
Lintang menumpahkan air matanya. Menenggelamkan wajah di antara dada dan lutut. Mengurai semua rasa yang bergejolak hingga membuatnya harus berlari untuk memenangkan pikiran sejenak. Di tempat itu adalah saksi dari semuanya yang pernah terjadi. Tempat yang mengubah hati Lintang menjadi keras hingga rasa percaya pada orang lain itu sangat tipis, terutama laki-laki.
Kebahagiaan yang pernah ia rasakan, namun berubah dengan penderitaan yang tiada ujung. Menyaksikan seorang ibu yang kini kehilangan akal sehat dan juga seseorang yang merenggut kasih sayang ayahnya. Hidup yang penuh lika-liku, menjadikan Lintang sebagai wanita mandiri. Namun juga labil dan sensitif jika menyangkut tentang hati.
Sakit hatinya yang belum sepenuhnya pulih kini kembali hancur berkeping-keping bagaikan abu. Perlakuan Yudha terasa meremas dadanya hingga sesak. Tak menyangka, ia menyaksikan suaminya berada dipelukan orang lain. Ia menganggap itu adalah sebuah penghinaan bagi dirinya yang berstatus seorang istri.
Lintang bangkit menatap mata sembabnya dari pantulan cermin. Mengusap air matanya yang membasahi pipi lalu tergugu lagi, menahan tubuhnya di sandaran dinding dan menjambak rambutnya.
"Kenapa kamu lakukan itu, Mas?"
Melorot, menjulurkan kakinya hingga ke arah ranjang. Sungguh kejadian tadi terus melintas membuatnya jijik.
Suara ketukan pintu menggema. Lintang hanya menoleh sekilas, hatinya saat ini masih kelabu dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Takut jika tak bisa mengontrol emosi dan meluapkan amarahnya.
"Lintang, buka pintunya!" Suara berat itu menembus gendang telinga. Namun Lintang tak berniat ingin membuka.
"Untuk apa kamu datang, jika ingin menyakitiku lagi, cukup sampai di sini."
Lintang menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, berharap suara itu tak mengusiknya.
Beberapa menit kemudian, pintu didobrak dari luar. Tubuh tegap tinggi mematung di ambang pintu.
Lintang melengos memalingkan pandangannya ke arah jendela. Masih dengan posisi duduk dan tak ingin pindah dari tempatnya.
"Mau apa bapak ke sini?" Ucapan khas ketus Lintang meluncur.
Tak ada jawaban, namun dentuman sepatu dan lantai semakin mendekat. Berhenti tepat di belakang Lintang.
"Aku mau minta maaf dengan kejadian tadi," ucap Yudha dengan suara berat. Tangannya bergerak menyentuh pundak Lintang. Lagi-lagi gadis itu menepis tangan Yudha dengan kasar.
Yudha ikut duduk di belakang Lintang. Menatap punggung gadis itu yang bergetar pelan.
"Mengucap maaf itu mudah. Setiap orang yang mempunyai kesalahan, pasti dia akan bilang seperti itu. Jika bapak memang keberatan dengan sikap saya, silakan ajukan surat perceraian. Seperti janji awal, saya akan membayar hutang dengan tenaga saya."
Seketika Yudha merengkuh tubuh Lintang. Takut, itu yang ia rasakan, kehilangan Lintang bahkan sangat mengerikan daripada harus melepaskan seluruh hartanya pada orang lain. Tak pernah terlintas akan bercerai dan mengulang kehidupan baru dengan wanita lain untuk yang ketiga kali.
Buliran bening lolos dari pelupuk. Yudha tak sanggup membendung air matanya. Ia sudah menyakiti Lintang, dan tak ingin menggores luka di hati istrinya untuk yang kedua kali.
Tidak ada penolakan, Lintang sudah lelah untuk mengusir dan meminta Yudha untuk pergi.
"Apa yang harus aku lakukan, katakan!" pinta Yudha dengan bibir bergetar.
"Tinggalkan saya, bapak berhak bahagia dengan perempuan yang bapak cintai, bukan perempuan yang egois seperti saya."
Lintang mengucap tanpa ragu. Ia tidak ingin membelenggu seseorang untuk berada di dekatnya dan mencintainya. Kejadian yang menimpa kedua orang tuanya menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Ia tidak ingin itu terulang kembali pada dirinya. Membentengi diri sendiri sebelum berlanjut lebih menyakitkan lagi.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu."
"Tapi saya sudah lelah berurusan dengan masalah, saya ingin hidup dengan tenang. Bapak sudah sangat menyakiti hati saya. Sekarang katakan siapa perempuan tadi?" tanya Lintang di sela-sela tangisnya.
Lintang memaling tubuh hingga kini saling tatap. Menatap manik mata biru suaminya.
"Kalau hanya sekedar teman, kenapa ada lipstik di jaket, Bapak? Dan semalam, aku juga mencium bau parfum perempuan di tubuh bapak."
Yudha mengingat-ingat dengan kejadian semalam. Otaknya berhenti seketika saat mengingat Claire jatuh di belakangnya.
"Semalam dia hampir jatuh, mungkin saja liptsiknya nempel di bajuku. Demi Allah, aku tidak pernah menciumnya. Dan pelukan tadi itu mendadak, aku tidak bisa menghindar lagi. Percayalah, Sayang. Aku tidak ada perasaan apapun sama dia."
Yudha mengucap panjang lebar. Meyakinkan Lintang untuk percaya dengan kejujurannya.
Lintang kembali terisak, menyandarkan kepala di dinding. Meresapi setiap kalimat dari Yudha yang masuk akal.
Yudha mengangkat tubuh lemah Lintang dan membaringkannya di tempat pembaringan. Membelai pipi gadis itu dengan lembut lalu merapikan rambut yang menutupi keningnya.
"Kita pulang ya, aku janji tidak akan berhubungan dengan perempuan manapun termasuk Claire. Aku akan sabar menunggumu menerimaku dengan ikhlas. Aku tidak akan meminta hakku seperti semalam."
Lintang menggeleng.
"Saya bukan perempuan yang baik, lebih baik bapak cari perempuan lain saja." Lintang tetap kekeh dengan pendiriannya.
Dasar kepala batu, gerutu Yudha dalam hati.
Menatap ranjang yang sangat sempit serta langit-langit kamar yang sudah lapuk.
Disaat suasana mencengkam dan harus bergelut dengan hati, justru dirinya pun ingin tertawa dengan poto Lintang yang menggantung di samping lemari. Poto yang membuat dirinya seketika menolak perjodohan itu tanpa ingin tahu orangnya.
Yudha melepas sepatu dan ikut berbaring di samping Lintang. Satu tangannya mencengkram sprei saat ranjang yang ia tempati bersama Lintang mengeluarkan bunyi.
"Aku tidak akan bisa mencari perempuan manapun karena kamu sudah menjeratku hingga jatuh di dasar jurang yang terdalam."
Memiringkan tubuhnya dan memeluk erat sang istri. "Tidurlah, aku akan menemani kamu," ucap Yudha lirih dan memejamkan mata lebih dulu. Mengurai beban yang seharian ini menyelimuti nya.
Hingga beberapa menit, napas Lintang nampak teratur membuat Yudha membuka mata, senyum mengembang di bibir Pria itu saat menatap wajah teduh Lintang yang sesekali masih terisak.
Aku yang bodoh dan tidak bisa mengerti kamu. Mulai hari ini aku tidak akan mengulanginya lagi. Kamu terlalu berharga bagiku dan Lion. Jangan tinggalkan kami.
Mencium kening Lintang dengan lembut dan lama hingga deringan ponsel membuat Yudha mengakhiri adegannya.
Yudha segera merogoh benda pipihnya dari saku celana, sekilas melihat nama yang tertera lalu mengangkatnya dengan malas.
"Maaf Claire, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi, aku tidak ingin istriku salah paham."
Yudha langsung mematikan ponselnya yang membuat wanita di seberang sana emosi.
"Aku tidak akan membiarkan perempuan itu memilikimu, Yud. Kita lihat saja, siapa yang akan menang. Dia hanya gadis kampung yang menjadi parasit di kehidupanmu."
Claire tersenyum menyeringai, memasang bendera perang dengan Lintang yang jelas-jelas menjadi istri Yudha.