
Lintang berbaring di samping bu Fatimah seperti yang sering ia lakukan dulu saat di rumah. Ia terus memeluk tubuh tua sang ibu. Menjadi pendengar setia dengan cerita-cerita yang menurutnya terkadang sedikit tak menyambung.
Kebersamaannya sudah hampir satu jam, namun Lintang belum serani menyebut masalah pernikahannya dengan Yudha.
"Bu, aku keluar dulu," ucap Lintang dengan nada pelan.
Ia teringat dengan Yudha yang menunggunya di luar. Pasti saat ini menjadi santapan nyamuk nakal.
"Mau ke mana?" tanya Bu Fatimah, wajahnya sedikit gelisah, tangannya terus mencengkram ujung baju Lintang. Matanya celingukan di setiap sudut ruangan dengan penuh kecurigaan.
"Ke kamar mandi," jawab Lintang sambil tersenyum, meyakinkan sang ibu untuk melepaskannya.
"Itu kamar mandi."
Menunjuk sebuah ruangan yang ada di sisi ranjang kosong. Kembali menatap Lintang dengan tatapan selidik. Meskipun sudah sedikit normal, Bu Fatimah nampak ragu untuk mempercayai setiap perkataan orang lain, termasuk Lintang.
Lintang hanya menoleh tanpa ingin turun. Ternyata alasannya itu gagal. Kini ia harus mencari cara lain untuk bertemu dengan Yudha.
"Ibu lapar, nggak?" tanya Lintang mengalihkan pembicaraan. Meyakinkan Bu Fatimah supaya dirinya bisa keluar.
Bu Fatimah menggeleng. Memutar bola matanya. Mengabsen seluruh ruangan, memastikan tetap aman.
Kasihan mas Yudha, kira-kira dia di mana ya. Apa aku ceritakan saja dia adalah suamiku.
Lintang menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Menatap ibunya yang masih linglung, sesekali bibirnya komat-kamit.
"Bu, sebenarnya aku sudah menikah," ucap Lintang penuh keraguan, tapi ia harus tetap mengatakannya meskipun terasa berat.
"Apa? Menikah?" Bu Fatimah memegang kedua tangan Lintang, ikut menatap cincin yang tersemat di jari manis putrinya.
Tak sesuai ekspektasinya yang akan marah dan histeris, justru bu Fatimah tersenyum lebar, menunjukkan kebahagiaan.
"Mana suami kamu?" Mengedarkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka lebar.
"Ibu nggak marah?" Lintang yang tadinya duduk di samping Bu Fatimah, kini beralih di depannya, saling hadap dan saling menatap.
"Kenapa ibu marah? Bukankah ibu harus bersyukur karena ada pria yang mau menikahimu."
Itu benar, tapi ibu belum tahu siapa yang menikahi ku.
"Sekarang panggil dia, ibu ingin berkenalan dengan laki-laki itu," pinta Bu Fatimah antusias. Mendorong Lintang ke arah pintu depan.
"Ibu tunggu saja di sini, biar aku yang panggil."
Lintang keluar dari ruangan bu Fatimah, matanya menatap ke arah kiri kanan lorong. Tidak ada Yudha di sana, hanya beberapa dokter yang melintas bersama pasien masing-masing.
"Mas Yudha," panggil Lintang berjalan ke arah taman. Meskipun sudah larut, di sana masih sangat ramai, banyak orang yang menikmati indahnya rembulan dan bintang yang berkelip, bahkan dari mereka sengaja memasang tikar demi menghibur keluarganya yang terkena gangguan jiwa.
"Mas Yudha ke mana sih?" gerutu Lintang di tengah kegelapan.
Tiba-tiba sebuah tangan menutup matanya dari belakang membuat Lintang terkejut.
"Lepaskan!" teriak Lintang, mencoba mencengkal tangan kekar yang masih menutup matanya.
"Ini aku, Sayang," bisik seseorang di telinga Lintang.
"Mas Yudha," seru Lintang saat sang suami menurunkan tangannya, memutar tubuh Lintang dan memeluknya. Menanyakan keadaan Bu Fatimah pada sang istri.
Lintang menjawab dengan lirih. Menggandeng tangan Yudha ke arah rumah sakit.
"Ibu ingin bertemu dengan, Mas."
Yudha menarik tangan Lintang. Menghentikan langkahnya. Rasanya tak percaya dengan apa yang diucapkan sang istri.
"Yakin?"
"Tepatnya bukan, Mas. Tapi suamiku," jelas Lintang secara gamblang.
Setibanya di depan ruangan bu Fatimah, Yudha menyiapkan jiwa raga, ia yakin tak akan semulus jalan tol. Pasti ada terjalan mengingat kondisi bu Fatimah yang baru saja pulih.
Lintang membuka pintu dan berdiri di sana. Mengembangkan senyum ke arah sang ibu, lalu ke arah Yudha yang ada di luar.
"Mana suami kamu?" tanya Bu Fatimah penuh harap.
"Silakan masuk, Mas," pinta Lintang pada Yudha yang harap-harap cemas.
Yudha berdiri di ambang pintu sambil menundukkan kepalanya.
Bu Fatimah diam, otaknya berkelana mengingat wajah Yudha yang tak asing baginya.
"Lintang, itu suami kamu? Sepertinya ibu pernah mengenalnya?"
Menunjuk Yudha yang belum berani masuk. Ia takut bu Fatimah akan histeris jika mengenalinya. Mungkin menjalani lembaran baru akan lebih baik, dengan Yudha sebagai suami Lintang, melupakan masa lalu yang pernah terjadi.
Lintang menghampiri Bu Fatimah lalu merangkulnya. "Namanya mas Yudha, Bu. Dia suamiku. Dia yang menjagaku selama ibu sakit, dia juga yang membantu ibu untuk bisa sembuh."
Meskipun jantungnya masih berdetak tak karuan, Yudha tetap menghampiri Bu Fatimah, bersimpuh di depannya lalu mencium kedua punggung tangan wanita itu. Tak ada penolakan, namun tatapan wanita itu masih sedikit tajam dan menyelidik. Menarik tangannya kembali dan menggeser duduknya, menghindar.
"Lintang, ibu ingin pulang," pinta Bu Fatimah.
Seketika Yudha menghubungi dokter Ega untuk datang ke ruangan mertuanya.
Setelah beberapa menit kemudian, dokter Ega datang dengan dua suster di belakangnya.
"Apa ibu Yakin mau pulang?" tanya Dokter Ega memastikan.
Bu Fatimah mengangguk tanpa suara. Sesekali melirik Yudha yang berdiri di depan dokter yang selama ini merawatnya.
"Baiklah, asalkan ibu harus tetap tenang, jangan banyak pikiran dan juga minum obat yang teratur."
Yudha mengikuti langkah dokter Ega, sedikit menjauh dari bu Fatimah.
"Kondisi bu Fatimah belum sepenuhnya pulih, jadi saya sarankan, Bapak dan Bu Lintang tidak mengingatkan beliau pada masa lalunya. Kalau perlu, ganti suasana baru, rumah maupun orang-orang yang baru di kehidupannya."
Yudha mengangguk mengerti.
Sebab, itu pun yang ia pikirkan tadi. Ingin memboyong bu Fatimah ke rumahnya.
"Sekali lagi terima kasih, Dok."
Setelah berjabat tangan dengan dokter Ega, Yudha menghampiri Lintang dan Bu Fatimah yang sudah siap untuk pulang.
Menembus kegelapan di sepanjang jalan tak menjadi halangan bagi Yudha, namun tetap saja ulu hatinya gelisah. Meskipun bu Fatimah nampak baik-baik saja menerima kehadirannya, Yudha tetap waspada jika suatu saat nanti Bu Fatimah mengingat siapa sebenarnya dirinya.
"Kita akan tinggal di rumah baru, semoga ibu betah," ucap Yudha memecahkan keheningan yang beberapa saat tercipta.
"Rumah kamu?" tanya Bu Fatimah, menatap Yudha dari pantulan spion, lagi-lagi sekelebat bayangan hitam mengganggu membuat bu Fatimah memejamkan matanya.
"Bukan, itu rumah Lintang, anak ibu. Di sana lebih nyaman daripada rumah Ibu yang lama."
Yudha sangat berhati-hati saat bicara, takut menyinggung hati bu Fatimah yang masih dipenuhi rasa kurang percaya padanya.
"Iya, Bu. Itu rumah Lintang sendiri, ibu jangan memikirkan apapun, pokoknya kita akan hidup bahagia."
Sesampainya di halaman, Bu Fatimah menghentikan langkahnya, kembali menatap Yudha yang sibuk mengeluarkan koper.
"Kamu Yudha Anggara, kan?"
Deg
Jantung Lintang dan Yudha seakan berhenti berdetak mendengar ucapan bu Fatimah.