
Lima belas menit berlalu, Lintang hanya membisu di pelukan Yudha. Keduanya saling tatap dan tersenyum. Hanya kedua bola mata masing-masing yang berbicara mencurahkan isi hati lewat bahasa kalbu. Detak jantung pun belum mereda, ikut merasakan betapa gugupnya Lintang saat ini.
Antara tubuh dan pikiran mulai sinkron. Ia mengulurkan tangannya, namun lagi-lagi harus digenggam saat mencapai di bagian dada Yudha.
"Kamu kenapa?" Pertanyaan itu meluncur lagi dari bibir sang suami. Meskipun lampu menyala remang. Ia masih bisa melihat wajah Lintang yang bersemu itu dengan jelas. Membelai pipi mulusnya dan sesekali mencium kening gadis itu.
Aku harus bisa, dia suamiku yang harus aku layani.
Meyakinkan hatinya lagi, mengusir rasa ragu yang selama ini terus menghantuinya.
"Mas, aku __" Ucapan Lintang berhenti, lidahnya masih terlalu kaku untuk mengungkap isi hatinya.
Keheningan malam ini mengobrak-abrik jiwa Lintang. Keberaniannya sudah sempurna, namun sekarang ia diliputi rasa malu. Malu untuk mengawali semuanya. Apa kata Yudha nanti, ia yang pernah menolak, namun juga memintanya lagi.
Yudha menunggu lanjutan kalimat Lintang, ia pun hanya bisa diam tanpa banyak kata. Takut salah bicara yang berakhir dengan kemarahan.
Bodo amat
Itulah kata hati Lintang.
Tanpa ba bi bu be, ia langsung mencium pipi Yudha dengan lembut dan lama yang membuat sang empu terbelalak.
Jangan ditanya lagi bagaimana jantung Yudha saat ini, yang pastinya berdisko ria saat merasakan ciuman dari Istrinya.
"Maaf," ucap Lintang setelah melepas ciumannya.
Yudha meringsek tubuhnya semakin dekat, hingga kini keduanya tak ada jarak. Hembusan napas Yudha terdengar memburu, hanya dengan sentuhan sedikit saja sesuatu yang ada di bawah sana sudah menuntut lebih.
Tahan tahan tahan, jangan ceroboh Yudha, atau kamu akan kehilangan semuanya. Dia bukan istri gampangan yang mudah disogok dengan uang. Kamu harus bisa membaca isi otaknya.
Menasehati dirinya sendiri untuk tidak mudah terhanyut dengan pancingan Lintang.
Kenapa mas Yudha diam saja, apa dia tidak menginginkan hak nya lagi.
Lintang menggerutu dalam hati. Kesal setelah tak mendapat balasan dari suaminya. Padahal, ia sudah siap lahir batin untuk melepas semuanya saat ini.
Apa yang harus aku lakukan, masa iya aku jelaskan dulu.
Lintang kembali berpikir. Matanya terus menatap jakung Yudha yang naik turun menelan ludahnya yang mulai mengering akibat ulah Lintang yang tega membangunkan juniornya. Akan tetapi, tidak mempertanggung jawabkan atas perbuatannya.
Apa aku harus jujur.
Menjerit dalam hati melihat sikap suaminya yang hanya diam saja.
Ini memalukan, imbuhnya.
Akhirnya Lintang mendongak dan mengecup bibir Yudha dengan kilat.
Kali ini pertahanan Yudha runtuh seketika. Ia tak bisa lagi menahan hasrat yang sudah memuncak dan hampir membuatnya gila. Tanpa izin, ia meraih ceruk leher Lintang dan menyatukan bibirnya. Memberikan ciuman termanis untuk pertama kalinya.
Yudha melepaskan ciumannya, mengusap bibir Lintang dengan jarinya lalu tersenyum.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa menahannya," ucap Yudha dengan suara parau. Merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya tadi.
"Nggak papa."
"Apa kamu yakin ingin memberikan hakku malam ini?" Menggenggam tangan lintang yang terasa dingin. Menatap manik mata coklat yang terlihat indah. Mencari kepastian dari sana.
Lintang mengangguk kecil tanda setuju. Tidak ada alasan lagi untuk menolak ataupun mengukur waktu, baginya ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan pada semua orang, jika dirinya istri yang baik dan mampu memuaskan sang suami.
Lampu hijau menyala terang. Yudha melanjutkan aksinya, menyatukan bibirnya, saling mengait sehingga rasa itu tak bisa diartikan dengan kata-kata.
Yudha beralih berada di atas Lintang. Mengukung tubuh gadis itu hingga tak memberi ruang untuk bergerak.
Tangan sang duda yang sudah lihai mulai menyusup ke area dalam piyama sang istri. Meskipun sudah lama tak melakukan itu, Yudha tak lupa cara untuk memanjakan wanita. Menggerayangi beberapa titik yang membuat Lintang merasakan sesuatu yang aneh. Memberikan sentuhan lembut untuk membawanya terbang di atas awan.
Apa ini, kenapa aku aneh begini?
Lintang hanya bisa mengeluh dalam hati. Menggigit bibir bawah saat Yudha terus menyusuri leher jenjangnya. Gigitan demi gigitan mampu membuatnya terlena. Beberapa tanda cinta pun sudah bertebaran di kulit putih Lintang. Kedua tangannya terpatri dengan tangan Yudha hingga dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
Menikmati alur yang terus dipimpin oleh Yudha. Sesekali mengeluarkan suara erotis yang tertahan hingga terdengar merdu di telinga sang suami.
"Jangan di tahan," bisik Yudha menggigit daun telinga Lintang.
Dalam hitungan menit, Yudha mampu melucuti bajunya maupun baju Lintang, kini hanya selimut tebal berwarna pink yang menjadi saksi semuanya.
Malam semakin larut, dingin kian mencekam. Namun, di kamar yang ber ac itu terasa panas. Peluh bercucuran saat Yudha mulai menerobos gawang Lintang yang sangat sempit. Bahkan saat pertama ia menghentak dengan keras, lupa jika wanita yang ada di bawahnya itu masih perawan hingga beberapa kali kata maaf sempat meluncur.
Buliran bening menetes membasahi pelipis Lintang yang kesakitan saat Yudha berhasil menembus gawangnya.
Yudha menatap setiap jengkal wajah istrinya yang nampak meremang menahan sakit. Ada rasa kasihan, namun ia pun tak bisa menghentikan misinya yang hampir finish.
Hingga beberapa menit kemudian, Yudha menyemburkan lahar panas nya ke dalam rahim sang istri setelah beberapa hari menahannya. Menumpahkan benih cintanya untuk orang yang saat ini terpenting dalam hidupnya.
Yudha ambruk di atas tubuh Lintang. Mengatur napasnya yang terengah. Keduanya bertukar keringat yang membasahi sekujur tubuh.
"Aku mencintaimu, jangan pernah pergi dariku," bisik Yudha diiringi dengan kecupan lembut di kening Lintang.
Tak ada jawaban, Lintang masih merasakan perih yang menjalar hingga ke tubuhnya. Ia tak menyangka, malam pertama akan sesakit itu. Selama ini ia meremehkan cerita sahabatnya yang sudah menikah, dan kini ia merasakannya sendiri.
Senjata Yudha mampu merobek selaput dara nya hingga entah kini bagaimana keadaannya.
Suara rintihan kembali terdengar saat Yudha hampir memejamkan mata. Ia memiringkan tubuh dan mengecup pipi Lintang.
"Sakit ya?" tanya Yudha konyol.
Untuk apa menangis kalau tidak sakit, dasar duda tidak tahu diri, sudah melukai pakai nanya segala. Apa dia pikir langsung nikmat seperti yang ia rasakan.
"Sakit." Lintang merapatkan kakinya mencoba menghilangkan rasa nyeri yang masih mengendap.
"Maaf, aku terlalu bersemangat. Tadi lupa kalau kamu __"
"Kalau aku Lintang?" sergah Lintang ketus.
Yudha tersenyum. "Bukan, lupa kalau kamu masih perawan," jelas Yudha terkekeh.
"Sekarang tidurlah, aku akan menjagamu." Mendekap Lintang di dada bidangnya untuk melewati malam yang tinggal beberapa jam lagi.