Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 39. Mencium


Aku harus bisa, aku harus bisa, begitulah kata hati Lintang. Berusaha keras membuang rasa benci yang telah lama bersemayam, menusuk ke jiwa hingga membelenggu bagai rantai besi yang mengikat erat. 


Menatap bayangannya dari pantulan cermin. Tidak ada yang salah dengan wajahnya, tetap cantik meskipun tidak memakai make up. Namun, organ tubuhnya terasa berbeda, ingin melakukan sesuatu namun masih tertahan, tangannya terasa kaku dengan bibir yang terasa berat untuk mengucap. 


Senja tampak indah menerobos masuk dari sela-sela jendela. Lintang membuka tirai lebar. Indahnya warna jingga yang menghiasi langit sore membuatnya tenang. Berandai-andai dengan banyak hal yang belum terwujud, hingga ketukan pintu menyadarkan dari lamunannya. 


Lintang menutup lagi lalu membuka pintu dengan pelan. 


Menatap sang suami yang mematung di depan pintu kamarnya. Tampan sempurna, kaya, tapi itu saja belum cukup untuk membuatnya terpikat. 


"Bapak mau apa?" Lintang bertanya dengan lembut. Mengalihkan pandangannya dari tatapan Yudha yang tak pernah bisa ia artikan.  Rasa aneh tiba-tiba membuat dadanya berdegup kencang saat hembusan nafas Yudha menerpa wajahnya. 


"Malam ini aku ingin makan masakanmu."


Mengatakannya dengan ragu, karena ia tahu belum tentu Lintang langsung mengabulkan permintaannya. 


Saling tatap, Lintang mencari alasan untuk tetap terlihat angkuh di depan suaminya, meninggikan egonya lagi. 


"Bi Siti ke mana?" Menekankan jika masih ada orang selain dirinya. 


"Ada, tapi aku ingin makan masakan istriku, kalau kamu tidak mau nggak papa, kita makan di luar, pilih yang mana?"


"Masak saja, tapi saya tidak bisa memasak makanan seperti di rumah mama," jawab Lintang jujur. Sebab, selama ini ia hanya bisa mengolah makanan sederhana, itu pun dari bahan yang biasa saja. 


"Tidak apa-apa. Makanan apapun akan terasa enak jika masaknya pakai hati dan ikhlas." Mengusap rambut Lintang yang terurai panjang. Meninggalkan gadis itu menuju kamar Lion. 


Seketika Lintang membongkar isi lemari es. Banyak bahan pilihan yang bisa dijadikan menu makan malam, daging dan ayam juga beberapa jenis ikan laut. namun kebanyakan malah membuat Lintang bingung. 


"Bi Siti…" teriak Lintang, tangannya sibuk memilih antara ikan dan daging. 


"Saya, Bu."


Bi Siti datang, menatap Lintang yang nampak kebingungan. Matanya mengikuti saat tangan Lintang memasukkan beberapa kantong kresek ke lemari es. 


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Bi Siti membantu Lintang merapikan letak barang-barang yang sedikit berantakan, menyisihkan antara ikan dan sayur.


"Mas Yudha mau makan di rumah, tapi aku bingung masak apa. Aku belum tahu kesukaannya." 


"Tidak usah panik, Bu. Pak Yudha nggak pernah rewel, pasti dia mau makan apa saja yang ibu masak."


Meyakinkan Lintang untuk tidak terlalu bingung dengan perintah Yudha yang sebenarnya sederhana. Setelah mendengar penjelasan Bi Siti, akhirnya Lintang memilih daging untuk menu makan malam mereka. 


"Berapa lama bibi bekerja di rumah mas Yudha?" 


Lintang memotong dagingnya dadu, entah mau di masak apa, Bi Siti hanya menjadi penonton saja, ia tak ingin mengganggu Lintang yang nampak bekerja keras. 


"Semenjak beliau menikah, Bu. Awalnya saya di rumah Bu Indri, setelah itu ikut pak Yudha di rumahnya, dan sekarang ikut di sini lagi bersama Ibu." 


Lintang manggut-manggut mengerti. 


"Semoga betah ya, Bi. Aku orangnya cerewet."


Bi Siti hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. 


"Ibu mau masak apa?" tanya Bi Siti memberanikan diri bertanya. 


"Asem-asem."


"Wah, pasti enak," sahut suara berat dari belakang mengejutkan Lintang. 


Memberi kode pada Bi Siti untuk keluar.


Setelah bi Siti pergi, Yudha mengambil sayuran dan mulai memotong nya. 


"Bapak bisa masak?" tanya Lintang ragu. Entah, ia mulai ingin tahu apa saja tentang Yudha. 


"Bisa." 


Yudha menarik kursi. Meraih pisau yang ada di tangan Lintang, membantu wanita itu mencuci tangan lalu mendudukkan nya. 


Perlakuannya yang sangat lembut mampu menciptakan getaran aneh di dada Lintang. 


"Kamu tunggu saja di sini, biar aku yang masak," tantang Yudha. Mengumpulkan semua bahan dan membawanya ke dapur. 


Lintang yang tidak sepenuhnya percaya itu pun mengikuti langkah suaminya. Menatap bagaimana lincahnya tangan Yudha saat menyalakan kompor dan menuang air ke dalam panci. 


Keduanya membisu, Lintang tak sekedar menonton, namun juga memahat apa saja yang dilakukan suaminya. 


CEO memasak, lucu juga. 


Mengatupkan bibirnya, menahan tawa. Ternyata ada dua sisi positif yang ada di diri Yudha, setidaknya bisa tegas di depan semua pegawai dan klien dan juga ada kelembutan saat di dekat keluarga. 


Yudha menghampiri Lintang dan duduk di sampingnya. Sembari menunggu dagingnya empuk, ia menyiapkan bahan lainnya dan sesekali menggoda istrinya. 


"Mama…" 


Lion yang baru datang berhamburan memeluk Lintang dan duduk di pangkuannya. Mencium kedua pipi Lintang bergantian melambai kan tangan nya ke arah sang papa. 


Yudha mendekatkan kepalanya hingga berjarak berapa centi dari wajah Lintang. Menatap manik mata gadis itu yang nampak sendu. 


"Papa cium mama," pinta Lion polos. 


Hawa dingin merasuk. Tangan Lintang terasa gemetar mendengar permintaan putranya, menelan ludahnya dengan susah payah saat Yudha tersenyum manis. 


"Ayo, Pa!" pinta Lion penuh harap. 


Tidak ada pergerakan dari keduanya. Yudha takut aksinya akan membuat Lintang marah, namun juga tak bisa mengabaikan permintaan anaknya. 


Dada Lintang sudah tak bisa dikondisikan lagi, bahkan lebih cepat dari lari maraton. 


"Sayang, maaf ya, kalau kamu mau marah nanti saja," bisik Yudha di telinga Lintang. 


Lion menutup mata dengan kedua tangannya, seketika itu pula Yudha mendaratkan bibirnya di pipi mulus Lintang. Menyalurkan rasa cinta yang sudah menggebu tersimpan di dada. 


Lintang pun memejamkan mata. Menikmati ciuman lembut Yudha yang terasa menembus hingga ke relung hati.


"Terima kasih," ucap Yudha setelah melepaskan ciumannya. Menatap wajah Lintang yang nampak merona. 


"Bentar ya aku lihat dagingnya dulu."


Yudha beranjak dari duduknya. 


Lintang mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya. Meskipun ciuman itu sudah usai, ia masih bisa merasakan bibir Yudha disana. 


Mas yudha, bantu aku untuk melupakan dendamku, hanya kamu yang bisa menghapus semuanya. Aku juga ingin hidup dengan tenang bersama kamu dan Lion. 


Bak keluarga kecil yang bahagia, Yudha yang menyiapkan makan malam, sedangkan Lintang membantu segala sesuatu yang dibutuhkan Lion. Sebab, mulai besok mereka kembali beraktivitas seperti biasa, Lion bersekolah ditempat yang baru. Lintang dan Yudha kembali dengan pekerjaannya. 


"Besok Lion mau sekolah sama siapa?" tanya Yudha pada Lion yang baru saja menelan makanannya. 


Lion menatap Lintang sejenak, mengingat ucapan oma nya beberapa hari yang lalu. 


Lion jangan merepotkan mama terus, minta bantuan mbak Mimah juga, karena mama juga sibuk. 


"Mbak Mimah saja, Pa," jawab Lion.