Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 105. Lion diculik


"Kamu lihat apa, Sayang?" ucap Yudha membuyarkan lamunan Lintang.


Lintang menggeleng, matanya menyusuri setiap tamu yang berlalu lalang mengambil makanan.


Di mana orang tadi? Hanya berbicara dalam hati. 


Lintang membelah kerumunan. Matanya terus mengabsen setiap tamu yang datang. Ia menghampiri bi Siti dan mbak Mimah yang ada di ruang makan.


"Ibu butuh sesuatu?" tanya Bi Siti mengambilkan piring. Barangkali Lintang mau makan. 


Lintang menggeleng tanpa suara. 


Dadanya bergemuruh, rasa takut itu mulai menyeruak dan kembali menyelimuti nya.


Takut akan sesuatu yang tak diharapkan terjadi. 


"Apa Bibi melihat orang yang tadi memakai baju hitam keseluruhan?" tanya Lintang dengan suara lirih, masih merahasiakan pada semua orang. Mengingat beberapa tamu penting Yudha masih ada di rumah itu. 


"Tidak, Bu. Hampir semua tamu yang saya lihat memakai batik dan kemeja kotak. Sebagian ada yang memakai baju berwarna putih dan rok hitam," jawab Bi Siti seperti yang ia lihat. 


Aku tidak boleh berburuk sangka, mungkin saja dia adalah karyawan mas Yudha yang belum mengenalku. 


Lintang kembali duduk di samping Yudha. Menahan dadanya yang dari tadi gelisah. 


Hampir satu jam acara, akhirnya satu persatu karyawan itu pamit pulang. Hanya ada beberapa staf penting yang tertinggal. Mereka berbincang dengan Yudha, membahas bisnis yang akan dijalankan setelahnya. 


"Mbak Mimah, Lion di mana?" tanya Lintang pada mbak Mimah yang sedang  merapikan piring di dapur. 


Mbak Mimah mengedarkan pandangannya ke arah tempat bermain. Ternyata di sana tak ada siapapun selain kado yang bertumpukan. 


"Tadi saya lihat di sana, Bu. Makanya saya ikut membantu bi Siti." 


Lintang beranjak dari duduknya. Berlari kecil sambil memanggil-manggil nama Lion. 


"Lion, kamu di mana, Nak?" Lintang membuka pintu kamar putranya. Di sana tidak ada siapapun. 


Apa mungkin dia ada di kamarku?


Lintang menutup kembali kamar Lion lalu berjalan menuju kamarnya. Baru beberapa langkah, Yudha memanggilnya dari arah belakang. 


"Kamu mau ke mana, Sayang?" 


"Lion nggak ada, Mas. Kata mbak Mimah tadi dia bermain, tapi aku cari gak ada." 


Yudha bisa melihat kepanikan di wajah Lintang. 


"Jangan takut, aku akan mencarinya." 


Yudha juga berlari kecil lalu membuka pintu kamar. Sama seperti di kamar Lion, ruangan itu pun kosong tanpa penghuni. 


"Lion, kamu di mana, Nak? Jangan bercanda." 


Lintang yang mengikuti dari belakang sudah mulai terisak. 


"Mas, dimana Lion?" Yudha menarik tubuh Lintang dan mendekapnya. 


"Mungkin saja dia bermain di luar." 


Yudha menggiring Lintang. Wanita itu menangis sesenggukan membuat semua orang yang ada di sana ikut tanda tanya. 


"Bu Lintang kenapa, Pak?"


"Lion nggak ada, apa ada yang melihatnya?" 


Yudha menatap tamu penting yang ada di depannya itu bergantian. Matanya berhenti pada Andreas yang dari tadi mewakilinya bicara. 


"Biar saya yang mencari?" 


"Tadi saya sempat lihat dia berlarian, tapi setelah itu nggak tahu." 


Tanpa menunggu waktu lagi, Andreas berlari ke arah luar. Ia menemui pak Didin yang ada di belakang, dan juga satpam yang baru keluar dari dapur. 


"Apa Kalian melihat Lion?" tanya Andreas serius. Matanya terus mengedar pada setiap tempat yang ada di sekitar halaman dan taman. 


"Apa tadi ada tamu yang mencurigakan? Maksudku gerak-geriknya tidak biasa?" tanya Andreas lagi. Entah mengapa, pikirannya merasa tak enak mengingat pengamanan yang kurang maksimal saat tamu berdatangan. 


Kedua pria yang ada di depan Andreas itu menggeleng tanpa suara. 


"Cepat, bapak cari di luar. Biar aku yang lihat cctv."


Baru saja memalingkan tubuh, Gita datang dari arah gerbang, gadis itu tersenyum melihat calon suaminya berdiri tak jauh darinya. 


"Maaf aku terlambat, tadi disuruh ibu nganter barang." 


Andreas ikut tersenyum. Meskipun gelisah, setidaknya menyambut kedatangan sang kekasih yang sudah terlalu lama diabaikan. 


"Kamu masuk saja, Lion nggak ada, dan aku belum tahu dia di mana?" 


"Apa?" Gita terkejut dengan penuturan Andres. Ia langsung masuk menemui Lintang, Bu Indri serta Bu Fatimah. 


Pak Radit dan pak Juli pun menghampiri Yudha dan Bian. Mereka kini mulai memutar cctv. 


Yudha menatap layar dengan tatapan intens. Melihat semua pergerakan tamu yang datang dan pergi. Tidak sedikit pun melewatkan momen yang tertangkap dalam cctv itu. 


Benar kata pak Setiawan, jika Lion sempat berlarian di tengah-tengah tamu, namun setelah itu ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. 


"Perbesar, Bi!" titah Yudha saat ada orang asing mendekati putranya. 


Wanita cantik yang berambut panjang itu nampak berbincang, lalu meraih tangan Lion dan mengajaknya keluar. 


"Jangan-jangan dia yang menculik Lion?" Seketika itu juga Lintang menjerit.


"Nggak mungkin Lion diculik, Mas?" teriak Lintang. 


Yudha tak bisa fokus dengan lanjutan gambar itu saat istrinya histeris. Sedangkan Andreas dan Bian masih fokus sampai wanita itu membawa Lion keluar dari gerbang. Hingga ia bisa melihat mobil yang ditumpangi Lion dan wanita asing itu. 


"Pak, tolong catat nomor plat mobilnya!" pinta Bian pada Andreas. 


Setelah mencatatnya, Andreas langsung menghampiri Yudha dan Lintang. 


"Tenang saja, Pak. Saya sudah mendapatkan nomor plat mobil orang yang membawa Lion." 


"Aku akan ikut kamu."


Yudha menangkup kedua pipi Lintang yang ada di samping nya. Lalu menciumnya dengan lembut. 


"Aku akan pulang bersama Lion, jangan takut." janji Yudha yang digenggam Lintang saat ini. 


"Cepetan ya, Yud, jangan sampai orang itu melukai cucu mama."


Yudha pergi meninggalkan rumah. Ia yakin bisa menemukan Lion tanpa cacat sedikitpun. 


"Kenapa cobaan selalu saja menimpaku dan mas Yudha, Ma. Apa salah kami?" rutuk Lintang pada sang mertua.


"Kalian nggak salah, ini ujian yang harus kalian lewati. Keluarga kalian itu sangat sempurna hingga banyak yang iri. Setelah ini mama akan perketat penjagaan untuk kamu dan juga Lion."


Pak Radit langsung menghubungi orang kepercayaannya, sedangkan pak Juli pun ikut sibuk menghubungi beberapa petugas kepolisian yang dikenal baik untuk membantu pencarian Lion. 


Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang cukup ramai. 


"Ndre, kira-kira siapa lagi orang yang ingin merusak rumah tangga ku selain Claire?" tanya Yudha dengan suara lirih. Ia lelah dengan orang-orang yang tak membiarkannya hidup dengan tenang. 


"Selain Bu Natalie, siapa lagi?" jawab Andreas menatap Yudha dari kaca spion yang menggantung. 


"Nggak mungkin dia menculik anaknya sendiri, otaknya ditaruh di mana?" 


Yudha berbicara dengan lantang. Tak masuk akal jika itu sampai terjadi. 


Apa mungkin ini ulah mama, terka Bian dalam hati. 


Mengingat kala itu saat ia ke rumah sakit menjenguk mamanya, disaat itu Bian dengan sengaja mendengar ucapan mamanya yang ingin menghancurkan kehidupan pak Juli dan semua keluarganya. 


Jika ini sampai terjadi, aku nggak akan tinggal diam.