Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 66. Aneh


Waktu terus bergulir. Semenjak kejadian malam itu, Bu Fatimah melepaskan semua beban yang menyelimuti dirinya. Meninggalkan masa lalu kelam bersama Pak Juli. Kini hanya ada lintang dan Yudha serta Lion yang akan menjadi temannya di masa tua. Meskipun begitu, ia tetap menunggu surat cerai dari suaminya. 


Bu Fatimah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang nampak sepi. Tak seperti biasanya, ruang makan pun tak ada penghuni, akhirnya ia menghampiri Lion. 


"Lion, Mama dan papa kamu di mana?" tanya Bu Fatimah mendekati Lion yang sedang bermain. 


Lion menatap pintu kamar kedua orang tuanya yang tertutup rapat. Lalu mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti. 


Masa sih, lintang dan Yudha belum bangun? 


Bu Fatimah melihat jam yang menggantung di dinding dapur. Menatap kembali pintu kamar Lintang. 


"Nggak biasanya mereka jam segini masih di kamar, ini kan bukan hari libur," gumamnya kecil. 


Tak ingin mengganggu anak dan menantunya, Bu Fatimah membantu Bik Siti menata makanan di meja makan. Menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya.


Tiga puluh menit kemudian, tak ada tanda-tanda Lintang dan Yudha keluar membuat Bu Fatimah cemas. Ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Yudha. 


Yudha yang mendengar ketukan pintu itupun ingin membukanya, namun Lintang terus memeluknya dan menghalanginya. Bahkan Yudha tak bisa berkutik saat Lintang membenamkan wajahnya di area dada dan ketiaknya. 


Entah, sudah tiga hari Yudha tak bisa bergerak bebas karena Lintang yang terus ingin menempel padanya. Bahkan terasa sangat aneh saat Lintang sengaja menyuruhnya telanjang dada, jika ditanya sangat sederhana, ingin mencium bau keringat nya saja. 


"Sayang, aku hanya mau membuka pintu, sebentar saja. Nanti aku balik lagi." 


Yudha mengusap-usap rambut Lintang yang terurai hingga ke pipinya. 


Hembusan napas wanita itu terasa menerpa kulit Yudha yang tidak memakai apapun. 


"Jangan lama-lama." 


Lintang berbaring di samping Yudha. Memberi ruang pria itu untuk turun. 


Setelah memakai kaos oblong, Yudha membuka pintunya. Senyum merekah melihat sang mertua berdiri di depan pintu kamarnya. 


"Ibu, ada apa?" tanya Yudha antusias, membuka pintunya dengan lebar hingga Lintang yang ada di atas pembaringan pun nampak. 


"Lintang nggak kenapa-napa, kan?" tanya Bu Fatimah menyelidik. Menatap putrinya yang ada di balik selimut. 


"Tidak, Bu. Dia hanya ingin manja saja. Hari ini aku juga nggak boleh berangkat ke kantor. Juga nggak boleh keluar kamar."


Bu Fatimah mengerutkan alisnya Mendengar ucapan Yudha. 


Benar-benar aneh. 


Lion menyerobot masuk dan naik ke ranjang. Seperti biasa, ia memeluk Lintang dan menciumnya. Ibu sambung itu tak terasa lagi, bahkan kasih sayang mereka sudah mendarah daging dan tak bisa dipisahkan. 


"Mama, aku mau makan," pinta Lion merengek. 


Lintang memijat kepalanya yang sedikit pusing. Mengangguk kecil meng iyakan permintaan sang buah hati. 


"Ya sudah, ibu tunggu kalian di ruang makan."


Setelah bu Fatimah pergi, Yudha kembali duduk di samping Lintang. Mencium pipinya bergantian dengan Lion. Saling berebut mendapatkan Lintang sudah menjadi aktivitas mereka, sehingga terkadang Lion kalah dan menangis. 


"Sekarang kita makan dulu, dari kemarin kayaknya kamu makannya dikit, badan kamu juga sedikit kurus lo," tutur Yudha, yang terus memperhatikan Lintang. 


"Aku nggak selera makan, Mas. Kalau lihat nasi bawaannya mual." 


"Itu berarti mama butuh vitamin penambah nafsu makan kayak aku," ucap Lion menirukan mbak Mimah jika dirinya tidak mau makan. 


Yudha dan Lintang hanya bergelak tawa mendengar ucapan lucu Lion. 


"Lion anaknya siapa sih, lucu banget?" Lintang mencubit gemas hidung Lion. 


"Anaknya papa dan Mama." Menunjuk Yudha dan Lintang bergantian. 


Seketika Lintang menatap Yudha lalu tersenyum. Hatinya bahagia diakui oleh Lion, tapi juga tergores mengingat bocah itu yang tak menyebut ibu kandungnya sendiri. 


"Lion tahu nggak, surga itu ada di mana?" tanya Lintang basa-basi. 


Lion mengetuk-ngetuk dagu dengan jari mungilnya, seperti memikirkan sesuatu. 


"Di bawah telapak kaki ibu," jawab Lion santai. 


Lion mengangguk tanpa suara. 


"Mama siapa?" tanya Lintang memastikan. 


"Mama Lintang." 


Ya Allah, seandainya aku yang ada di posisi bu Natalie dan mendengar ini, pasti aku tidak kuat. 


Mata Lintang berkaca, ia teringat sebuah pernikahan yang harus kandas ditengah jalan. Bayangan sang ayah pun melintas sejenak, meskipun pak Juli sudah jahat pada dirinya dan sang ibu, tetap saja pria itu adalah sumber kehadiran dirinya. 


"Lion harus doain mama Natalie juga. Dia mama kandung Lion. Dan sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa mengubah itu. Setelah besar nanti, Lion harus menjadi anak yang berbakti." 


"Iya, Mama," jawab Lion menundukkan kepalanya. 


Cup


Yudah mengecup kening Lintang dengan lembut. Memberikan ucapan terima kasih lewat kalbu. 


Setelah puas bercanda, Lintang dan yang lain keluar. 


Lintang duduk di samping Yudha. Hidungnya nyengir saat mencium aroma makanan yang ada di depannya. 


Jika dulu ia sangat suka, saat ini Lintang merasa jijik dengan setiap masakan, termasuk makanan kesukaannya. 


"Kamu nggak makan, mau aku suapin?" tanya Yudha yang sudah hampir menghabiskan satu piring nasi. 


Lintang menggeleng. Menjepit hidungnya dengan dua jarinya. 


"Lintang, kamu tidak apa-apa, kan?" 


Bu Fatimah ikut cemas melihat wajah putrinya yang nampak pucat. 


Tetap sama, Lintang menggeleng dengan cepat. 


"Aku pingin makan bubur ayam." Melirik Yudha yang nampak sibuk dengan makanannya. 


Yudha menatap beberapa menu yang tersaji. Ternyata tidak ada makanan yang di minta Lintang di sana. 


"Mau aku belikan?" tawar Yudha sembari menyambar gelas yang ada di depannya. 


Lintang mengangguk cepat. 


Sebagai suami siaga, Yudha langsung pergi begitu saja untuk memenuhi permintaan sang istri. 


Lintang mondar-mandir di teras depan. Sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya. Matanya terus menatap ke arah gerbang di depan rumahnya. Berdecak kesal karena Yudha sangat lama.


"Apa mas Yudha nggak lihat warung yang ada di ujung jalan, kenapa lama sekali?" gerutu Lintang. 


Sebuah mobil yang sangat familiar memasuki gerbang. Bukannya senang, Lintang malah semakin kesal saat melihat Yudha turun dari kuda besi nya. 


"Sayang, buburnya datang." Menunjukkan kantong kresek yang menggantung di tangannya. Yudha berlari kecil menghampiri Lintang yang berkacak pinggang. 


"Ini, aku beli lima kotak, kamu habiskan, ya." 


Lintang mendengus, ingin marah namun juga tak tega melihat perjuangan sang suami yang susah payah menuruti permintaannya. 


"Mas belinya di mana?" tanya Lintang ketus. 


"Restoran yang ada di samping kantor," jawab Yudha jujur. 


Lintang menepuk jidatnya. 


"Pantesan lama, sekarang aku sudah nggak pingin bubur, tapi pingin makan Ledre asli Bojonegoro."


"What…."


Setelah melewati pintu, Lintang membalikkan tubuhnya lagi, menatap Yudha yang berjalan di belakangnya.


"Ingat, harus beli sendiri, tidak boleh menyuruh pak Andreas," ujar Lintang menekankan.