Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 97. Melepas beban


Lintang dan Gita saling melambaikan tangan. Hampir seharian penuh mereka bersama, menghabiskan waktu untuk saling curhat. Terutama Lintang, ia melepas sedikit beban yang menyelimuti hatinya selama ini.


"Salam untuk ibu," ucap Lintang saat Andreas menyalakan mesin mobilnya. 


Gita mengangguk sambil tersenyum. 


Setelah mobil Andreas menghilang di balik gerbang, Lintang masuk menemui Lion yang tadi tidak ikut ke kantor bersamanya. 


Bu Indri menghampiri Lintang yang nampak lelah, membawakan segelas susu ibu hamil untuk sang menantu. 


"Kata papa, kamu menyuruh Andreas untuk mengganti posisi Yudha." Bu Indri membantu Lintang melepas tas nya. 


"Iya, Ma. Papa sudah terlalu banyak pekerjaan dan aku nggak tega untuk menyuruhnya. Ayah juga sibuk, jadi aku rasa pak Andreas bisa memegang ini semua. Dia orang kepercayaan mas Yudha, dan aku yakin perusahaan akan berkembang dengan bantuan dia."


Bu Indri mengelus rambut panjang Lintang. Terharu dengan ketegarannya, ditinggal sang suami saat hamil besar. 


Ya Allah, tabahkanlah hati menantuku, semoga dia bisa menjalani hidupnya dengan baik. Jangan biarkan dia terus terpuruk dengan keadaan ini. 


Di sisi lain 


Andreas menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah. 


Ia dan Gita masuk ke dalam. Mereka duduk di kursi bagian pojok. Memesan beberapa makanan yang akan dimakan disana dan juga meminta waitress untuk membungkus juga. 


"Kenapa kita makan lagi?" tanya Gita bingung. Pasalnya, mereka baru saja makan bersama Lintang di kantor, tapi Andreas malah mengajaknya ke restoran lagi. 


Andreas menyandarkan punggungnya di kursi lalu menatap Gita yang masih terlihat bingung. 


"Tadi makan karena lapar, kalau yang ini untuk menahan pukulan ibu. Takutnya ibu punya jurus dua satu dua, jadi aku harus siaga." 


Ada-ada saja. 


Gita hanya geleng-geleng dengan tingkah calon suaminya. 


Makanan yang dipesan Andreas datang.


Hari ini Andreas memang berencana untuk menemui calon mertuanya. Memberikan penjelasan dirinya yang belum juga menikahi Gita. Sebagai pria yang bertanggung jawab, ia ingin sang ibu juga mengetahui kesibukannya sebagai sang asisten yang harus taat pada Tuannya. Apalagi tadi Lintang memintanya untuk menjadi pemimpin, dan itu artinya akan menyita waktu santainya. 


"Pak," ucap Gita. 


Seketika Andreas berdehem. Kode peringatan untuk Gita supaya tidak memanggil dengan sebutan itu. Berulang kali Andreas mengingatkan, namun Gita terus saja lupa dan berbicara formal padanya. 


"Mas, gimana kalau kita menikah setelah Lintang melahirkan?"


Andreas menghentikan kunyahan nya. Menatap kedua bola mata Gita dengan lekat. Mencari sebuah kejujuran di sana, Andreas takut itu hanya dalih dari Gita untuk menjauh darinya. 


"Kenapa?" tanya Andreas meraih jus yang ada di depannya lalu meneguknya hingga kandas.


"Aku hanya ingin menjaga hati Lintang. Pasti dia masih teringat dengan pak Yudha, dan aku nggak tega dia bersedih di hari pernikahan kita."


Andreas langsung mengangguk, menerima pendapat dari Gita. 


"Ini pesanan, Bapak." Waitress meletakkan beberapa makanan di meja Andreas. 


"Ini untuk siapa?" tanya Gita menyungutkan kepalanya ke arah makanan itu. 


"Untuk Ibu, biar nggak marah." 


Ternyata mas Andreas pintar merayu ibu. 


Andreas menggantung beberapa kantong kresek di tangannya. Ia berjalan di belakang Gita. 


"Bu, ada Mas Andreas," teriak Gita dari ambang pintu. 


Suara sang ibu yang mengomel semakin mendekat, keringat bercucuran memenuhi pori-pori Andreas, namun bagaimanapun juga ia harus menghadapi calon mertuanya. 


"Mana dia?" tanya Bu Mila datar. Ia membawa sapu dan siap untuk memukul sang calon menantu yang mengabaikan hubungannya. 


"Mau pukul Andreas, dia pikir kamu itu apa, batu, hah?" Menatap kepala Andreas yang menunduk. 


"Tidak, Bu," jawab Andreas menggeser tubuhnya di depan Bu Mila. Sebagai laki-laki ia tak ingin dinilai pengecut dan harus berani menghadap.


Plak 


Sebuah pukulan mendarat di kaki Andreas yang membuat sang empu meringis. 


"Dasar, tidak tahu diri. Kenapa kamu tidak pernah datang ke sini? Kamu jadi kawinin anak Ibu apa nggak?" tanya Bu Mila kesal. 


"Ja…jadi, Bu," jawab Andreas panik. Tak mungkin Ia melepaskan wanita yang ada di depannya itu, selain cantik, juga baik dan mengerti dengan dirinya. 


"Umurnya Gita sudah dua puluh empat tahun, kalau kamu gantungin terus, dia jadi perawan tua," tuturnya dengan serius. 


"Ini untuk, Ibu.'' Menyodorkan barang bawaannya mengalihkan pembicaraan, takut terkena pukulan yang kedua kali. 


Bu Mila menghirup dalam-dalam aroma makanan yang menggugah perut. Menatap wajah Andreas yang sangat tampan luar biasa. 


"Nanti anterin ibu ke rumah Lintang. Kemarin ibu nangis guling-guling mikirin nasib bocah itu. Bagaimana dengan bayinya, juga Lion?"


"Mereka baik, Bu. Tapi kalau ibu mau ke sana, biar nanti aku anterin." 


Bu Mila merebut makanan dari tangan Andreas lalu membawanya masuk, tak lupa menyuruh pria itu untuk duduk. 


"Sebentar ya, Mas. Aku ambilkan Minum."


Andreas menahan tangan Gita yang hampir berdiri dari duduknya. 


"Tidak usah, aku sudah terlalu kenyang." 


Andreas melihat jam yang melingkar di tangannya. Menatap calon mertuanya yang duduk di samping Gita. 


Baru saja membuka mulut, ponsel yang ada di saku jas Andreas berdering memecahkan keheningan. 


Andreas melihat nama yang berkelip di layar, Ternyata itu dari kantornya. 


"Saya permisi dulu, Bu." Andreas berdiri dari duduknya lalu keluar. Ia segera mengangkat teleponnya, takut ada yang penting. 


"Halo Bian, ada apa?" tanya Andreas pada pria yang kini menjadi sekretarisnya. 


"Maaf, Pak. Baru saja saya mendapat telepon dari Singapura, katanya ada yang ingin bekerja sama dengan perusahaan di sana, dan mereka ingin bertemu langsung dengan kakak," ucap Bian seperti yang ia terima tadi lewat sambungan telepon. 


"Baiklah, kamu bilang saja besok aku dan bu Lintang akan ke sana, tapi aku nggak janji tiba jam berapa."


"Baik, Pak," jawab Bian lalu memutus sambungan nya. 


Pak Yudha tidak pernah menolak rejeki. Aku akan mengikuti jejaknya. Tapi bagaimana dengan bu Lintang, apa dia sanggup untuk ikut ke sana.


Andreas masuk menemui Gita dan bu Mila yang ada di ruang tamu. 


"Ada apa, Mas?" tanya Gita menatap wajah Andreas yang nampak bimbang. 


"Maaf, aku harus pulang, dan sepertinya untuk beberapa hari kita tidak bisa bertemu lagi, aku mau mengurus pekerjaan yang ada di Singapura." 


"Nggak papa, itu sudah resiko mempunyai calon suami yang super sibuk." 


Gita mengantarkan Andreas ke depan, keduanya saling tatap hingga Andreas meraih pinggang ramping Gita dan memeluknya. 


"Maafkan aku yang tidak bisa selalu ada untukmu," pesan Andreas mengecup pucuk kepala Gita.


Gita menyandarkan kepalanya di dada Andreas. Merapikan jam tangannya yang hampir lepas. 


"Nggak papa, Mas hati-hati, jaga Lintang dengan baik, sampai kapanpun aku akan menunggumu."


Meskipun berat, Gita tetap melepas sang kekasih.