
"Mas Yudha… " teriak Lintang saat membuka mata.
Pandangannya berkeliling menyusuri setiap sudut ruangan. Tempat itu bukan tempat dimana ia pingsan tadi, tapi dari bau khas dan ranjang, itu adalah ruangan rumah sakit.
Semua keluarga langsung mendekap tubuh Lintang dengan erat. Mereka bermandikan air mata melihat kondisi Lintang yang sangat mengenaskan.
Lintang kembali histeris. Air matanya tumpah bak banjir bandang. Yakin apa yang ia dengar tadi hanya mimpi buruk. Namun, bisikan papa mertua yang menguatkan membuat keyakinannya itu runtuh.
"Mas Yudha masih hidup, kan Ma? Itu hanya bajunya, mungkin sekarang dia mencari jalan pulang. Aku harus ke sana."
Bu Indri menggeleng. "Kamu harus ikhlas, semua ini sudah takdir."
Meskipun hatinya sendiri sebagai seorang ibu belum bisa menerima, Bu Indri harus menjadi tiang untuk Lintang. Menguatkan hati wanita itu supaya tegar menerima.
Andreas masuk dan berdiri di depan brankar. Diikuti Gita dari belakang. Sebagai asisten, ia merasa tak berguna dengan kejadian ini. Tak sanggup menatap wajah Lintang yang pasti masih berharap padanya.
"Jangan ada yang bilang kalau mas Yudha sudah meninggal." Suara Lintang lirih, namun menekankan semua orang untuk tetap berpikir positif.
"Aku yakin, dia masih hidup dan akan kembali," lanjutnya tanpa ragu.
"Aku mau pulang." Menyibak selimut yang membalut tubuhnya lalu turun.
Tidak ada yang berani menghalangi langkah Lintang. Mereka bagaikan boneka yang mengikuti sang majikan pergi.
Lintang menghampiri pak Didin yang membuka pintu mobil miliknya. Ia ingat mobil sang suami sudah hangus terbakar. Akan tetapi, ia lupa jika Yudha belum ditemukan.
"Pak, apa mas Yudha sudah pulang?" tanya Lintang santai.
Pak Didin menatap semua orang yang ada di samping Lintang bergantian. Lalu menatap sang majikan.
"Belum, Bu," jawab pak Didin.
"Kebiasaan," gerutu Lintang lalu masuk dan duduk di jok belakang. Ditemani Bu Indri dan Bu Fatimah, sedangkan di jok depan ada pak Juli.
Pak Radit masih tertinggal dengan Andreas.
"Jangan hentikan pencarian, sebar ke seluruh pelosok tentang hilangnya Yudha. Siapa tahu kita masih bisa dapat petunjuk," titah Pak Radit pada Andreas. Bagaimanapun juga Ia masih berharap putranya masih hidup.
Andreas mengangguk setuju, Ia pun sudah menyiapkan poster untuk dibagikan.
"Aku percayakan semua ini padamu." Menepuk bahu lebar Andreas lalu pergi menyusul Lintang.
Gita yang dari tadi berdiri di ambang pintu rumah sakit menghampiri Andreas. Ia ikut sedih dengan musibah yang menimpa sahabatnya.
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Gita.
Andreas menoleh, menatap calon istrinya yang nampak khawatir.
"Bekerja seperti biasa, nanti kamu ke ruangan saya dan Pak Yudha, banyak dokumen di sana. Kamu simpan di lemari lalu kunci. Bawa kuncinya ke rumahku, nanti biar aku yang bicara pada seluruh staf lainnya."
"Baik, Pak." Gita langsung berlalu.
Namun, langkah gadis itu berhenti saat Andreas memanggilnya.
"Maaf, sepertinya pernikahan kita harus di undur sampai waktu kembali tenang. Kasihan Bu Lintang, pasti dia sangat terluka dengan kejadian ini."
Gita mengangguk tanpa suara. Namun, hatinya sedikit berat untuk menerima keputusan Andreas. Ada rasa takut yang menyelimuti Gita.
Setelah motor Gita menghilang di ujung jalan, Andreas ikut meninggalkan rumah sakit. Melaksanakan perintah dari Pak Radit secepatnya.
Setibanya di depan gerbang rumah, Lintang membuka kaca mobil. Ia mengerutkan alisnya saat melihat karangan bunga yang berjejer rapi di sana.
"Siapa yang meninggal, Ma?" tanya Lintang membuka pintu. Menatap beberapa orang yang memakai baju hitam itu di sekitar rumahnya.
Sebagian perusahaan yang mengenal sosok Yudha langsung mengirim bunga sebagai rasa bela sungkawa. Sebagian warga pun berdatangan ke rumah.
Lintang membaca tulisan yang tertera pada setiap hiasan bunga itu lalu memanggil pak Didin.
"Bapak buang semua bunga ini, jangan ada satupun yang boleh meletakkan bunga di sini,!" titah Lintang dengan tegas.
Ia melangkah lebar dan masuk ke rumah. Menyuruh semua penjaga untuk berjaga jika ada yang datang.
"Kalian ingat! Mas Yudha belum meninggal, tidak ada yang boleh mengucap kalau dia sudah tiada.".Memperingatkan sekali lagi sebelum Lintang masuk ke rumah.
"Mama..." teriak Lion dari ruang tengah, melambaikan tanganya ke arah Lintang.
Mas, lihatlah Lion, apa kamu tidak rindu dengan tingkah nya yang lucu, kenapa kamu tega meninggalkan kami.
Lintang mengusap air matanya. Menghampiri Lion yang nampak ceria. Memeluk dan mencium kening bocah itu.
"Mama, papa mana, aku kangen?" ucap Lion manja.
Lintang tersenyum paksa. Membalut kesedihannya. Tidak mau Lion ikut merasakan apa yang ia rasakan.
"Papa belum pulang, Sayang. Malam ini Lion tidur dengan mama dan dede." Menuntun tangan Lion mengelus calon adiknya.
"Dede juga harus terbiasa seperti abang, ditinggal papa bekerja di luar kota," ucap Lion mengharukan.
Lintang melihat jam yang menggantung di samping tangga.
Biasanya jam segini kamu sudah pulang kerja mas, tapi sekarang kamu dimana, kenapa kamu menyiksaku seperti ini.
Bu Indri dan bu Fatimah hanya bisa menatap Lintang. Mereka tak bisa lagi melakukan sesuatu. Memberi ruang untuk wanita itu menenangkan diri.
Pak Radit yang baru tiba langsung berbicara dengan semua penghuni rumah Yudha. Meminta mereka untuk menjaga perasaan sang menantu. Melarang semua orang untuk berbicara yang menyinggung hati Lintang.
"Jangan terima tamu, siapapun itu."
Semua mengangguk mengerti.
Lintang masuk ke kamarnya. Ia merapikan semua baju Yudha. Menempatkannya di sisi baju nya, memindahkan tata letak barang-barang yang sedikit berantakan, mengusir rasa gelisah, dan kembali yakin jika sewaktu-waktu suaminya akan pulang dan memberi kejutan untuknya.
Di sisi lain
Seperti yang dilakukan dua hari ini, Andreas kembali menyisir sungai yang mengalir deras. Banyak kemungkinan jika pernyataan yang diutarakan Polisi itu benar adanya, melihat cepatnya arus dan kondisi sungai yang dalam tak memungkinkan siapapun bisa selamat, apalagi Yudha pasti sudah terluka karena kecelakaan itu.
"Semoga Allah memberi keajaiban dan bapak bisa selamat."
Andreas menemui beberapa penghuni desa yang ada di dekat sungai. Ia seperti pengembara yang berpetualang mencari sosok Yudha. Tak mengenal lelah yang kian menggerogoti tubuhnya. Kebahagiaan keluarga Yudha lebih penting dari dirinya sendiri. Kali ini Andreas tak sendiri bersama tim yang bertugas. Ia ditemani Bian dan juga orang suruhan pak Radit.
"Selamat sore, Pak," sapa seorang pria yang memakai kaos oblong dengan celana panjang. Jika dilihat dari penampilannya, pria itu seperti seorang petani.
"Sore," jawab Bian.
"Apa ada keluarga bapak yang hilang di sungai ini?" tanya pria itu lagi.
Bian dan Andreas mengangguk tanpa suara.
Wajah Pria itu nampak redup. "Maaf kalau saya lancang, setiap tahun di sini pasti ada kecelakaan, jika dalam semalam tidak ditemukan, mereka pasti akan hilang."
Kenyataan macam apa ini
Andreas menggeleng dan tak percaya dengan penuturan pria itu.