Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Aku mencintaimu


Baru berjalan beberapa langkah, Febby tiba tiba berhenti. Tuan Angga juga berhenti, menatap heran sekaligus khawatir.


"Kenapa berhenti? Kau tidak apa apa kan?" tanya Tuan Angga khawatir.


"Aku capek, aku juga lapar, sepertinya aku sudah enggak kuat jalan. Gendong aku ya," ucap Febby sambil pasang wajah imutnya.


"Ok, baiklah. Tapi ...."


"Tapi apa?!" jawab Febby ketus dan menaruh curiga. Sepertinya dia sudah tahu dengan kelanjutan dari ucapan suaminya.


"Tapi aku mau kau memanggilku dengan panggilan sayang. Jadi kita terlihat lebih mesra," jawab Tuan Angga dengan senyum genitnya.


"Oow ... Ok. Baiklah," jawab Febby singkat sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


Dasar bodoh. Kenapa aku bisa berpikiran sejauh itu sih. Kenapa jadi aku yang berpikiran mesum gini sih.


Febby hanya senyum senyum sendiri sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Membuang semua pikiran mesum yang ada di kepalanya.


"Hayo! lagi mikirin apa? Jangan bilang kamu berpikir aku bakal minta jatah. Iyakan?" Tuan Angga mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Febby.


Wajah Febby langsung memerah. "Ih apaan sih, enggak kok," Febby berusaha mengelak.


"Ya semoga saja ucapanmu benar. Jangan sampai kau juga mesum sepertiku," jawab Tuan Angga setengah meledek Febby.


Febby mencubit perut suaminya. Tuan Angga berusaha menghindar dan langsung menggendong Febby.


"Aww!! ...." teriak Febby spontan karena kaget Tuan angga yang tiba tiba menggendongnya tanpa aba aba.


"Sudah diam jangan banyak bergerak. Atau kau akan ku jatuhkan."


Febby langsung diam, dan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.


Tuan Angga menggendong Febby sampai di parkiran.


"Sudah sampai," ucap Tuan Angga sambil menurunkan Febby. " Ternyata kamu berat juga ya," Tuan Angga kembali menggoda Febby.


Febby hanya tersenyum kecut. " Apaan sih, udah jangan bercanda mulu."


Tuan Angga hanya tersenyum, lalu membukakan pintu untuk Febby. " Silahkan Tuan Putri," ucapnya dengan lembut.


Tanpa menggubris suaminya, Febby langsung masuk ke mobil dan di ikuti oleh Tuan Angga.


"Lalu kita mau menginap di mana? Kita kan belum boking hotel ataupun Villa?"


" Sudah tenang saja," ucap Tuan Angga singkat sambil tetap fokus menyetir.


Febby hanya mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya. Mengingat semua hal yang dia lewati seharian bersama suaminya.


Tuan Angga melihat Febby yang sedang melamun dan senyum senyum sendiri. Melihat orang yang dia cintai mampu tersenyum karena dirinya, membuatnya juga merasakan senang.


Aku berharap, semoga selamanya hatimu, dan juga cintamu hanya untukku. Aku mencintaimu.


Tuan Angga mengusap lembut rambut Febby. Membuat Febby terjaga dari lamunannya.


"Eh, kenapa?" tanya Febby kaget dan juga bingung harus ngapain.


Tuan Angga hanya tersenyum, menatap lembut wanita yang ada di sampingnya itu.


"Kau kenapa? Apa kau tidak bisa untuk tidak selalu menatapku seperti itu?" ucap Febby yang mulai salah tingkah dengan pandangan suaminya.


" Kenapa?"


"Apanya yang kenapa? Kenapa kau malah balik bertanya? Ah kau ini," jawab Febby kesal dan kembali menyenderkan kepalanya pada kursi.


Tanpa sadar Febby tertidur, mungkin karena dia kelelahan. Setelah sampai di villa yang di tuju, Tuan Angga disambut banyak sekali pelayan.


"Selamat datang Tuan," ucap salah satu diantara mereka.


"Hem. Tolong bawakan tas Nona," jawab Tuan Angga singkat sambil membopong Febby yang masih tertidur.


Para pelayan itu hanya mengangguk pelan. Mengambil tas Febby kemudian mengikuti Tuan Angga dari belakang.


Setelah sampai di depan pintu kamar, semua pelayan itu berhenti. Membiarkan Tuannya masuk, menunggu jika ada perintah lagi.


"Kalian bisa pergi," ucap Tuan Angga memberi perintah.


Tuan Angga merebahkan Febby di ranjang dengan sangat hati hati. Melihat Febby yang terlihat begitu kelelahan, membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.


Tuan Angga memilih untuk mandi, membersihkan badannya yang terasa lengket.


Sampai dia selesai mandi, Febby masih belum bangun juga.


Tuan Angga mendekati Febby, memandangnya cukup lama. Kemudian mengecup keningnya. Membuat Febby terjaga dari tidurnya.


"Eh, kamu ngapain?" ucap Febby yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Memandang wajah cantik istriku," jawab Tuan Angga lembut.


"Gombal, sudah minggir aku mau bangun," balas Febby sambil mendorong suaminya.


"Aku mau mandi dulu," ucapnya lagi sambil berjalan ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian dia keluar lagi hanya dengan mengenakan handuk untuk menyelimuti tubuhnya.


" Loh kok kesini lagi? minta di mandiin?" goda Tuan Angga.


"Ih apaan sih. Showernya mati gimana mau mandi," ucap Febby ketus.


Tuan Angga hanya tersenyum melihat tingkah Febby. Dia kemudian beranjak dari duduknya untuk mengecek showernya. Sedangkan Febby hanya menunggu di luar pintu.


"Sudah. Sekarang mandilah. Aku tunggu kamu disini," ucapnya lembut.


"Terima kasih sayang," ucap Febby seraya masuk ke dalam.


Tak butuh waktu lama, Febby sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk. Dia bergegas ganti baju dan make up ala kadarnya.


Tuan Angga memeluk Febby dari belakang. Menatap bayangan diri mereka dalam cermin, kemudian menciumnya.


"Sudah siap?" tanyanya masih tetap melingkarkan tangannya.


"Memangnya mau kemana?" jawab Febby heran.


"Makanlah. Cacing di perutku sudah kelabakan. Atau kita tidak usah makan, aku memakanmu saja. Hem?" goda Tuan Angga.


Febby langsung memutar badannya. Menatap wajah suaminya, dia tersenyum tipis lalu mencubit perut suaminya. "Aku juga lapar! Kalau kita tidak makan aku bisa mati. Nanti aku tidak bisa melayani kamu dong," jawabnya balik menggoda suaminya.


"Hem rupanya sudah berani ngegas ya?" balas Tuan Angga yang kaget dengan reaksi Febby. Dia tidak menyangka istrinya akan balik menggodanya.


"Iya dong. Ayok katanya mau makan," jawab Febby mengalihkan suasana yang mulai memanas. Kalau tidak dialihkan, mungkin dia akan menjadi santapan suaminya beneran.


"Ok, Baiklah. Ayo," ucap Tuan Angga seraya menggandeng tangan Febby.


******


"Loh kok disini sih dinnernya?" tanya Febby heran. Tuan Angga memang sengaja membawa Febby ke taman belakang Villa yang langsung menghadap pantai.


"Kenapa? Bukannya mau melihat keindahan pantai di malam hari?"


"Iya tapi ... disini gelap. Lampu penerangan di sini kurang. masa iya kita mau dinner gelap gelapan? lihat hanya ada dua lilin di meja makan," protes Febby kesal.


"Sudah jangan banyak protes. Mau makan nggak? kalau nggak mau ya sudah. Aku makan sendiri saja," jawab Tuan Angga santai sambil berjalan menuju meja makan yang sudah disiapkan.


Dengan terpaksa, Febby mengikuti langkah suaminya. Baru saja mereka duduk, tiba tiba lampu penerangannya mati. Kini mereka hanya diterangi oleh lilin di meja makan.


" Suiiittt ... Dorrr ... Suiiittt ... Dorrr ... Dorrr ... Dorrr ... Suittt ... Dorrr ...."


Suara kembang api yang bertubi tubi menyembur ke atas. Menghiasi langit malam hari, menambah ke indahan malam hari yang begitu cerah.


Febby tercengang dengan kejutan itu. Dia langsung berdiri, bibirnya tersenyum dengan terus melihat aksi kembang api yang menyembur ke atas. Sampai pada letusan kembang api yang terakhir, uraian dari letusan kembang api itu membentuk sebuah tulisan, " I Love You Istriku "


Mata Febby berkaca kaca saat melihat tulisan itu. Dia tidak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa menangis. Ya menangis bahagia.


"Apa kau menyukainya sayang?" ucap Tuan Angga membuyarkan lamunan Febby. Febby langsung memeluk suaminya.


"Aku menyukainya. Terima kasih, aku juga mencintaimu," ucapnya masih dengan memeluk suaminya. Air matanya menetes membasahi pipinya.


Tuan Angga melepaskan pelukan itu, menyeka air mata Febby. "Sudah jangan menangis, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Aku ingin kau menjadi wanita yang paling bahagia. Aku mencintaimu sayang, sangat sangat mencintaimu," kemudian mereka langsung berpelukan kembali.