Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 84. Ungkapan


Lope Lope babang Andreas. 


Gita memanyunkan bibirnya ke arah Andreas yang ada di depannya. Ia sudah membayangkan bagaimana rasa bibir pria itu, pasti kenyal seperti permen yupi dan menghanyutkan seperti lautan biru. Sekian lama hanya berandai-andai, akhirnya ia bisa mencicipi ciuman pertama yang didambakan. 


Mendaratkan bibirnya dengan pelan. Membuka mulutnya lalu menggigit nya, namun seketika itu hatinya langsung tersentak kaget dengan rasa yang jauh berbeda. 


Lho kok keras, masa orangnya ganteng bibirnya kayak batu karang, seharusnya kayak adonan kue, empuk.


Saking penasarannya, Gita membuka mata. Seketika ia menjerit saat melihat sosok yang ada di depannya. Benda yang ada di mulutnya jatuh ke lantai hingga menimbulkan suara. 


"Ibu," teriak Gita. Menatap benda yang ada di atas lantai. Lalu menatap sang ibu yang menertawakannya. 


"Makan tu gayung," celetuk Bu Mila ketus. Menyodorkan sapu dan lap lalu keluar. 


"Jadi, tadi bukan bibirnya pak Andreas, tapi gayung." 


Gita mengacak rambutnya, menatap punggung Bu Mila yang menghilang di balik pintu. 


Beberapa detik kemudian pintu terbuka kembali, Bu Mila menyembulkan kepala nya. 


"Meskipun kamu calon istri Andreas, jangan manja, tetap bantu ibu membereskan rumah." 


Gita hanya mengangguk malas. 


"Ya ampun, untung cuma ibu yang lihat, kalau sampai pak Andreas tahu, bagaimana?" Merutuki mimpinya yang jauh lebih indah dari kenyataan. 


Gara-gara acara lamaran semalam membuat Gita semakin tergila-gila pada calon suaminya. 


Gita turun dari ranjang lalu ke kamar mandi. Setelah melakukan kewajibannya, ia membantu sang ibu seperti sebelumnya. 


Menatap ponsel yang ada di meja lalu meraihnya. Menutup pintu kamarnya untuk memeriksa pesan yang masuk. 


"Sudah menjadi tunangan pun tidak mengucapkan selamat pagi, dasar kulkas," gerutunya menatap profil Andreas yang sangat tampan. 


Sejak kapan ia tergila-gila pada pria itu? Gita pun tak sadar dengan hal itu, semenjak kejadian di masa kuliahnya, ia menutup hatinya untuk pria lain, takut kecewa lagi seperti dulu. 


Meletakkan kembali dan melanjutkan aktivitasnya. Baru merapikan selimut,  ponsel Gita berdering. Ia segera meraihnya kembali. 


Pesan masuk, namun bukan dari Andreas melainkan dari Samsul. 


Git, temui aku di taman kantor, ada yang ingin aku bicarakan, ini penting. 


Oke, balas Gita langsung lewat pesan juga dengan emoji jempol. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah memarkirkan motor, Gita langsung menuju ke tempat tujuan. Ia menatap punggung sang sahabat yang duduk di bangku tengah taman. 


"Samsul," panggil Gita sedikit berteriak. Ia menghampiri dan duduk disamping pria itu. 


"Ada apa?" tanya Gita langsung ke inti. 


Samsul mengeluarkan kotak kecil yang berwarna biru. Menyodorkan di depan Gita. 


Gita tahu itu adalah kotak perhiasan seperti yang diberikan Andreas untuknya. Tapi, ia belum tahu apa maksud Samsul. Kenapa dia memperlihatkan benda itu padanya. 


"Itu isinya apa?" tanya Gita tanpa menyentuh benda itu. 


Ia ingin mendengar langsung dari bibir Samsul. 


"Maukah kamu menikah denganku? Aku mencintaimu." Membuka kotak itu. Nampak cincin berlian yang ada di dalamnya. 


"Apa?" tanya Gita memastikan. Menatap kedua mata Samsul yang dipenuhi kejujuran. 


"Aku melamarmu." 


Gita menundukkan kepalanya. Ia masih mengingat saat masih kuliah dulu. Awalnya ia yang mencintai Samsul, namun karena pria itu mencintai Lintang, Gita melupakan rasa itu. Ia pikir persahabatan lebih penting dari segalanya. 


Kini semua sudah berubah, rasa cinta itu sudah lenyap terkikis bersamaan waktu yang berjalan. 


Ia menganggap Samsul murni sebagai sahabat, bukan yang lain. 


Samsul tertawa lepas lalu menutup kembali kotak itu. Berdiri di depan Gita yang masih menunduk. 


"Semua perempuan sama saja. Pasti akan memilih pria yang lebih kaya." 


Gita ikut berdiri, meskipun bukan begitu ceritanya, tetap saja ucapan Samsul menyinggungnya. 


"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Gita antusias. 


"Buktinya, Lintang menolakku dan memilih pak Yudha, apa kamu masih mau  mengelak. Dan aku yakin, kamu akan memilih laki-laki yang kaya juga." 


Sekian lama ia hanya memendam rasa kecewa, dan sepertinya pagi ini akan mengungkap semuanya. Ia tidak ingin dianggap wanita yang mementingkan materi oleh Samsul. 


"Dulu aku sangat mencintai kamu, tapi kamu mencintai Lintang. Apa salah kalau aku berpaling?" Mata Gita mulai berkaca, mengingat rasa sakit yang pernah menyelimuti nya.


Ternyata dibalik persahabatan yang erat ada sebuah masalah yang sangat serius. 


"Kenapa kamu tidak bilang?" pekik Samsul, seakan menyalahkan Gita yang memendam rasa itu sendirian. 


"Bagaimana aku bisa bilang, kalau setiap hari kamu hanya menyebut nama Lintang dan Lintang. Aku tidak mau merusak persahabatan antara kita. Aku tidak mau Lintang salah paham. Sekarang lebih baik kamu cari perempuan lain. Aku sudah punya tunangan."


Gita membalikkan tubuhnya, mengusap air mata yang membasahi pipinya. 


Kenapa semua harus terungkap disaat aku sudah menerima lamaran pak Andreas. Seandainya satu kali saja kamu perhatian padaku, pasti aku akan menunggumu. Sekarang semua sudah terlambat, kita hanya akan menjadi sebatas sahabat. 


Baru beberapa langkah, Samsul kembali memanggil nama Gita. 


Gita menghentikan langkahnya tanpa menoleh. 


"Maafkan aku," ucap Samsul pelan, namun masih bisa didengar oleh Gita. 


Gita melanjutkan jalannya menuju ruangan. Ia duduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Tak bisa fokus pada pekerjaannya hari ini. Ingin berteriak namun takut dikira gila, ingin curhat tapi pada siapa. Tidak mungkin ia menceritakan itu semua pada Lintang. 


"Gita," sapa Andreas dari ambang pintu. 


Gita beranjak dari duduknya. Mengusir kegelisahan yang mengendap. Ia tak ingin sedih di hari bahagianya ini. 


"Saya, Pak," jawab Gita hormat. Meskipun pria itu adalah calon suaminya, tetap saja Gita harus profesional. 


"Aku mau bicara sebentar." 


Gita mengikuti langkah Andreas menuju ke ruangannya. Berjalan saling beriringan seperti layaknya bos dan karyawan.


Setibanya, Andreas menutup pintu. Kini hanya ada mereka berdua di tempat itu. 


Andreas duduk di kursi yang membesarkan namanya. Menatap Gita yang berdiri di samping meja kerjanya. 


"Bagaimana perasaanmu pada Samsul?" tanya Andreas dengan nada datar. 


Kenapa pak Andreas bertanya seperti itu, apa tadi dia mendengar percakapan ku dengan Samsul. 


"Iya, tadi aku mendengar percakapan kamu dengan Samsul di taman. Sekarang ceritakan semuanya, aku tidak mau menikahi perempuan yang masih tersangkut dengan masa lalu."


"Kalau bapak mendengar semuanya, kenapa masih bertanya?" ucap Gita sedikit membentak. 


Entah apa yang ia rasakan saat ini, hatinya pilu. Seharusnya ia mendapatkan pelukan hangat yang menenangkan, bukan malah interogasi seperti saat ini, menyebalkan.


Hening 


Andreas hanya bisa beranjak. Bibirnya membisu saat menatap pipi Gita yang mulai dipenuhi air mata. 


Gita semakin kacau, ia tak bisa lagi berpikir jernih. Kebahagiaan semalam seakan menghempaskan dirinya pada sebuah masalah besar. 


"Kamu yakin tidak akan menceritakan padaku?" 


Gita menggeleng tanpa suara, lalu pergi menutup pintu ruangan Andreas.