
Bu Fatimah bergelak tawa. Menghampiri Yudha yang meminta keringanan dari Lintang. Nampak sang menantu memohon pada istrinya yang menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah Lintang, kasihan suami kamu." Mengelus pundak Lintang yang bergetar. Mencium pucuk kepala lalu merangkulnya. Menasehati untuk tidak terlalu manja dan menyusahkan Yudha.
"Tapi, Bu. Aku pengen makan Ledre," ucap Lintang terputus-putus, mengusap pipinya yang semakin basah karean air mata yang terus mengalir deras.
Yudha berbicara lagi dengan Andreas lewat telepon.
"Andre, bilang pada Pak Sukoco kalau rapat nanti siang dibatalkan, aku ada urusan penting," ucap Yudha dengan berat hati. Mengecewakan klien bukanlah seorang Yudha, namun ia tak bisa mengabaikan sang istri yang sangat menginginkan makanan yang belum diketahui bentuknya.
Setelah mendapat jawaban dari Andreas, Yudha mematikan sambungan lalu meletakkan ponselnya di meja.
"Nanti aku berangkat membeli makanan yang kamu minta, tapi jangan menangis."
Yudha mencium punggung tangan Lintang dengan lembut, mencurahkan cintanya yang mendalam.
Tak hanya memberi tahu tentang pembatalan meeting, Yudha juga meminta informasi tentang kota yang akan dia kunjungi. Sebab, selama berbisnis Yudha belum pernah datang ke kota yang disebut Lintang. Bersiap untuk berjuang membahagiakan sang istri.
Hening tercipta, Lintang merasa tenang setelah Yudha setuju akan membelikan Ledre untuknya. Begitu juga dengan bu Fatimah yang membisu. Wajahnya sedikit layu, tangannya bergerak mengelus perut rata Lintang.
"Ibu jadi ingat waktu hamil kamu dulu." Tersenyum kecut mengenang masa di mana ia juga merepotkan pak Juli.
"Hamil?" ulang Yudha, yang juga teringat saat Natalie hamil.
"Iya, waktu itu ibu juga ngidam aneh-aneh. Tapi ayah kamu selalu menurutinya. Meskipun tengah malam, tetap saja dia pergi demi memenuhi permintaan ibu dan juga kamu."
Tanpa sengaja bu Fatimah membongkar kebaikan sang suami di masa lampau. Menceritakan apa yang pernah mereka jalani berdua dulu. Melewati lembah masalah dengan saling memberi bahu. Tangan saling menengadah dan berdoa. Namun, dunia sesaat menjungkir balikkan keadaan hingga membuat rumah tangga yang di bangun kokoh itu hancur berkeping-keping.
Yudha tersenyum, ikut mengelus perut rata Lintang.
"Jangan-jangan kamu hamil, Sayang?" tebak Yudha senang.
"Masa sih?" Lintang menanggapinya cuek. Meskipun menginginkan secepatnya mendapat momongan, ia belum yakin akan hal itu.
"Aku ingat waktu __"
Yudha memotong ucapannya menundukkan kepala. Memikirkan lagi apa yang ia ucapkan, itu pasti akan sedikit menyinggung perasaan istrinya.
"Ingat waktu apa?" tanya Lintang menyelidik.
"Nggak papa, aku ke apotik sebentar ya, setelah itu aku beli makanan tadi untuk kamu."
Mengelus pucuk kepala Lintang dan mencium keningnya, berharap penuh atas kehamilan wanita itu.
Baru beberapa langkah menuju pintu depan, Lintang sudah memanggil Yudha hingga pria itu kembali.
"Ada apa, Sayang? "
Yudha duduk di samping Lintang lagi.
"Jangan pergi!" Bergelayut manja di lengan Yudha.
Terpaksa Yudha meminta orang lain untuk membelikan apa yang ia butuhkan. Sebagai seseorang yang pernah menikah dan mempunyai anak, Yudha tahu langkah yang harus diambil. Bahkan ia langsung mempelajari bagaimana cara menjadi suami siaga sejak Natalie hamil Lion.
Hampir lima belas menit hanya ada keheningan, Lintang menyandarkan kepalanya di dada Yudha. Saling menatap ke arah layar tv yang menyala.
Pak Didin datang membawa sekantong kresek di tangannya.
"Ini pesanan, Bapak," lapor pak Didin menyerahkan barang belanjanya. "Ada tiga jenis yang saya beli seperti permintaan, Bapak."
Yudah manggut-manggut mengerti.
"Sayang, kita tes dulu yuk!" ajak Yudha dengan suara pelan. Takut mengganggu mood Lintang yang naik turun.
"Harus ya?" cicit Lintang sambil membaca merk testpack yang diambilnya.
Lintang menurut, membawa alat itu ke kamar mandi. Yudha dan Bu Fatimah menunggu di kamar. Meskipun keduanya berharap hasilnya positif, tetap saja akan menerima dengan lapang jika hasilnya negatif.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Yudha dan Bu Fatimah berlari menghampiri Lintang yang ada di depan pintu. Kedua tangannya bersembunyi di belakang, senyum nya mengembang tanda membawa kabar baik.
"Bagaimana hasilnya, Lin?" tanya Bu Fatimah yang paling antusias. Sebab, ia sangat mengharapkan cucu pertama nya.
"Ibu dan mas Yudha maunya apa?" Lintang balik tanya.
"Positif," jawab mereka serempak. Saling tatap dan saling tertawa.
"Kompak banget."
Lintang masih nampak santai lalu berjalan menuju ranjang.
"Jangan ikutin ibu," cetus Bu Fatimah pada Yudha.
Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hidup bersama dua wanita yang sangat sensitif membuatnya harus mempunyai samudra kesabaran.
"Hasilnya positif, "jawab Lintang tiba-tiba, menunjukkan tiga jenis test pack sekaligus.
Pelukan hangat diterima Lintang dari bu Fatimah setelah memastikannya sendiri. Ia sangat bersyukur, setelah kehilangan suami, akhirnya Allah memberikan anugerah kembali.
"Selamat ya, Nak. Anak kamu adalah rezeki yang terindah buat ibu. Selama ini kamu kehilangan kasih sayang dari ayah kamu. Yudha," panggil bu Fatimah.
Yudha lebih mendekat lagi dan berdiri di samping bu Fatimah. "Jangan pernah kecewakan Lintang, jaga dia dengan baik. Karena ibu tidak akan memberi kesempatan untuk yang kedua kali."
"Baik, Bu."
Setelah Bu Fatimah melepaskan pelukannya dan keluar, kini gantian Yudha yang merengkuh tubuh mungil sang istri.
Ciuman lembut mendarat beberapa kali di pipi dan bibir Lintang dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang. Ini adalah kado terindah darimu untukku."
Suara dering ponsel membuyarkan suasana. Ternyata Andreas mengatakan jika pesawat yang ia pesan sudah siap.
"Sayang, aku berangkat sekarang, jangan keluar rumah dan jangan makan yang aneh-aneh."
Setelah pamit pada Lintang, Yudha merapikan bajunya lalu rambutnya. Tak lupa menyemprot parfum kesukaannya.
Baru saja meraih ponsel, Lintang mendekati Yudha yang siap untuk pergi.
"Jangan pergi!" pinta Lintang bergelayut manja.
"Lalu?" tanya Yudha mulai ketar-ketir. Takut Lintang berubah pikiran dan memintanya melakukan sesuatu yang lebih sulit daripada mencari Ledre.
Lintang menghela napas panjang, wajahnya yang nampak ceria serta senyum manisnya membuat Yudha semakin gelisah.
"Nggak pengen makan apa-apa. Kita ke dokter saja, periksa."
Yudha mengelus dadanya, lega. Akhirnya lepas dari permintaan sulit Lintang.
"Yudha," panggil Bu Fatimah dari ambang pintu.
Yudha dan Lintang menghampiri sang ibu yang tampak gelisah.
"Ada apa, Bu? Apa ibu butuh sesuatu?"
Bu Fatimah menunduk lesu. "Kok nggak ada kabar dari ayahnya Lintang. Apa dia sudah mengurus surat perceraian atau belum? Kalau sudah, kenapa nggak ngabarin ibu, apa kamu bisa membantu?"
Terlihat jelas jika bu Fatimah memendam kekhawatiran. Entah untuk siapa, yang pastinya dari bola mata coklat wanita itu masih ada cinta yang masih bersemayam.