Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 59. Dipecat


Dada Lintang semakin bergemuruh saat Yudha menghentikan mobilnya di depan pintu perusahaan. Detakan jantungnya berirama lebih cepat, keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya. Gugup melanda, saat ia mulai melihat karyawan yang berlalu lalang di sana. 


"Mas, mendingan kamu turun dulu, nanti aku nyusul," pinta Lintang takut. Entah keberaniannya lenyap kemana, yang pastinya saat ini Lintang nampak menciut. Menghadapi karyawan dengan mengaku sebagai istri Yudha, bagaikan ia berada di hadapan seribu musuh, ia yakin semua orang tidak akan berpikir positif seperti Gita, mengingat duda di samping nya itu adalah idola yang menjadi rebutan semua wanita. 


"Kenapa?" tanya Yudha menggenggam erat tangan Lintang yang terasa dingin. 


"Hubungan kita bukan aib, biarkan semua orang tahu," imbuhnya. 


Lagi, mencium pipi Lintang dengan lembut. Untung Lion sudah diantar ke sekolah. Jika belum, mungkin akan protes seperti tadi, dan mengatakan papa dan mamanya tidak asyik lagi.


Benar kata mas Yudha, semua orang harus tahu kalau aku istrinya. 


"Baiklah." 


Lintang menyetujuinya meskipun sedikit terasa berat. 


Andreas keluar menghampiri Yudha yang baru saja keluar dari mobil. 


"Pagi ini ada rapat penting. Pak. Semua relasi sudah menunggu di ruangan," lapor Andreas tergesa-gesa. 


Yudha melihat jam mewah yang melingkar di tangannya. Benar saja, ia terlambat lima belas menit dari jadwal rapat yang dibuatnya sendiri. Semua itu gara-gara Lion yang sempat ngambek, juga melepas rindu pada sang istri yang menjadi pemicunya. 


"Aku antar Lintang ke ruangan dulu. Setelah itu aku langsung ke sana." 


Yudha membukakan pintu untuk Lintang. "Sayang, kamu tunggu di ruangan. Ada rapat sebentar."


Yudha dan Lintang berjalan berjajar. Saling menautkan tangan dan sesekali tersenyum. Kamu milikku, tidak ada yang boleh menyentuhmu atau mendekatimu. Begitulah yang ingin diucapkan Yudha pada semua orang yang kini menatapnya. 


Tak seperti biasanya yang cuek bebek, kini Yudha menanggapi semua sapaan dari pegawainya, tak henti-hentinya ia tersenyum pada mereka. 


Mungkin terlihat aneh dimata semua orang. Namun itulah kenyataan, wanita yang memakai seragam karyawan itu adalah istri Yudha Anggara. 


"Apa aku perlu mengumumkan pada semua orang kalau kamu itu istriku," bisik Yudha saat tiba di depan lift. 


"Tidak usah, ngapain buang-buang waktu," jawab Lintang masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Diikuti Yudha dan Madreas dari belakang. 


"Selamat pagi, Pak," sapa Hilya melirik ke arah tangan Yudha yang masih menggenggam erat tangan Lintang. 


"Pagi. Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Yudha tanpa menatap.. 


"Sudah, Pak."


Yudha  berjalan menuju ruangannya, mengantar Lintang untuk menunggunya di sana. 


Sebenarnya ada hubungan apa mereka? Apa Lintang pacar pak Yudha, nggak mungkin, selera pak Yudha tak serendah ini. 


Menatap Lintang dengan tatapan sinis. 


Apalagi saat Yudha mencium kening Lintang, dada Hilya terasa panas. tangannya gatal ingin menjambak rambut  wanita di depannya itu. 


"Semoga lancar." Lintang mengangkat kedua jempolnya, menyemangati sang suami. Menatap punggung pria itu berlalu meninggalkannya. 


Baru juga memegang knop, panggilan Hilya membuat Lintang menoleh. 


"Ibu memanggil, Saya?" tanya Lintang memastikan, menatap Hilya yang berjalan ke arahnya. 


Hilya berhenti di depan Lintang. Melipat kedua tangannya, memasang wajah cantiknya yang sedikit ketus. 


"Apa yang kamu korbankan untuk pak Yudha?" 


Alis Lintang berkerut, ia tak mengerti apa yang dikatakan sekretaris suaminya itu. Seakan menganggap dirinya rendah. 


"Apa keperawanan kamu, atau harga diri kamu yang lain?" imbuhnya. 


Dia pikir aku serendah itu, mengejar mas Yudha dan menyerahkan kehormatanku begitu saja demi menjadi istrinya, wanitanya cantik, pintar, tapi sayang, otaknya udang, gerutu Lintang dalam hati. Sebagai istri bos, ia tak mungkin meladeni Hilya, harus menjaga martabat sang suami sebagai pemimpin perusahaan. 


"Kalau iya, kenapa? Kamu iri?" ucap Lintang pelan, bahkan nyaris tak terdengar. Menantang Hilya, sebesar apa nyali wanita yang selama ini dikenal cerdas dan menjadi sekretaris kepercayaan Yudha. 


"Maaf ya, aku tidak punya urusan apapun, jika kamu masih kurang puas, tanyakan langsung pada Mas Yudha." 


Apa! Dia memanggil pak Yudha dengan sebutan, Mas? 


Dada Hilya semakin meletup-letup mendengar ucapan Lintang. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa mengingat status dirinya di perusahaan iti. 


Lintang membuka pintu lalu masuk. meninggalkan Hilya yang nampak kesal. 


"Dasar wanita murahan, kau pikir aku akan diam begitu saja."


Setelah melepas uneg-uneg nya, Hilya kembali ke ruangannya. 


Di ruang rapat 


Andreas yang tadinya duduk tenang di samping Yudha, kini terlihat gelisah setelah menatap layar ponselnya, pria itu beranjak menghampiri sang bos lalu berbisik.


Yudha hanya menjawab dengan anggukan mengingat saat ini ia sedang memimpin rapat yang lumayan penting. 


Namun, ia meraih handphone dan mengetik sesuatu di sana. 


Sayang, jangan keluar dari ruangan, tunggu aku sampai kembali, ini perintah.


Itulah pesan yang dikirim Yudha untuk Lintang sebelum melanjutkan rapat nya. 


Beberapa menit kemudian, Yudha keluar dari ruang rapat. Masih bersama dengan Andreas di samping nya. Juga memanggil Hilya yang ada di ruangannya. 


"Apa yang akan Bapak lakukan?"


Yudah menghentikan langkahnya membuat Andreas tersentak kaget saat menabrak punggung sang bos yang sedikit keras. 


"Kamu masih bisa bertanya, akan aku pecat mulut mereka yang berani mengatakan istriku murahan." 


Mengucap dengan keras membuat tubuh Hilya bergetar, bahan pulpen yang ada di tangannya terjatuh. 


Apa maksud pak Yudha? Istri, siapa istrinya, bukankah dia sudah bercerai dari bu Natalie, lalu siapa ya di maksud. 


Yudha melirik Hilya yang nampak ketukan, wajahnya pucat hingga tak berani mengangkat kepalanya. 


"Hilya," panggil Yudha dengan nada datar. 


"Apa kamu dengar, apa yang akan aku lakukan jika ada orang yang menghina istriku?" 


Hilya mengangguk tanpa suara. 


"Selama ini kamu adalah sekretaris terbaik di perusahaan ini." 


Bagaikan diguyur dengan air es, sekujur tubuh Hilya merasa sejuk, tidak pernah menyangka akan disanjung Yudha dengan kinerjanya. 


"Tapi aku tidak bisa memaafkan kesalahanku kali ini, dan silakan keluar dari kantor ini, untuk pesangon Andreas yang akan mengurusnya," lanjutnya lagi. 


Yudha seperti mengempaskan tubuh Hilya setelah mengangkatnya jauh ke angkasa. 


"Ap… apa salah saya, Pak?" tanya Hilya terbata, takut kehilangan pekerjaan yang selama ini digelutinya, dan ia yakin tidak akan mudah untuk mendapatkan tempat seperti itu. 


Yudha merapikan jas yang dipakainya lalu meninggalkan Hilya.


Andreas menghela napas panjang. 


"Pak Yudha memecat kamu karena sudah berani menghina bu Lintang," jelas Andreas ikut berlalu. 


Tubuh Hilya lemas seketika, ia hanya bisa menatap nanar ruangannya. Sebab, tidak akan mudah untuk mengubah keputusan Yudha.


Andreas kembali menghampiri Hilya dan memberikan amplop yang berwarna coklat.


"Silakan keluar, kantor ini tidak membutuhkan orang yang memandang rendah bu Lintang."