Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Dinner part 2


Mereka sudah duduk di kursi yang telah disiapkan. Beberapa pelayan datang dengan membawa makanan yang sudah disiapkan. Tak ada yang istimewa dengan makanannya. Semuanya nyaris pernah Febby makan. Setelah mereka selesai menyantap makannanya, datang lagi satu pelayan membawa nampan yang tertutup.


"Kenapa ditutup?" tanya Febby penasaran. Pelayan itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Febby. Dia kemudian berlalu meninggalkan meja itu. Febby mengernyitkan dahinya, lalu menatap suaminya.


Tuan Angga hanya tersenyum. Febby semakin kesal. "Sudah daripada penasaran mending dibuka saja," ucap Tuan Angga setelah melihat raut wajah Febby yang sudah mulai berubah. Febby langsung membuka penutup itu. "Ice cream?" ucap Febby heran.


"Kenapa? gak suka desert ice cream? Apa perlu diganti desertnya?" ucap Tuan Angga yang terlihat khawatir dengan ekspresi Febby.


"Gak usah. Aku juga suka ice cream kok," jawabnya cepat seraya menyendok ice cream itu. Dia memakan dengan lahap. Sampe tiba tiba dia merasa ada sesuatu di mulutnya.


"Cincin?" ucapnya setelah mengambilnya dari mulut. Dia melihat dengan seksama, cincin putih bermatakan berlian. Dia lalu menatap suaminya, dengan tatapan penuh harap. Berharap jika suaminya akan mengatakan itu surprize untuknya. Namun justru Tuan Angga malah memasang ekspresi kaget. "Cincin? kenapa bisa ada cincin dimakanan?" ucap Tuan Angga setengah berteriak.


Dia lalu memanggil semua pelayan dan juga koki untuk berkumpul. "Ini cincin siapa? kenapa bisa masuk kedalam ice cream istriku?!" ucap Tuan Angga tegas. Raut wajahnya terlihat sangat serius. Febby menghela nafasnya kasar.


Kirain itu cincin buat aku. Dia sengaja naroh dimakanan biar jadi surprize, ternyata bukan. Huh kenapa aku ngerasa nyesek gini sih.


Tuan Angga melirik kearah Febby yang mulai terlihat kesal. "Apa tidak ada yang mau mengaku? Kau! kau yang bertugas di dapur. Apa ini punyamu?" tanya Tuan Angga dengan suara yang keras. Pelayan itu hanya menunduk, dia tidak berani menjawab. "Baiklah, karena tidak ada yang mengaku, maka cincin ini menjadi milik istriku. Karena dia yang menemukannya," ucapnya lagi seraya menatap kearah Febby. Febby langsung berdiri kaget. "Buat aku?" ucapnya bingung.


"Ya," jawab Tuan Angga singkat. Febby berjalan mendekat kearah suaminya. Menatapnya tajam. "Bagaimana bisa? itu bukan punyaku. Dan aku tidak berhak atas cincin itu," protes Febby yang tidak setuju dengan ide gila suaminya. Ya, tentu saja tidak setuju. Dia yakin cincin itu punya salah satu pelayan yang bekerja disana. Hanya saja mereka tidak berani mengakuinya. Yang benar saja mereka lebih sayang dengan pekerjaan mereka daripada harus kehilangan pekerjaan mereka demi cincin. Yang mungkin bisa mereka beli lagi.


"Itu keputusanku! Dan kamu, kamu harus mau memakainya," jawab Tuan Angga tegas dengan mimik wajah yang tidak bisa ditebak. Febby mengernyitkan dahinya. Dinner romantisnya harus bersambung dengan kemarahan suaminya.


Tiba tiba sang supir datang membawa sebuah kotak hadiah yang sangat besar. Semua mata tertuju pada kotak besar yang dibungkus dengan sangat cantik itu. Tak terkecuali Febby, dia juga menatap heran.


Apa lagi ini? Apa ini bagian dari kejutannya? Sepertinya hadiah ini datang disaat yang tidak tepat. Bagaimana kalau Angga marah lalu melampiaskannya pada dia, dia bisa kehilangan pekerjaannya.


"Nona, ini ada paket untuk Nona," ucap sang supir tiba tiba. Membuat Febby terjaga dari lamunannya. "Eh, untukku?" jawabnya bingung seraya melihat kearah suaminya. "Bukalah," ucap Tuan Angga sambil tersenyum.


"Terima kasih pak," ucap Febby lalu dia langsung membuka kotak itu didepan semua pelayan. Dia terlihat sangat antusias saat membuka kotak itu. Wajahnya terlihat sangat senang. "Hah? kotak lagi?" ucap Febby seketika setelah kotaknya berhasil dibuka. Ternyata didalam kotak itu ada bungkusan kotak hadiah lagi yang berukuran lebih kecil. Febby langsung membuka bungkusan kotak itu dengan tidak sabar.


"Kotak lagi?" wajahnya mulai terlihat kesal. Dia lalu menoleh kearah suaminya. Tuan Angga hanya tersenyum sambil memberi kode agar Febby lanjut membukanya.


Febby tersenyum saat membaca tulisan tersebut. Dia lalu kembali membuka kotak itu dengan semangat. Semua kekesalannya hilang, berubah menjadi rasa penasaran yang teramat sangat. Sampai pada kotak kesepuluh, mungkin kotak yang terakhir karena bentuknya sudah sangat kecil. Febby membuka bungkus kado itu dengan hati hati.


Dan ternyata isinya adalah sebuah kotak perhiasan. Wajahnya langsung tersenyum saat melihat kotak perhiasan itu. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, sudah biss ditebak kalau dalamnya berisi cincin.


Namun saat Febby membuka kotak perhiasan itu, wajahnya berubah menjadi sedikit masam. Dia mengambil sesuatu yang ada didalam kotak perhiasan itu. "Hanya selembar kertas?" ucapnya heran sekaligus kesal. Dia lalu membuka lembaran kertas itu.


"I Love You My Wife," Febby membaca tulisan yang ada dikertas tersebut. Dia tersenyum sendiri saat membaca tulisan itu. Perasaannya campur aduk jadi satu. Antara senang, sebel dan haru jadi satu. Bagaimana tidak? hanya demi untuk membaca sebuah tulisan seperti itu dia harus membuka beberapa kotak yang sempat membuatnya kesal.


"I love you my wife," tiba tiba suara Tuan Angga membuyarkan lamunan Febby. Febby langsung berdiri, lalu memutar badannya. Dan ternyata Tuan Angga sudah berdiri dibelakang Febby. Dia tersenyum hangat pada Febby. Febby menatapnya tajam, lalu mendaratkan kecupan di pipi suaminya.


"Cup," lalu memberikan senyum cantiknya tanpa berkata apapun. Mungkin kecupan itu sudah cukup untuk mewakili perasaannya. Tuan Angga lalu bersimpuh didepan Febby. Menarik tangan Febby lalu memakaikan cincin tadi kejari manis Febby. "I love you sayang," ucapnya seraya mengecup tangan Febby. Kemudian dia berdiri, menatap lekat wajah Febby yang sudah memerah. Matanya berkaca kaca, namun terlihat sangat bahagia.


"I love you too," lalu mereka saling berpelukan. Semua pelayan menyaksikan adegan romantis itu. Bak dalam negeri dongeng, bagaikan romeo dan juliet. Mereka berpelukan didepan para pelayannya. Seolah tak peduli dengan perasaan para pelayannya. Dunia serasa milik mereka berdua, yang lain ngontrak.


Tuan Angga melepaskan pelukannya. " Dengarkan semuanya. Kalian semua yang akan menjadi saksi disini, di rumah ini. Bahwa aku, Angga Wijaya, hanya mencintai satu wanita yang akan mendampingiku seumur hidupku. Walau apapun yang terjadi aku akan tetap mencintainya. Posisinya tidak dapat digantikan oleh siapapun. Dia akan tetap menjadi Nyonya Wijaya saat ini, nanti, lusa, dan selamanya. Dia adalah Istriku yang paling aku cintai Febby safitri. I love you sayang," ucapnya dengan penuh penekanan lalu mencium kening Febby diakhir kata katanya.


Semua pelayan berdecak kagum seraya memberikan tepuk tangan. Seperti habis melihat pertunjukan saja. Mereka ikut tersenyum bahagia saat tuan dan nyonyanya bahagia. "Apa yang kalian lihat! Cepat beri hormat pada nyonya kalian!" ucap Tuan Angga dengan suara lantang.


Sontak semua pelayan itu menundukkan badannya sebagai tanda hormat. Tangis Febby pun pecah. Dia memeluk Tuan Angga dan menangis di dadanya. "Terima kasih, terima kasih untuk segalanya. Terima kasih sudah mencintaiku. Aku bersyukur bisa dicintaimu, terima kasih," ucapnya sesenggukan sambil tetap memeluk suaminya.


Tak sedikit pelayan yang ikut menangis melihat adegan yang ada di depan matanya. Tuan Angga melepaskan pelukannya, memegangi pipi Febby lalu mencium lembut bibirnya. Para pelayan itu hanya melongo melihatnya. Sampai pada akhirnya ada satu pelayan yang memberinya kode untuk bubar.


Semua pelayan pun bubar. Meninggalkan majikannya yang sedang bercumbu.


Bonus foto buat kalian😊,semoga suka😘😘