Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 94. Wasiat


Lintang masuk ke kamar. Mendekap Lion yang masih tenggelam di alam mimpi. Mencium pucuk kepala bocah itu, menguatkan kasih sayangnya yang melebihi ibu kandung. 


Ia belum siap, kehilangan Yudha saja membuat separuh hidupnya kelabu, apalagi jika Lion jatuh ke tangan Natalie, Lintang tak akan bisa menjalani hidupnya lagi. 


"Mama sayang sama Lion. Tetap berada di samping mama sampai kapanpun." Berbisik di telinga Lion.


Setelah mendapat telepon dari pengacara Natalie. Ia semakin takut kehilangan sang buah hati. Satu-satunya yang bisa menguatkan dirinya untuk tetap tabah menghadapi ujian hidup. 


"Lintang, Mama masuk, ya?" teriak Bu Indri dari arah pintu. 


"Iya, Ma," jawab Lintang tanpa ingin turun, ia benar-benar takut untuk melepas Lion. 


Bu Indri duduk di belakang Lintang. Mengusap punggung wanita itu dengan lembut. 


"Jangan takut, Sayang. Papa dan Andreas sudah melakukan sesuatu untuk mempertahankan Lion," jelasnya. 


Meskipun begitu, Lintang masih belum lega jika belum mendapat putusan dari pengadilan. 


"Aku tahu, Ma. Tapi aku takut Bu Natalie akan merampas Lion dariku."


Lintang terbangun, duduk bersandar di hardboard. Matanya mengarah langsung pada gambar sang suami yang terpajang di atas pintu. 


Kamu ke mana sih, Mas. Kenapa kamu nggak pulang, aku kangen. 


Biasanya hanya Yudha yang mampu menghapus semua kesedihan Lintang, namun kali ini seakan pria itu abai dengan masalah yang membelitnya. 


"Sekarang keluarlah! Temui Andreas, katanya ada yang perlu kamu tanda tangani." Menepuk-nepuk punggung tangan Lintang lalu turun lebih dulu. 


Lintang ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Menyamarkan matanya yang sedikit memerah juga sembab. Semenjak kecelakaan itu tiada hari tanpa tangis. Terkadang Lintang merutuki dirinya sendiri. Seolah-olah dia lah yang menyebabkan itu terjadi. 


Lintang keluar tanpa make up, ia juga memakai baju tertutup. Menemui Andreas yang berada di ruang tamu. Duduk di seberang meja saling berhadapan dengan sang asisten. 


"Ini apa lagi, Pak?" tanya Lintang tanpa ingin menyentuh map yang ada di depannya. 


"Ini hanya surat persetujuan bahwa ibu menerima persidangan." Andreas tersenyum saat menyodorkan pulpen di depan Lintang. Padahal, hati sang majikan saat ini sudah bergemuruh takut. 


"Jangan takut, Bu. Silakan baca yang ini!" Menyodorkan map yang berwarna biru. 


Lintang menerimanya dengan ragu. Menatap wajah Andreas yang terus mengulas senyum lalu ia membacanya lagi dengan teliti. 


Tangis Lintang pecah setelah membaca pernyataan yang tertulis diatas kertas putih itu. Ia tak bisa membendung air matanya yang menumpuk. Kepergian Yudha menciptakan luka yang mendalam. Namun, pria itu seakan tahu apa yang akan dihadapi Lintang jika dirinya tiada. 


 


Sebuah kalimat yang menyentuh hati. Memberikan kehangatan dalam setiap kata yang ditulis. Bahkan, masalah kecil pun Yudha sudah menyiapkan jalan keluarnya. 


Hanya kamu satu-satunya orang yang mengerti aku, Mas. Tapi kenapa kamu pergi secepat ini. 


Bu Indri dan Bu Fatimah duduk di samping Lintang dan merangkulnya. Mengusap punggung sang putri yang bergetar hebat. 


"Ternyata mas Yudha tidak hanya mengambil hak asuh Lion, dia juga membuat pernyataan bahwa Lion adalah anak adopsi ku, Ma, Bu. Dan tidak ada yang bisa menggugat itu, termasuk mama kandungnya," ucap Lintang di sela-sela isakannya. 


Bu Indri dan Bu Fatimah pun ikut menangis bahagia, bangga dengan antisipasi yang dilakukan putranya. Yudha sudah membuat tameng dengan apa yang ditakutkan. Komitmen hidup yang sangat luar biasa. Menjaga orang tercinta dengan cara yang berbeda, meskipun sempat membuat Lintang benci tetap pria itu adalah yang terbaik. 


"Yang ini adalah surat wasiat yang dibuat pak Yudha setelah mengetahui ibu hamil."


Berat hati Andreas menyerahkan tas di depan Lintang. 


"Pengacara pak Yudha tidak bisa ikut karena dia harus ke pengadilan," lanjut Andreas menjelaskan. 


"Wasiat?" tanya Lintang memastikan. 


Andreas mengangguk. 


"Ibu harus baca satu persatu tentang pembagian harta milik pak Yudha," pinta Andreas. 


Lintang menatap Bu Indri lalu kembali fokus pada tas di depannya. 


"Lebih baik bapak saja yang baca." 


Tangan Lintang tiba-tiba gemetar, ia tak sanggup menyentuh apapun mengingat sosok suami yang kini menghilang. 


Andreas membacakan satu persatu isi wasiat yang ditulis langsung oleh tangan Yudha. Di dalam surat itu, Yudha menyerahkan seluruh hartanya pada Lintang. Yakin jika sang istri bisa memegang amanah yang diberikan. 


Sedangkan untuk Lion, Yudha sudah menyiapkan untuk kelangsungan hidup bocah itu hingga dewasa. Memberikan beberapa aset yang ada di luar negeri, tapi tetap harus dalam kuasa Lintang yang sudah sah menjadi ibunya. 


Lintang menangis tersedu-sedu. Setiap apa yang diucapkan Andreas membuat hatinya tersayat. 


Setelah membacakan, Andreas memasukkannya lagi dan menyerahkan pada Lintang. 


"Bu Lintang, ini sepertinya ada surat untuk ibu." Memberikan sebuah amplop putih yang terselip di tengah dokumen. 


Lintang mengambilnya, membolak-balikkan amplop itu lalu mendekapnya. 


Ia tidak tahu isinya, akan tetapi Lintang yakin itu bisa membuatnya tenang. 


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu, ibu tidak usah kemana-mana, nanti saya akan memberi kabar."


Lintang mengangguk, setelah kepergian Andreas, ia masuk ke kamar lagi. Duduk di tepi ranjang, menyiapkan hatinya untuk membuka amplop itu. 


Untuk istriku tercinta, Lintang Anastasya. 


Baru itu saja Lintang sudah berderai air mata. Namun, ia tetap mengukuhkan hatinya sekuat baja. 


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Umur kita terpaut jauh, namun kita disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan. Mungkin Aku bukan laki-laki romantis seperti yang kamu harapkan, tapi aku akan selalu membuatmu nyaman. Kamu sangat berharga bagiku. 


Terima kasih karena kamu sudah mau mendampingi hidupku dan mengandung anakku. Aku tidak bisa membalas apa-apa. Tidak ada yang tahu rencana Tuhan, tidak ada yang tahu pula di antara kita siapa yang akan meninggal duluan.


Aku ingin kita bersama sampai kita beruban, tapi semua kembali pada sang pencipta.


Sayang, seandainya aku yang pergi lebih dulu, tolong kamu jaga anak kita dan juga Lion. 


Lintang melempar kertas itu ke lantai, ia tak sanggup lagi untuk meneruskan surat yang membuat hatinya remuk. 


"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat, kenapa kamu tega meninggalkan aku seperti ini, ini nggak adil."


Lintang memeluk bantal dengan erat. Menguatkan hatinya untuk tidak runtuh. 


Ia memungut kembali kertas itu lalu membacanya lagi, meskipun air matanya terus mengalir, Lintang tetap mencoba tegar. 


Jaga mereka dengan baik. Pada dasarnya, kita dipisahkan hanya untuk sementara, tidak ada yang kekal di dunia ini, semua hanya titipan. 


Kamu harus tahu, kalau aku sangat mencintaimu lebih dari apapun, maafkan aku yang pernah menyakitimu dan ibu. Semua manusia tempatnya salah dan khilaf, begitulah aku yang hanya manusia biasa. Tetap tersenyum, Sayang. 


Aku mencintaimu 


Aku mencintaimu 


Aku mencintaimu 


Jangan lupa mampir ke novel ini ya, Besti....


Dijamin mengaduk-aduk perasaan kalian