
Persiapan pernikahan Andreas dan Gita sudah delapan puluh lima persen. Tinggal menunggu jas yang belum selesai, dikarenakan sang calon mempelai yang sangat sibuk membuat desainer kesulitan.
Hari ini Lion sudah diperbolehkan pulang. Suasana rumah pun sudah ramai, termasuk Gita yang ikut membantu persiapan di rumah. Sekaligus menjemput calon suaminya untuk pergi ke butik.
Mobil Yudha tiba di halaman depan. Mereka kembali menghirup udara segar setelah diselimuti ketegangan.
"Mas, hari ini biarkan pak Andreas bebas, kasihan Gita." Lintang melirik ke arah sang asisten yang membukakan pintu untuknya.
"Pergi saja, sudah ada Bian, dia bisa menggantikan tugas Andreas. Kamu bisa, kan?" Menatap Bian penuh harap.
"Bisa, Kak" jawab Bian membungkuk ramah.
Lintang menghampiri Gita yang ada di teras. "Kamu sudah lama?"
"Baru beberapa menit, aku tadi ke kantor dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus. Takut terbengkalai."
"Halo, Tante," sapa Lion yang ada di gendongan Andreas sambil melambaikan tangannya ke arah Gita.
"Halo, Sayang," balas Gita mengambil alih Lion dan membawanya masuk.
Andreas hanya menatap punggung gadis itu berlalu. Dari lubuk hati yang terdalam, pria itu pun merasakan rindu yang menggebu, sayangnya pekerjaan yang padat tak bisa membuatnya bebas untuk sekedar bertemu dengan sang kekasih.
"Bapak rindu sama kak Gita?" bisik Bian dari arah samping. Meskipun ia belum memiliki kekasih, Bian mengerti akan perasaan yang menyelimuti Andreas saat ini.
"Tenang saja, nanti aku bantu untuk bisa seharian penuh bersama dia," imbuhnya.
Yudha duduk di ruang tamu. Mengurai rasa lelah yang terus menerpa. Tidak ada hari yang paling indah selain berkumpul dengan keluarga seperti saat ini.
Lintang datang membawa makanan.
"Mas, dari kemarin kamu nggak makan lho." Lintang mengingatkan, ia membawakan roti bakar dengan isi daging kesukaan Yudha. Meskipun dinyatakan sembuh total, pria itu masih tetap mengkonsumsi obat dan makan yang teratur, juga olahraga untuk meningkatkan tenaga.
"Iya, Sayang. Aku bicara dengan klien dulu."
Apa klien lebih penting dari apapun, kenapa dikit-dikit klien, kapan aku nya?
Lintang hanya menggerutu dalam hati. Cerewet seperti beo pun, Yudha tetap tidak terpengaruh dan mementingkan pekerjaan.
Lintang menyodorkan roti yang ia bawa tepat di depan bibir Yudha, yang mana langsung membuat pria itu tergoda dan melahapnya.
"Sayang, kayaknya hari ini Keanu beneran datang."
Mendengar nama Keanu, seketika Lintang tersedak teh yang baru saja masuk ke tenggorokannya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Yudha mengambilkan segelas air putih untuk Lintang.
Lintang menggeleng dengan cepat. Menahan dadanya yang bergemuruh mengingat saat masa-masa dirinya kuliah bersama Gita.
Nggak mungkin temannya mas Yudha adalah Keanu yang itu, banyak nama yang sama di dunia ini, lagipula Keanu kan bukan warga negara sini.
Lintang meneguk airnya lalu meletakkan gelas di atas meja. Menatap Gita yang sedang berbincang dengan Andreas di ruang makan.
"Mas, aku ke sana sebentar." Menunjuk ruang makan.
Setelah mendapat izin dari Yudha, Lintang langsung menghampiri sang sahabat.
"Pak, maaf kalau mengganggu, aku ada perlu sedikit dengan Gita."
Andreas mempersilahkan. Lintang menarik tangan Gita, keduanya kini berada di samping kamar Lintang dan memastikan jika tak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Ada apa?" tanya Gita antusias.
Lintang celingukan lalu mendekatkan bibirnya di telinga Gita. Ini tentang Keanu."
"Keanu Delbert," pekik Gita yang membuat semua orang menoleh, termasuk Yudha dan Andreas. Namun jarak mereka yang jauh tidak terlalu mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Gita.
Sontak Lintang membungkam bibir Gita.
Lintang menggeser tubuhnya lagi, hingga Yudha yang duduk bersama dengan Andreas tak nampak.
"Kalau beneran dia, kira-kira masih mengenal kita nggak ya?" Wajah Lintang sedikit pucat, meskipun hubungan mereka kilat, tetap saja banyak yang mereka lewati. Hingga kala itu keseriusan Adam yang membuat Lintang bisa melupakan cowok yang berdarah bule itu.
Gita mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. Memikirkan pertanyaan Lintang yang sangat sulit dijawab.
"Mungkin masih, mungkin juga nggak, dia kan tinggal diluar negeri, pasti menganggap ucapan kamu cuma bercanda. Lagipula dia itu sudah seumuran Yudha, yang pastinya sudah menikah."
Lintang merasa sedikit lega setelah mendengar ucapan Gita, dan berharap temannya Yudha bukan Keanu yang pernah hadir dalam hidupnya.
Beberapa menit kemudian, Lintang kembali menghampiri Yudha, begitu juga dengan Gita yang membantu Bu Indri menyiapkan makan di meja makan.
"Kamu dan Gita lagi bicarain apa? Sepertinya serius banget?" tanya Yudha menyelidik.
Bagaimana ini, apa sebaiknya aku jujur ke mas Yudha tentang Keanu, tapi kalau teman mas Yudha bukan Keanu yang itu, percuma dong.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Ini urusan cewek."
Akhirnya Lintang memutuskan untuk menutupinya dan akan memastikan lebih dulu gerangan yang dimaksud suaminya.
Ponsel yang ada di genggaman Yudha berdering. Pria itu langsung mengangkatnya dan tertawa. "Jangan bilang kalau kamu kesasar," cetus Yudha. Satu tangannya meraih tangan Lintang.
"Sayang, Keanu sudah sampai di depan." Mengucapkan tanpa bersuara.
Lintang pun hanya diam mengikuti langkah suaminya.
"Iya, langsung saja masuk, aku dan istriku akan menyambutmu dengan ketus tangan."
Yudha memutuskan sambungannya. Menghentikan langkahnya sejenak, berbicara dengan bi Siti untuk segera menyiapkan makanan.
Jantung Lintang berdegup kencang. Gugup melanda membuatnya sedikit tak tenang, namun ia tetap memasang senyum manis.
Seandainya itu adalah Deanu Delbert, apa masalahnya. Aku sudah punya mas Yudha, dan semoga dia sudah mempunyai istri.
Tin tin
Suara klakson menggema.
Yudha yang ada di teras melambaikan tangannya ke arah mobil yang baru saja parkir di area halaman, sedangkan Lintang pun menatap ke arah yang sama.
Deg
Untuk yang kesekian kalinya jantung Lintang berirama lebih cepat saat melihat seseorang yang turun dari mobil.
Sama seperti Lintang, pria itu pun tercengang. Sekujur tubuhnya terasa membeku hingga mencekat pergerakannya.
"Keanu," teriak Yudha, namun seakan suara itu bagaikan angin lalu, karena saat ini Keanu fokus pada wanita yang ada di sampingnya.
Ternyata benar, dia adalah Keanu Delbert, kenapa bisa kebetulan seperti ini?
Lintang mengalihkan pandangannya ke arah pak satpam yang ada di pos depan.
Ternyata dia sudah menjadi istrinya Yudha. Tenang Keanu, tidak ada yang tahu siapa jodoh seseorang, berusahalah untuk menerima. Ini salah kamu sendiri. Kenapa waktu itu tidak bilang menyukainya.
Keanu melangkah menghampiri Yudha. Ia berusaha meredam emosi yang hampir saja menguasai dirinya. Ingin status mantan mafia itu melekat di dirinya dan tidak ingin melakukan kesalahan lagi yang akan menjeratnya ke lubang yang fatal.
Beberapa menit kemudian, Keanu mengayunkan kakinya ke arah Yudha yang juga berjalan ke arahnya. Keduanya saling peluk, melanjutkan pertemuan kemarin yang sempat terputus karena kepentingan lain. Melirik Lintang yang menundukkan kepalanya. la beralih menatap perut buncit wanita itu.
"Ini istri kamu?" tanya Keanu melepaskan pelukannya.
Yudha mengangguk
"Namanya Lintang Anastasya. Merangkul pundak sang istri." Sayang, ini Keanu, dia yang menolong Lion."
Lintang hanya mengangguk dan tersenyum tipis.