
Hampir seharian penuh, Lintang tak bergerak. Matanya terus memandangi amplop coklat dari Claire. Tubuhnya lemas mengingat malam itu, bahkan bekas bibir seorang wanita yang ada di jaket Yudha pun belum bisa dilupakan.
Membatalkan acara jalan-jalan yang sudah direncanakan sedemikian rupa. Mengabaikan ponsel yang berkali-kali berdering. Menyerahkan Lion pada Mimah. Berusaha sekeras apapun untuk cuwek, tetap saja kedatangan Claire membuatnya cemas. Apalagi ia pernah mendengar kalau Claire adalah wanita yang pernah akrab dengan Yudha. Itu yang membuat hatinya kacau.
"Nggak mungkin mas Yudha tergoda padanya?"
Lintang menatap penampilannya di depan cermin. Memutar tubuhnya yang langsing. Dilihat dari manapun, sudah jelas, ia dan Claire jauh berbeda. Dan itu yang membuatnya menciut.
"Apa aku harus perawatan?" tanya pada diri sendiri.
Argh
Lintang mengerang, mengacak rambutnya lalu menghempaskan tubuhnya lagi. Ketukan pintu terdengar semakin menggebu. Lintang menutup kedua telinganya dengan bantal.
"Pasti ibu nyuruh makan," terka nya.
Di luar kamar
"Ibu Yakin seharian Lintang tidak keluar dari kamar?" tanya Yudha pada Bu Fatimah yang juga gelisah.
"Dia juga tidak makan, ibu takut."
Yudha menggenggam erat tangan Bu Fatimah.
"Jangan takut, Bu. Lintang tidak akan kenapa-napa, aku yakin dia baik-baik saja."
Yudha melepas jas yang dipakainya. Melipat kemeja putih nya hingga se siku. Berlari keluar melintasi taman menuju ke arah samping. Berhenti tepat di balik kamarnya.
Senyum Yudha mengembang melihat sang istri yang meringkuk. Ia membuka jendela dengan pelan lalu bersiul.
Lintang yang baru saja melempar bantalnya menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya semakin kesal melihat sang suami yang nampak tak bersalah.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Lintang ketus. Menyambut Yudha dengan kekesalannya.
"Aku nyariin kamu. Kata ibu, kamu nggak keluar kamar. Kenapa telpon aku juga nggak diangkat?"
Lintang berjalan menghampiri Yudha, membuka kaca dengan lebar. Hatinya terus jengkel jika teringat wajah Claire.
"Sayang, Ayolah buka pintunya. Kamu kenapa sih?" Yudha mencoba memasukkan tangannya ke dalam untuk meraih tangan Lintang. Namun percuma, teralis jendela yang terlalu rapat membuatnya kesusahan.
"Iya, aku akan membuka pintunya, tapi kamu harus menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa? Aku tidak melakukan apa-apa?" gerutu Yudha dengan suara pelan, namun Lintang masih bisa mendengarnya.
Lintang membuka pintu kamarnya, sedangkan Yudha langsung berlari masuk, aksi keduanya malah membuat pembantu yang sedang beraktivitas itu tertawa.
Yudha masuk ke kamar, lalu menutup pintu. Menghampiri Lintang yang berkacak pinggang di samping ranjang. Dari raut wajahnya Yudha menangkap ada sesuatu yang membuat wanita itu marah.
"Apa yang harus aku jelaskan?" tanya Yudha meraih pinggul langsing Lintang dan mencium pipi nya tanpa ampun.
Meskipun Lintang mencoba mencengkal tubuh kekarnya, Yudha tak peduli, malah semakin mengeratkan pelukannya.
Lintang mengambil amplop yang diberikan Claire lalu meletakkannya di dada Yudha.
"Jelaskan! Apa maksud dari semua ini?"
Lintang mendorong tubuh Yudha hingga terhuyung.
Yudha membuka amplop itu dengan pelan. Matanya melirik ke arah bibir merah Lintang yang nampak manyun. Betapa terkejutnya saat melihat gambar dirinya sedang berciuman dengan Claire. Seperti kata Lintang, ia mengingat-ingat kejadian itu.
"Jangan bilang nggak sengaja juga seperti di mall waktu itu?" celetuk Lintang tiba-tiba.
Yudha mengingat saat dirinya baru masuk ke klub, dan seketika itu Claire pun langsung memeluk dan menciumnya.
"Iya sayang, ini kejadiannya seperti di mall," jelas Yudha serius. Bersimpuh di depan Lintang sambil merobek fotonya.
"Dia hanya ingin menghancurkan keluarga kita," ucap Yudha meyakinkan. Mengelus pipi Lintang.
"Mungkin dia iri melihat kita bahagia," imbuhnya lagi.
"Aku nggak mau berurusan dengan perempuan mana pun, termasuk Claire. Jangan kecewakan aku," pinta Lintang manja.
Yudha duduk di samping Lintang. Membawa wanita itu ke pangkuannya.
"Aku tahu bagaimana cara memberantas perempuan seperti itu." Yudha mejentikkan jarinya.
"Gimana caranya supaya dia tidak berkeliaran di rumah kita?" Kesempatan Lintang untuk mencium keringat sang suami.
Yudha tertawa kecil, otak cerdasnya mulai berkelana mencari jalan keluar.
"Tenang saja, besok aku akan siapkan tangki di depan rumah. Lalu diisi dengan insektisida, kalau dia berani masuk, kamu tinggal semprot saja dia, biar musnah."
Lintang memukul dada Yudha dengan pelan.
"Dasar duda jahil, mana ada orang disemprot pakai racun insektisida hama."
Yudha hanya terkekeh.
"Kata Bi Siti tadi siang kamu nggak jadi jalan-jalan?" tanya Yudha mengalihkan pembicaraan. Membahas keluarganya lebih menenangkan daripada harus memperdulikan orang lain yang tidak berguna.
"Iya, itu karena foto kamu yang bermesraan dengan ulet keket," jawab Lintang.
"Baiklah, sebagai gantinya malam ini kita akan makan di luar dengan ibu dan juga bi Siti dan Mimah."
"Benarkah?" tanya Lintang memastikan
"Iya, tapi ada upahnya?" Yudha menaik turunkan alisnya, menggoda Sang istri yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Aku tahu, nggak usah dilanjutkan." Lintang beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamarnya. Memberitahu semua orang untuk bersiap.
Yudha memesan sebuah restoran mewah, tak hanya keluarganya saja, tapi juga dengan mama dan papanya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, usai menjalankan kewajibannya, Yudha dan yang lain siap untuk berangkat. Kali ini ia tak mau melibatkan Andreas. Hanya menyuruh pria itu berangkat langsung menuju tempat tujuan.
Lintang yang duduk di samping Yudha terus tersenyum, menikmati musik kesukaannya, sedangkan Bu Fatimah serta kedua pembantunya bercanda dengan Lion.
Perjalanan yang menyenangkan bagi Yudha. Selama berkeluarga dengan Natalie, ia tak pernah merasakan kenyamanan seperti saat ini.
Tiga puluh menit, Yudha menghentikan mobilnya di depan restoran ternama. Ternyata Andreas sudah tiba lebih dulu. Pria yang masih berstatus lajang itu menghampiri mobil Yudha. Membukakan pintu belakang.
"Mbak Mimah dan Bi Siti pesan makanan yang banyak, ya. Nanti dibawa pulang, makan di rumah. Malam ini kita akan merampok mas Yudha," kata Lintang saat mereka semua turun dari mobil.
Yudha merangkul pundak kecil Lintang, mendekatkan bibirnya di telinga Lintang.
"Jangan makan banyak-banyak nanti perut kamu buncit kayak semar," bisiknya.
Seketika Lintang mencubit pinggang Yudha hingga membuat sang empu meringis kesakitan.
"Selamat datang di tempat kami," sambut salah satu manajer yang bertugas.
"Mari saya antar, Pak," imbuhnya lagi.
Baru beberapa langkah, Bu Fatimah menghentikan ayunan kakinya. Matanya menatap tajam ke arah pengunjung yang ada di bagian pojok, tepatnya di depan jendela. Dadanya kembang kempis menahan sesuatu yang sudah hampir meledak.
Lintang yang sadar akan hal itu menoleh ke belakang mendekati sang ibu. Menatap ke arah yang sama.
Ayah.
Ternyata ada keluarga ayahnya di sana.