
Meskipun sudah mendapatkan hadiah istimewa dari Bian berupa piano dan hadiah menarik lainnya dari Yudha dan Lintang, wajah Indira tetap saja meredup. Hatinya terasa hampa saat seseorang yang diharapkan ternyata tak hadir.
"Apa tadi kakak tidak bertemu dengan kak Keanu?" tanya Indira lirih, duduk sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Sedikitpun tak ingin menyuap. Semangatnya musnah saat itu juga mengingat seseorang yang tega padanya.
"Ketemu," jawab Bian santai, mengunyah sisa potongan kue yang ada di meja makan. Melirik sekilas ke arah wajah Indira yang nampak malas.
"Lalu, apa dia gak mau datang ke sini?" tanya Indira lagi, menatap Bian dengan penuh pertanyaan.
Bian menghela napas panjang. Meneguk jus yang tinggal sedikit hingga kandas. "Dia nggak suka acara beginian, katanya malu."
Seketika itu juga Indira beranjak. Meninggalkan pesta yang masih sangat meriah. Berjalan pelan ke arah depan. Menghindari keramaian yang membuat hatinya semakin suntuk.
Suara deheman dari arah pintu menghentikan langkah Indira. Ia menoleh ke arah sumber suara. Senyum merekah seketika saat ia melihat seseorang yang mematung di sana.
"Kak Keanu!" pekik Indira membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.
Keanu meletakkan jari telunjuk di bibirnya. mengingatkan pada Indira untuk tidak keras-keras.
Indira mendekati Keanu lalu menarik lengan kekar pria itu. Mereka pergi ke ruangan kosong, seperti sebuah kamar. Namun, tidak ada apapun di sana selain kado yang bertumpukan.
"Kakak bohong padaku, katanya mau berangkat lebih awal, tapi mana? Kakak bahkan tidak menemaniku saat tiup lilin." Mata Indira berkaca mengingat momen yang tak seindah ekspektasinya.
Keanu mengelus tengkuk lehernya. Maju satu langkah lebih mendekat lagi, mengikis jarak antara keduanya.
"Aku minta maaf, aku hanya tidak ingin membuat kamu malu."
Indira memukul dada sang mantan mafia sekeras mungkin. Meluapkan amarah dan emosi yang membuncah di ubun-ubun.
"Semua teman kamu masih abg, sedangkan aku lebih pantas menjadi kakak kamu."
"Dan aku memang ingin kakak menjadi kakakku." Indira menarik kerah baju Keanu hingga tubuh keduanya saling bertabrakan.
Keanu melirik jari lentik Indira. Ternyata gadis itu masih memakai cincin aksesoris biasa, bukan cincin darinya yang terbuat dari berlian.
Apa ini artinya Indira tidak menerima lamaranku, dan akan menganggapku sebagai kakak seperti Bian.
Keanu tersenyum, mengambil kotak kado yang dari tadi ia sembunyikan di belakang.
"Ini untuk kamu," ucap Keanu. Mengusir rasa cemas yang mengendap saat melihat sebuah fakta yang lumayan mencengangkan baginya.
"Apa ini?" tanya Indira meraih kotak itu dan menolak-balikkan nya. Penasaran isi yang ada dalamnya.
"Buka saja, kalau kamu suka, pakai. Tapi kalau tidak suka, simpan, atau berikan pada orang terdekat, jangan di buang."
Keanu seakan mengingatkan benda yang pernah diberikan pada Indira. Entah dilupakan atau sengaja, yang pasti pria itu sedikit kecewa.
Indira membuka kotak itu dengan bantuan Keanu. Ia menatapnya tanpa ingin menyentuh. Mengulurkan tanganya di depan Keanu.
"Pakai kan!" pinta Indira manja.
Keanu langsung mengambil benda pemberiannya itu dan melingkarkan di pergelangan tangan Indira. Sebuah jam tangan mewah dan bermerek sebagai hadiah ulang tahun Indira yang ke delapan belas itu terlihat cantik dan anggun.
"Kenapa Kakak memberikan aku jam tangan?" tanya Indira.
"Aku belum tahu apa yang kamu suka, jadi aku pilih ini, dan berharap kamu suka."
"Apapun yang kakak berikan, aku pasti menyukainya, terima kasih."
''Gimana kalau aku berikan ce lana dalam.''
"Kakak…" Indira menjerit. Geram dengan calon suaminya yang terus berbicara tentang itu.
Keanu menatap wajah Indira dengan lekat. "Kamu bilang akan menjawab lamaranku hari ini, dan aku ingin kamu menjawabnya sekarang."
Indira tak menjawab, ia malah menarik tubuh kekar Keanu hingga berada di depan kedua orang tuanya. Sebagian tamu sudah pulang, bahkan seluruh teman Indira pun sudah meninggalkan lokasi. Hanya tinggal kerabat dekat yang masih berbincang dengan pak Juli.
Indira memukul piring dengan sendok yang membuat semua orang berpusat menatapnya.
"Ada apa lagi?" tanya Bian yang merasa risih.
"Ada acara penting lagi." Indira menatap Keanu. Menarik tangannya hingga pria itu berdiri di sampingnya.
"Aku ingin kamu melamar aku di depan mereka semua."
Wajah sang mantan mafia langsung merah merona setelah mendengar bisikan itu.
Baginya, melamar seorang wanita adalah hal yang tabu, meskipun keinginannya untuk menikahi Indira begitu besar, tetap saja memalukan bagi dirinya.
"Tapi aku nggak romantis. Bagaimana kalau ditertawakan semua orang." Keanu balas berbisik. Ketegangannya sudah level tinggi dibandingkan saat menghadapi musuh bebuyutan di medan perang.
"Bisa." Indira meletakkan kotak perhiasan di saku celana Keanu secara diam-diam.
Keanu menghembuskan napas dengan perlahan. Meskipun ditampar sebuah kegugupan, tetap saja ia mencoba untuk santai dan menarik sudut bibirnya hingga berbentuk senyum.
"Ayo kak!" Indira menyenggol lengan Keanu dengan sikunya.
Keanu terus mengulas senyum. Meskipun gugup, otaknya tetap saja meracik sebuah kalimat untuk menyampaikan tujuannya.
"Ayah, Mama," Menatap pak Juli dan Sovia bergantian.
Keanu mengeluarkan kotak dari saku celananya lalu meletakkan di atas meja.
"Kedatangan saya kemari ingin melamar Indira sebagai istri saya."
Kenau menjeda ucapannya lalu membuka kotak cincinnya.
"Ra, maukah kamu menikah denganku?" ucap Keanu selanjutnya, meskipun ia tak berlutut di depan Indira seperti sinetron di tv, tetap saja membuat Indira bahagia.
Hening, sebagian dari mereka masih bingung dengan acara lamaran dadakan itu. Pasalnya, Indira adalah sosok yang pemalu dan tak pernah dekat dengan laki-laki, namun tiba-tiba saja dilamar pria yang sudah dewasa.
"Aku mau," jawab Indira, mengangkat punggung tangannya tepat di depan Keanu.
Sekujur tubuh Keanu terasa sejuk bak terguyur air es. Ketakutan nya kini lenyap setelah mendengar jawaban dari gadis yang ada di depannya itu.
Setelah Keanu menyematkan cincin di jari manis Indira, tepuk tangan riuh mengiringi saat Indira menyuapi kue di mulut Keanu.
"Tapi, Ke __" selak pak Juli menghentikan tawa Keanu dan Indira.
"Tapi apa, Yah?'' Indira ikut panik, ia takut jika ayahnya itu tidak menyetujui hubungannya dengan Keanu.
"Kamu mau menunggu sampai Indira kuliah?“
Keanu langsung mengangguk, sedikitpun tak keberatan dengan pendapat pak Juli.
Pak Juli memeluk Keanu dan menepuk bahunya.
"Jaga dia dengan baik, aku percaya sama kamu.''
Di tengah-tengah kebahagiaan yang membara, nyatanya ada yang termenung.
Bian memilih untuk menyendiri. Memikirkan nasibnya yang belum sesukses Yudha maupun yang lainnya. Ia masih enggan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.