
Ada yang berbeda di wajah Andreas saat ini. Setelah menikah, ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kantor. Wajahnya tampak berbinar dengan penampilan yang lebih rapi. Semua karyawan yang melihat saling berbisik dengan ketampanan sang asisten yang semakin terpancar.
Ehem
Andreas berdehem. Melirik sinis kiri dan kanan, di mana para karyawan menyapanya beramai-ramai.
"Pagi, Pak," sapa mereka yang memang belum menyapa.
"Pagi," jawab Andreas pura-pura membenarkan dasinya untuk menutupi wajahnya yang mulai bersemu.
Apa memang ini yang dialami semua pengantin baru.
Andreas mengusap keringat yang membasahi wajahnya saat ia berada di dalam lift.
Pintu lift kembali terbuka lebar. Andreas menghampiri Bian yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Apa pak Yudha sudah masuk?"
"Sudah." Melirik ke arah leher Andreas yang nampak berbeda.
Jika biasanya selalu perempuan yang mempunyai tanda itu, kenapa kak Andreas juga punya.
Bian membayangkan betapa liarnya Gita saat di ranjang. Mesumnya Yudha dan Keanu kini sudah menular padanya.
"Lihat apa?" Andreas menyelidik. Sadar dengan tatapan Bian yang tak bisa diartikan.
"Gak papa, permisi, Kak." Bian langsung masuk ke ruangannya. Meninggalkan Andreas yang dipenuhi dengan tanda tanya.
"Kenapa semua orang melihatku seperti itu, apa ada yang aneh?" tanya Andreas pada diri sendiri lalu masuk ke ruangannya. Mengabaikan sikap semua orang yang sedikit aneh.
Setumpuk dokumen sudah melambai-lambai di atas meja. Andreas memilih untuk membuka laptop lebih dulu. Memeriksa pekerjaan yang beberapa hari ini terbengkalai.
"Andreas," sapa suara berat dari ambang pintu.
"Saya, Pak." Andreas berdiri lalu membungkuk, menyapa Yudha yang berada di ambang pintu.
"Hari ini temani aku rapat."
"Baik, Pak."
Sama seperti yang lain, Yudha pun menatap Andreas dengan tatapan aneh membuat sang empu risih.
Apa yang ada di leher Andreas, apa tadi dia tidak ngaca sebelum berangkat?
Yudha keluar lalu menutup pintu. Dalam hati ingin mengejek pengantin baru itu, justru sesuatu yang tertutup rapat memberontak karena sudah libur lama.
Kalau seperti ini terus, mana tahan, godaan pengantin baru memang menghanyutkan.
Yudha menghela napas panjang. Ia harus bisa bertahan sampai batas waktu yang ditentukan.
Menyibukkan diri dengan layar ponsel dan juga laptop, bahkan berulang-ulang membaca majalah pun tak membuat Yudha lupa dengan apa yang ia lihat. Imannya yang tipis tergoda oleh sesuatu yang saat ini tak bisa didapatkan.
Sabar Yudha, sebentar lagi kamu pasti akan mendapatkan jatah lagi. Menguatkan hatinya yang lemah.
Di ruangan lain
Andreas yang hampir saja membuka pintu itu kembali melangkah mundur. Ia menangkap sesuatu yang aneh di lehernya. Mendekati cermin, memastikan jika ia tak salah lihat.
"Apa ini?" Andreas mengusap-usap lehernya yang berwarna merah. Tidak ada bekas apapun di tangannya yang membuat sang empu berpikir keras.
"Jangan-jangan __"
Ucapannya terputus. Andreas meletakkan beberapa map nya di meja kerja lalu berlari ke kamar mandi.
Ia membuka baju lalu memeriksa bagian lehernya yang terdapat sebuah keanehan.
Ya ampun, apa gara-gara ini semua orang menertawakanku. Mencuci lehernya dengan sabun.
"Pantas saja mereka terus menertawakanku." Andreas tak henti-hentinya menggerutu.
Setelah dikira cukup, Andreas langsung keluar dengan penuh percaya diri. Tatapan yang tadi nampak aneh kini terlihat biasa, bahkan mereka bersikap normal seperti sedia kala.
Andreas menghampiri Yudha yang masih sibuk dengan laptop di depannya.
"Apa kamu sudah siap?" Mata Yudha langsung mengarah pada sesuatu yang kini sedikit samar.
"Sudah, Pak," jawab Andreas membungkuk ramah.
Ternyata Andreas sudah membersihkan bekas gigitan Gita.
Yudha merapikan jasnya lalu beranjak. Ia keluar lebih dulu diikuti sang asisten dari belakang.
Baru beberapa langkah meninggalkan ruangan, ponsel yang ada di saku jas Yudha berdering.
Seperti biasa, nama my wife yang berkedip di layar.
"Ada apa, Sayang?" sapa Yudha Pada seseorang yang ada di balik benda pipihnya.
"Mas, aku pengen makan kaya toast Singapura yang ada di restoran dekat kantor."
Yudha tersenyum tipis. Waktunya memang tidak memungkinkan untuk pergi ke restoran, namun ia tak bisa mengabaikan permintaan sang istri begitu saja.
"Tapi aku mau rapat, Sayang. Nanti ya."
Terdengar suara decakan, itu pertanda jika Lintang tak sabar menunggunya.
"Baiklah, aku akan menyuruh Bian untuk membelinya sekarang."
Kaya toast menjadi makanan favorit Lintang usai melahirkan, Kue yang satu ini juga tak kalah hits dari roti canai, Kaya toast ini biasanya dijadikan pelengkap snack untuk menemani secangkir teh. Dan itu membuat Lintang ketagihan. Kaya toast ini adalah roti yang diolesi mentega yang dibakar dengan arang lalu di beri selai tradisional seperti kepala dan mengeluarkan cita rasa yang unik ada rasa manis, gurih, pahit. Cocok untuk Lintang yang terkadang jenuh.
Yudha menghampiri Bian yang ada di ruangannya.
"Bi, belikan kaya toast yang ada di restoran Singapura. Setelah itu kamu antarkan ke rumah."
"Baik ,Kak," jawab Bian menutup laptopnya.
Bian langsung keluar dari kantor.
Hanya butuh waktu lima belas menit Bian sudah sampai di restoran yang ditunjuk Yudha. Ia memesan makanan yang diucapkan sang kakak lalu duduk. Tanpa sengaja, matanya menatap seseorang yang sangat familiar sedang bercanda dengan pria lain.
Itu kan Hilya, ucap Bian dalam hati. Ia segera memalingkan wajahnya. Memunggungi wanita yang terlihat akrab dengan lawan jenis.
"Apa sih, nggak lah, mana mungkin aku suka sama dia. Lebih baik pilih kamu." Suara Hilya terdengar jelas membuat dada Bian sesak.
Apa orang yang dimaksud Hilya adalah aku? Jika benar, itu artinya dia tidak pernah menganggap serius hubungan ini.
Semangat yang pernah Bian bangun itu runtuh seketika. Selama ini ia tak pernah mempermasalahkan masa lalu Hilya yang menurut kakaknya sangat buruk, namun dengan ucapan itu mampu membuatnya ragu untuk melanjutkan rencananya.
"Mas, ini pesanannya?" ucap seorang waitress untuk yang ketiga kali.
"Iya, Mbak. Maaf." Bian membayar dengan beberapa uang pecahan lalu beranjak, namun karena pikirannya yang tak konsentrasi membuat Bian harus menabrak seseorang yang melintas di depannya.
"Maaf, Bu. Saya gak sengaja," ucap Bian sedikit lantang. Hilya menoleh, menatap ke arah sumber suara yang tak asing baginya.
"Bian…" Hilya mengucap dengan lirih lalu melirik pria yang ada di depannya itu.
"Kamu kenal sama dia?"
Pria itu mencoba menarik lengan Hilya yang hampir berdiri.
Hilya mengangguk. Meraih tasnya, ia berlari kecil menghampiri Bian yang mulai menjauh darinya.
"Bian tunggu!" teriak Hilya tanpa menghentikan langkahnya.
Bian hanya menoleh sekilas, lalu kembali berjalan.
Aku sudah salah menilaimu. Aku pikir kamu berubah dan menerimaku apa adanya, ternyata kamu memilih orang yang lebih sukses.
Bian masuk mobil. Tak menghiraukan Hilya yang terjatuh di bawah terik matahari.