
"Papa, Mama di mana?" teriak Lion sambil menggoyang-goyangkan lengan kekar Yudha yang masih berbaring diatas kasur.
Matanya terasa berat untuk terbuka mengingat sang istri yang kini tak ada di sisi nya. Namun, karena sang buah hati terpaksa Yudha harus bangun.
"Lion sudah bangun," ucap Yudha dengan suara serak, mengangkat tubuh mungil Lion dan mendudukkan di perut sispeknya.
"Mama mana, Pa?" tanya Lion semakin mendesak.
"Mama di rumah, Sayang," jawab Yudha mengusap pucuk kepala Lion dengan lembut. Wajahnya yang imut sedikit memberikan semangat pagi untuknya yang sedang dilanda masalah.
"Kita pulang, Pa. Aku kangen sama mama."
Kasihan Lion, bagaimana kalau dia tidak bisa menemui Lintang, aku harus mencari cara untuk mempertemukan mereka.
Yudha meraih ponselnya yang ada di nakas lalu menghubungi Lintang lewat video call. Selain Lion, dirinya pun sudah rindu berat pada wajah cantik yang semalam hadir dalam mimpinya.
Dalam hitungan detik Lintang mengangkat teleponnya.
"Selamat pagi, Mas," sapa Lintang dengan suara lembut sambil melambaikan tangannya. Meskipun rambutnya sedikit acak-acakan, tak menyurutkan wajahnya yang cantik alami.
Yudha melirik ke arah Lion yang ada di belakang layar, ingin menggombali istrinya, takut Lion mendengar.
Terlihat dengan jelas, ada guratan kesedihan di wajah wanita itu, mata Lintang juga nampak sembab.
"Kamu nggak papa, kan? Ibu gimana, apa dia baik-baik saja?"
Lintang mengangguk berat.
"Lion ingin bicara sama kamu," ucap Yudha ke inti. Menggeser ponselnya ke arah Lion yang menunggu dengan raut wajah memelas.
"Mama, Lion kangen," rengek Lion dengan manja, jari mungilnya mengusap layar yang di penuhi wajah Lintang.
"Iya, Sayang. Mama juga kangen sama Lion."
Ucapan itu membuat Yudha iri pada putranya. Seharusnya Lintang mengucapkan itu padanya yang berstatus suami sebagai sambutan pagi, bukan pada Lion, tapi Lintang malah membuat hati Yudha kesal setengah mati.
"Aku mau pulang, Ma. Aku ingin bertemu mama." Lion tak henti-hentinya merengek ingin bertemu Lintang.
"Nanti mama yang ke rumah oma, Sayang. Rumah kita sedang di renovasi, jadi belum bisa ditempati." Secepat kilat Lintang memberi alasan palsu. Ia terpaksa berbohong untuk membujuk sang buah hati.
"Cepetan ya, Ma," pinta Lion lagi penuh harap.
Lintang hanya mengangguk. Merasa kasihan pada putranya yang kini tidak bisa bebas bertemu dengannya.
Setelah mendapatkan jawaban dari Lintang, Lion turun dari ranjang lalu keluar meninggalkan Yudha.
Yudha menatap wajah Lintang dengan intens. Meskipun hanya semalam, ia merasa sudah rindu berat. Bahkan seakan tak sanggup memikulnya.
"Ada apa sih, Mas? Apa aku terlihat aneh?" ucap Lintang mengalihkan pandangannya, malu dengan tatapan Yudha.
"Kamu di kamar mandi, ya? Sengaja mau godain aku?" tanya Yudha, menatap dinding di belakang sang istri.
Lintang menggeleng cepat, ucapan Yudha malah membuat bulu halusnya berdiri. Meskipun mereka hanya berhadapan lewat telepon, nyatanya tatapan Yudha mampu menembus jarak hingga terasa berada di depannya.
Yudha bisa melihat rona merah di pipi mulus Lintang. Ia bersandar di hardboard. Otak mesumnya kembali beraksi mengingat kemolekan tubuh Lintang saat tidak memakai apapun.
"Sayang, aku pingin lihat kamu mandi," pinta Yudha dengan mimik mengiba. Persis Lion saat meminta sesuatu pada Lintang.
"Nggak mau," tolak Lintang seketika. Meletakkan ponselnya di samping cermin. Meskipun mereka sudah saling lihat, tetap saja memalukan jika harus telanjang di depan sang suami.
Hening sejenak, keduanya hanya bisa saling tatap. Saling mengurai rindu karena tak bisa tidur se ranjang.
Lintang menunduk, merasa bersalah dengan ibunya yang sudah memperlakukan Yudha tidak sopan. Bahkan mengusir dari rumahnya sendiri.
"Tidak apa-apa. Wajar, ibu marah padaku, semua ini kesalahanku. Untuk beberapa hari kita jangan bertemu di rumah. Kamu ke kantor, ya. Nanti aku jemput di ujung jalan."
Lintang meng iyakan lalu menutup teleponnya, meskipun belum mendapat restu, ia tak ingin putus asa dan akan terus membujuk sang ibu untuk menerima Yudha sebagai menantunya.
Lintang keluar dari kamarnya. Seperti layaknya seorang karyawan, ia memakai kemeja putih dengan rok hitam selutut. Membawa tas serta beberapa map di tangannya. Menghampiri Bu Fatimah yang nampak duduk termenung di ruang keluarga.
"Selamat pagi, Bu," panggil Lintang lembut. Duduk di samping Bu Fatimah yang menatap ke arah luar jendela.
Tangan Bu Fatimah bergerak menyentuh tangan Lintang. Menganggap putrinya itu masih sekolah seperti yang dulu yang sering ia lihat.
"Maafkan ibu," ucap Bu Fatimah penuh penyesalan. Matanya berkaca saat membelai wajah cantik Lintang.
"Untuk apa?" tanya Lintang menyandarkan kepalanya di pundak Bu Fatimah saling menatap ke arah yang sama.
"Pasti selama ini kamu kesusahan merawat ibu. Seharusnya ibu yang menjaga kamu, tapi sebaliknya __"
Sssttt
Lintang mendaratkan jarinya di bibir bu Fatimah. Menahan untuk tidak berbicara. Semua sudah takdir, begitu lah yang ingin dikatakan, namun tertahan. Menatap wajah sang ibu yang mulai keriput dengan rambut yang mulai beruban.
"Jangan pikirkan apapun. Sekarang kita sarapan yuk, aku sudah terlambat." Lintang melihat jam yang melingkar di tangan nya, mengajak bu Fatimah menuju ruang makan.
Baru beberapa suap, ponsel yang ada di tas Lintang berdering, menghentikan makan keduanya.
Bu Fatimah menatap penuh curiga. Meskipun bibirnya membisu, matanya berbicara dengan penuh penekanan
Lintang membukanya, melirik sekilas ke arah sang ibu yang terus memperhatikannya.
"Kenapa mas Yudha nelpon disaat yang tidak tepat sih, gerutu Lintang dalam hati.
"Siapa?"
Suara Bu Fatimah mengejutkan Lintang yang sibuk bergulat dengan otaknya. Mencari alasan supaya bisa lepas dari intimidasi wanita yang duduk di depannya itu.
Lintang menggeser lencana hijau, kemudian menjawab, "Gita, Bu, mungkin saja dia sudah nungguin, aku berangkat sekarang."
Mendengar kata itu, Yudha langsung mematikan panggilan. Memarkirkan mobilnya di ujung jalan seperti yang ia katakan pada Lintang.
Lintang beranjak mencium kening Bu Fatimah. Berlari kecil menuju depan.
Bu Fatimah ikut beranjak dari duduknya dan keluar. Menatap Lintang yang baru saja melewati gerbang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah motor yang terparkir di garasi.
"Naik apa dia ke kantor?"
Bu Fatimah berlari menuju gerbang. Rasa ingin tahu nya sangat besar hingga tak percaya begitu saja dengan ucapan Lintang. Benar saja, filing seorang ibu ternyata tidak meleset, Bu Fatimah tak sengaja melihat Lintang naik mobil mewah. Meskipun tidak tahu pasti siapa pengemudinya, Bu Fatimah yakin itu adalah mobil Yudha.
Tanpa basa-basi, Yudha langsung mencium bibir Lintang dengan lembut. Ia tak tahan jika harus menunggu di kantor, yang pastinya akan lebih lama lagi.
"Papa," teriak Lion dari arah belakang membuat Lintang kaget.
Seketika Lintang mendorong dada sang suami hingga terhentak.
"Mas, kenapa nggak bilang ada Lion, sih?" bisik Lintang geregetan.
Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lupa," jawabnya tanpa merasa bersalah.