Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 101. Hukuman untuk Claire


Waktu terus bergulir. Keluarga Yudha dan Lintang sudah tiba di Singapura, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Yudha dirawat. Saat ini Claire pun ditahan demi mendapatkan keterangan yang jelas  dari wanita itu. Rasa haru, bahagia, semua bercampur mengiringi saat Bu Indri bertemu dengan putra tercinta. 


Pelukan hangat menyambut. Mengubah  suasana yang sempat hening menjadi lebih ramai. Meskipun masih lemas, Yudha mampu menopang tubuh mungil Lion. 


Di pembaringan itu ada Yudha dan Lion di pangkuannya. Lintang duduk di sampingnya sambil menyuapi makanan untuk sang suami. Di sofa ada pak Juli dan Pak Radit, Bu Indri dan bu Fatimah, Andreas dan juga Bian. Mereka membicarakan langkah selanjutnya pada Claire. 


Yudha tak ingin ikut campur mengingat kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. 


"Lalu apa yang harus kita lakukan pada Claire?" ujar Pak Juli, ia ikut kesal dengan tingkah gadis itu. 


"Sebaiknya kita lapor polisi saja, ini sudah masuk kasus penculikan." Pak Radit memberi saran. 


"Sebaiknya kita tanya dulu, Pa. Kenapa dia membawa mas Yudha ke sini, apa alasan dia menyembunyikan mas Yudha dari kita."


"Itu pasti dia terobsesi sama suami kamu," cetus Bu Indri. 


Lintang tersenyum tipis sambil menatap Yudha. Mengusap bibirnya yang terkena bubur. 


Mas Yudha memang tampan dan kaya, dia juga baik, pasti banyak perempuan yang menyukainya. 


"Aku setuju dengan pendapat Lintang," sahut Bu Fatimah kemudian. Ia tak mau mengambil keputusan sendiri yang akan merugikan orang, semua harus tenang dan tidak boleh gegabah. 


"Baiklah, kalau begitu kita harus mengurus masalah ini secepatnya."


Andreas mengangguk, mengikuti langkah Pak Radit dan pak Juli. Begitu juga dengan Bian yang juga mengikuti mereka. Bu Indri dan bu Fatimah mengajak Lion bermain di taman samping rumah sakit. Memberi ruang pada Yudha untuk bisa istirahat. 


"Aku minta maaf sudah membuatmu kecelakaan, Mas. Aku __" 


Yudha membungkam bibir Lintang dengan satu jarinya. Merengkuh tubuh wanita itu, mencium pipinya dengan lembut. Ia merindukan kemesraan dengan sang istri. Meskipun Yudha tidak tahu berapa lama ia tertidur, namun ia merasa sangat lama berpisah dari sang istri. 


"Aku yang seharusnya minta maaf, sebagai suami aku tidak bisa melindungi kamu. Aku ceroboh, sudah membuat kamu dan anak kita terluka."


Yudha mengelus perut Lintang. Seketika itu bayinya ikut menyahut dengan gerakan lincah. 


"Maafkan papa, Sayang. Papa janji tidak akan meninggalkan kamu dan mama lagi." Mengecup perut Lintang dengan lembut. 


"Kenapa kamu bisa sampai ke sini?" tanya Yudha, kini semua ingatannya sudah kembali normal. Mengingat apa yang menimpanya, dan tahu kenapa ia bisa sampai ke negeri singa itu. 


"Ada perusahan yang ingin bekerjasama dengan perusahan, Mas. Mereka ingin bertemu langsung denganku, terpaksa aku datang."


"Ternyata istriku sudah menjadi Bu CEO. Sukses selalu ya," canda Yudha. Mengangkat jempolnya di depan Lintang. 


Wajah Lintang langsung merona. Padahal, ia melakukan itu dengan terpaksa karena dirinya yang disangka meninggal. 


"Sayang, aku kangen," Yudha berbisik, tangannya melingkar di pinggang Lintang. hingga membuat sang empu geli. 


"Sekarang kita sudah bersama. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi, termasuk perempuan gatal itu." Mengucapkannya dengan kesal.


Yudha terkekeh, kembali mencium pipi Lintang dengan lembut. Jika mengingat kelakuan Claire, Lintang ingin menjambak rambutnya dan memakinya, untung saja ia masih bisa berpikir jernih dan memendam amarah nya yang menggebu. 


Di sebuah ruangan tertutup 


Suasana semakin mencengkam saat pak Juli dan pak Radit datang. Mereka memasang permusuhan saat melihat Claire yang menunduk. 


Pak Radit duduk di kursi yang paling depan. Ia berhadapan langsung  dengan gadis itu. Seperti saat meeting, ia pun memasang wajah yang serius. 


"Kenapa kamu menyembunyikan Yudha dari kami?" tanya pak Radit ketus. 


Claire menatap mamanya sejenak, lalu menatap wajah pak Radit yang nampak datar. 


"Karena saya mencintai Yudha, Om," jawab Claire tanpa rasa malu. 


"Dasar anak nggak tahu diri." Bu Angel menoyor jidat Claire hingga terhuyung. "Apa yang ada di otakmu itu," geram dengan kelakuan putrinya. 


"Dijodohin nggak mau, tapi kenapa kamu mengejar suami orang, memalukan." Menarik telinga Claire hingga sang empu meringis kesakitan. 


"Saya akan laporkan kamu ke polisi. Kamu harus mendapat hukuman yang setimpal karena sudah menculik Yudha."


Mata Claire membulat sempurna. Terkejut dengan penuturan pak Radit, ia tak menyangka kasusnya akan menjadi seserius ini. 


Pasalnya, ia berharap penuh jika Yudha itu hilang ingatan dan melupakan semua keluarganya. Lalu menikah dengannya dan menjalani kehidupan baru. 


"Jangan, Om. Saya mohon." Menangkupkan kedua tangannya di depan Pak Radit, bahkan Claire bersimpuh di lutut pria itu. 


"Tapi kamu sudah keterlaluan," sanggah nya. 


"Aku hanya ingin menolong Yudha, Om."


"Menolong bukan seperti itu caranya, seharusnya kamu bawa dia ke rumah sakit terdekat, bukan ke sini. Itu namanya kamu mau memisahkan Yudha dan istrinya." 


Pak Radit masih tak mau kalah, dadanya terasa meledak dan ingin terus meluapkannya. 


"Tapi, Pak. Anak saya bermaksud baik, setelah tiba di sini, dia langsung membawa Yudha ke rumah sakit," tutur Bu Angel membela. 


"Tolong kasih keringanan pada anak saya." seburuk apapun, hati seorang ibu merasa iba melihat anaknya terjepit dengan masalah yang rumit. 


"Sekarang kamu ceritakan kronologinya. Bagaimana kamu bisa membawa Yudha ke sini."


Claire melirik pak Radit sekilas lalu menunduk lagi. 


"Waktu itu saya baru pulang dari mall. Dan melihat ada keramaian di tempat kecelakaan. Saya menemukan dompet Yudha di pembatas jalan yang rusak. Dan saya yakin kalau yang kecelakaan itu Yudha."


Berhenti sejenak untuk menghela napas, kali ini Claire tak ingin berbohong lagi. 


"Saya menghubungi beberapa teman saya yang bekerja di klub untuk membantu mencari Yudha. Mereka menemukan Yudha sebelum polisi datang. Saya mencari jalur lain supaya orang-orang tidak melihat saya. Setelah itu saya meninggalkan baju Yudha dan membawa dia pergi."


"Kok bisa sih?" sahut sang mama yang ikut geram dengan Claire. 


"Bisa lah, Ma. Kan Gilang punya helikopter, dia yang membantuku pulang ke sini."


"O, jadi kamu punya komplotan?"


Claire menggeleng dengan cepat. "Tidak, Om. Saya bilang pada Gilang kalau Yudha itu kekasih saya. Bahkan dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya menyewakan holipoternya karena kasihan pada Yudha yang terus mengeluarkan darah." 


Hening sejenak, Pak Radit berpikir matang-matang sebelum ia memutuskan hukuman untuk Claire.


"Setiap orang yang bersalah akan tetap mendapatkan hukuman, begitu juga dengan Claire."


Dada Claire bergemuruh takut saat mendengar ucapan pak Radit yang sangat serius.


"Sekarang ada dua pilihan, kamu diasingkan supaya menyadari kesalahan kamu, atau masuk penjara."


Dua pilihan yang sangat berat bagi Claire, namun ia tak bisa membantah dan menghindar lagi. Ia memilih diasingkan daripada harus terkurung di jeruji besi.