sayang, waktu liburan kita sudah selesai. Besok kita harus pulang. Sebenarnya malam ini aku ingin mengukir kisah malam ini denganmu di kamar ini. Tapi mengingat kamu sedang ..." Tuan Angga tak meneruskan ucapannya. Wajahnya terlihat kecewa menahan hasratnya.
Sontak Febby langsung tertawa terbahak bahak. Dia tahu betul kegelisahan suaminya. Dia harus sekuat mungkin menahan diri. " Aku sedang datang bulan? Hahaha kamu itu ya, aku hanya berbohong untuk bisa menghindarimu. Malam ini aku juga ingin mengukir kisah denganmu."
Mendengar jawaban Febby, Tuan Angga langsung melangsungkan serangannya. Dia langsung mencium bibir tipis Febby. Ciumannya turun ke lehernya, tangannya bergerilya menyusuri tubuh sexy Febby. " Malam ini kamu harus membayar hutangmu padaku. Tidak akan ku ampuni, tidak akan."