
Semenjak Keanu datang, suasana rumah semakin canggung. Lintang tak bersuara jika tak ditanya, begitupun dengan Gita yang menghindar dari tamu penting bos nya itu.
Apa kak Keanu masih mengenalku?
Lagi-lagi Lintang bertanya dalam hati. Meskipun tatapan pria itu sudah mengisyaratkan, tetap saja Lintang gelisah.
"Apa rencana kamu setelah pindah ke sini?" tanya yudha memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
"Aku akan mengembangkan pabrik makanan cepat saji yang aku dirikan tiga tahun lalu. Sepertinya akan lebih menarik." Mata Keanu menatap Lintang yang menunduk.
"Wah, sebentar lagi akan ada keponakan baru." Keanu mengalihkan pembicaraan, berharap Lintang ikut menanggapinya.
"Iya, sebentar lagi bayi kami akan lahir. Dia perempuan."
"Kebetulan, aku akan menunggunya sampai dia dewasa."
"Untuk apa?" Yudha mengerutkan alisnya, meskipun otaknya sudah sedikit menangkap maksud dari Keanu, tetap saja ia ingin memastikannya.
"Istri," jawab Keanu tanpa malu.
"Nggak boleh," sahut Lintang seketika. "Pasti kak Keanu sudah tua dan keriput, kasihan putriku," ucap Lintang keceplosan.
Yudha terpaku, menatap Lintang dengan penuh tanda tanya.
Keanu menahan tawa. Akhirnya apa yang dinanti itu tiba. Memancing supaya Lintang membuka suara adalah tujuan utamanya, dan ia berhasil. Mendengar panggilan yang disematkan dari bibir Lintang adalah sebuah hadiah yang sukses mengusir rasa penyesalan yang menyelimutinya.
Ternyata dia masih mengingat ku.
Setidaknya ada obat yang bisa meringankan luka di dadanya saat ini.
"Sayang, kamu manggil Kenau apa tadi? Kak. Memangnya kalian sudah saling kenal?" tanya Yudha menyelidik.
Mengingat Lintang bukan tipe orang yang gampang akrab dengan orang lain membuatnya sedikit curiga.
Lintang tampak bingung dengan pertanyaan sang suami, ingin jujur, tapi tidak untuk saat ini, ia tidak ingin merusak hati Yudha yang terlihat bahagia.
"Wajahku masih terlihat muda, Yud. Jadi wajar saja kalau Lintang memanggilku dengan sebutan kak," sahut Keanu pada akhirnya.
Gita datang menghampiri mereka bertiga.
"Maaf, saya cuma mau bilang kalau makanan sudah siap." Melirik ke arah Keanu, tak ada yang berubah dari pria itu, hanya saja penampilannya lebih keren dengan balutan jas hitam.
Yudha mengangguk tanpa suara.
Lintang mengelus dadanya, sedikit lega. Akhirnya ia bisa terputus dari ketegangannya.
"Mas, aku ke kamar dulu, sepertinya aku nggak bisa ikut makan siang," ucap Lintang ragu-ragu. Terdengar tidak sopan, namun itulah yang mungkin bisa membuatnya tenang.
Ada apa dengannya?
Yudha menatap punggung Keanu yang sudah duduk di ruang makan. Lalu, menatap sang istri yang ada di sampingnya.
"Tapi kasihan Keanu, sudah lama aku nggak bertemu dengannya, masa harus aku tinggal, dan aku nggak mungkin makan tanpa kamu."
Lagi-lagi Lintang merasa bersalah dengan sang suami.
"Mas, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Tapi sebaiknya kita makan dulu." Lintang mengurungkan niatnya ke kamar dan memilih mengikuti langkah suaminya menuju meja makan.
Di meja makan rupanya tak sehening di ruang tamu. Lion yang berada di pangkuan Keanu terus saja menciptakan tawa.
"Kata papa om itu dulu pernah menjadi ketua mafia?" tanya Lion dengan polos, tak sengaja ia pernah mendengarkan percakapan Yudha dan Andreas. Rasa ingin tahunya sangat besar hingga ia menanyakannya sendiri.
Keanu mengangguk sambil menyuap salad di bibir mungil bocah itu.
"Mafia itu apa sih, Om?" Lion melanjutkan pertanyaan yang belum tuntas.
Semua orang saling tatap, sedangkan Keanu hanya bisa menanggapinya dengan senyuman tipis. Tidak mungkin ia menjelaskan itu, sedangkan Lion yang masih sangat kecil belum boleh mendengar hal yang diluar jangkauannya.
Lion langsung turun dari pangkuan Jeanu dan duduk sendiri.
"Lion, mafia itu orang yang memberantas kejahatan," sahut Yudha kemudian.
"Kalau begitu aku kamu bercita-cita menjadi mafia."
Pak Radit tersedak daging yang hampir ditelan.
Semua orang bergelak tawa mendengar penuturan Lion yang sangat menggemaskan.
Pertemuan yang sangat menegangkan, juga banyak memberi jawaban atas harapan Keanu yang selama ini ditunggu. Kini harapan itu pupus sudah saat melihat keluarga Yudha yang bahagia dengan orang yang pernah bersemayam dalam hatinya.
Keanu menatap jan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Yud, kayaknya aku harus pulang, sudah sore."
Keanu beranjak dari duduknya. Ia pamit dengan seluruh keluarga Yudha, bahkan pria itu memeluk Bu Indri dan bu Fatimah bergantian.
"Sering-sering ke sini, pasti Lion akan merasa terhibur," pinta Bu Indri.
"Baik, Tante. Tapi saya tidak janji, karena banyak pekerjaan yang harus saya urus."
Yudha mengantarkan Keanu hingga ke depan.
"Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya. Jangan bosan-bosan ke sini. Rumah ini terbuka lebar untukmu."
Lion berlari dan berhamburan memeluk kedua kaki Keanu.
"Besok ke sini lagi ya, Om."
Keanu mengangkat kedua jempolnya yang membuat Lion kegirangan.
Setelah mobil Keanu menghilang, Lintang langsung menghampiri Yudha yang baru saja menutup pintu depan.
"Mas, aku mau bicara sama kamu."
Yudha melepaskan tangan Lintang yang bergelayut di lengannya. Tatapannya datar, tanpa mengucap sepatah kata Yudha meninggalkan sang istri.
Apa mas Yudha marah padaku.
Lintang menatap punggung Yudha yang berjalan ke arah kamarnya. Lantas, ia mengikutinya dari belakang. Lintang membuka pintu dengan pelan. Menatap Yudha yang berbaring di ranjang.
Kenapa mulutku bisa keceplosan memanggilnya kak, sih. Kalau mas Yudha beneran marah gimana?
Lintang berjalan menghampiri Yudha. Menarik kursi dan duduk di depan sang suami yang menatap ke arah luar jendela.
"Mas, sebenarnya aku sudah kenal dengan kak, eh Keanu." Lintang meralat ucapannya tak ingin lagi menyematkan kata kak untuk mantan mafia itu.
Yudha mengulurkan tangannya. Mengambil ponsel yang ada di nakas. Tak mengindahkan ucapan Lintang. "Aku tahu," jawab Yudha singkat, matanya tak teralihkan dari foto yang menjadi wallpaper.
"Mas tahu dari mana? Apa Keanu yang cerita?" tanya Lintang dengan suara lemah. Matanya sudah mulai digenangi air mata hingga membuatnya tak lemah.
"Tahu dari tatapan Keanu ke kamu, sepertinya dia punya rasa sama kamu."
"Tapi aku tidak mencintainya, Mas." Akhirnya air mata Lintang luruh juga membasahi pipinya. Ia tak sanggup membendung rasa sedih saat Yudha terus mengabaikannya.
Seketika itu Yudha langsung terbangun dan merengkuh tubuh sang istri yang bergetar.
"Aku tahu, cinta kamu hanya untukku, kan? Sama, hanya kamu wanita yang aku cintai. Kemarin Keanu bilang, kalau dia akan menikah setelah menemukan gadis yang pernah ia temui tiga tahun lalu, tapi kenyataannya kamu sudah menjadi milikku. Tapi aku punya solusi, bagaimana kalau kita dekatkan dia dengan Indira saja."
"Kamu nggak marah padaku?"
Lintang tak menjawab pertanyaan Yudha, melainkan memikirkan sikap sang suami yang sedikit acuh padanya.
"Nggak, Sayang. Aku hanya mengujimu saja."