Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 89. Menemukan Lintang


Gita menangis sesenggukan sambil memeluk baju Andreas. Setelah mendapat kabar dari sang kekasih, ia langsung ikut datang ke lokasi kejadian. Namun, kehadirannya terlambat, bahkan ia tak sempat memberi penyemangat untuk Andreas yang akan berjuang mencari sahabatnya yang kini berada  di dasar jurang. 


"Kamu tenang saja, aku yakin Andreas akan kembali dengan membawa Lintang dan Yudha." Pak Radit menguatkan Gita. Mengusap punggung gadis itu yang bergetar hebat. 


Ya Allah, bagaimana keadaan Lintang dan pak Yudha, semoga bayi mereka juga selamat, kenapa cobaan datang bertubi-tubi menimpa mereka. 


Gita hanya bisa mengangguk. Sebab, di dalam sana tak hanya calon suaminya, namun juga sang sahabat dan bosnya yang lebih tragis. Terlebih kandungan Lintang yang sedikit lemah pasca perdarahan kala itu. 


Kini tim polisi mulai berdatangan mengingat tak ada kabar dari bawah. Mereka langsung bertindak semaksimal mungkin untuk menemukan korban.


Fajar mulai menyingsing. Namun, Andreas dan tim polisi belum menemukan tanda apapun. Mereka saling berpencar ke arah yang berbeda. Sebagian ada yang turun ke tempat yang lebih dalam. Sebagian lagi ada yang kembali, sedangkan Andreas tetap dengan keyakinannya, ia menyusuri jalan yang jauh dari mobil Yudha. Ia pikir pasti Lintang dan Yudha melompat sebelum mobil itu terjun.


Cahaya Lampu senter yang dibawa sudah mulai meredup membuat Andreas sedikit kesusahan. Kakinya terus melangkah tanpa memperdulikan apapun yang menghalanginya. 


Sebentar lagi pagi, jika aku naik tanpa membawa pak Yudha dan bu Lintang bagaimana, pasti Bu Indri dan Pak Radit kecewa padaku. Bagaimana dengan bu Fatimah, pasti akan sok dengan kenyataan ini.


Andreas menghempaskan tubuhnya di atas batu besar. Mengurai rasa lelah yang kian memuncak membuat dirinya tak berdaya. 


Aku harus cari ke mana lagi. 


Tak ingin larut dalam pemikiran, Andreas bangkit. Melangkahkan kakinya yang terasa berat untuk bisa bertemu sang majikan. 


"Pak Yudha, Bu Lintang…"


Suara Andreas semakin serak, ia sudah tak sanggup lagi untuk berteriak kencang, selain lapar, matanya juga terasa ngantuk karena semalaman tak tertidur. 


Jalannya yang terseyok-seyok membuat Andreas ambruk. Kakinya terasa lentur tak kuat menopang tubuhnya lagi. 


"Aku harus bisa menemukan mereka." Memejamkan mata sejenak untuk mengembalikan tenaganya yang terkuras. 


Baru beberapa detik beristirahat, Andreas kembali membuka mata saat mendengar suara dari arah semak-semak. 


"Apakah ada orang di sana?" teriak Andreas sambil berdiri. Menyalakan senternya yang hampir mati. Ia berjalan mengendap-endap. Satu tangannya mengambil kayu kecil untuk berjaga jika sewaktu-waktu hal tak terduga terjadi, memasang matanya dengan baik, takut jika itu adalah binatang yang berbahaya. 


Beberapa menit kemudian, Andreas kembali ke tempat setelah tak menemukan apapun. 


"Tolong…" Suara lirih terdengar saat Andreas hampir saja duduk kembali. 


Seperti suara orang? Andreas beranjak, berjalan mencari sumber suara. 


"Siapa di sini? Bu Lintang, Pak Yudha." 


Andreas yang tadinya sudah putus asa kini kembali antusias, ia bersemangat setelah mendengar suara itu. 


Suara orang minta tolong kembali terdengar. Senyum mengembang di sudut bibir Andreas. Ia mengenal suara itu, meskipun tak begitu lantang, Andreas tetap yakin jika itu adalah suara Lintang. 


"Bu Lintang." 


Andreas kembali berteriak, melangkah pelan mengikuti suara rintihan yang ada di balik semak belukar. 


Suara tangisan kembali menghiasi telinga Andreas. Kali ini sangat jelas, bukan kuntilanak ataupun makhluk halus lainnya, namun itu benar-benar nyata. 


"Pak, saya di sini?" Suara Lintang terputus-putus. 


Andreas melompat dari balik batu yang menghalanginya. Matanya terbelalak saat melihat Lintang yang meringkuk di atas ranting. 


"Bu Lintang," seru Andreas. 


Saking senangnya ia melempar lampu senternya, menyisakan ponsel yang menjadi lampu penerang selanjutnya. Andreas mengangkat tubuh Lintang yang nampak lemah. Membawanya ke tempat yang sedikit nyaman. Memeriksa seluruh tubuhnya. Ada luka yang lumayan parah di kaki dan juga tangan wanita itu. 


"Apa perut ibu sakit?" tanya Andreas memastikan. Menatap bagian paha Lintang yang sedikit terekspos. Tidak ada darah di sana, Andreas berharap bayi Lintang baik-baik saja. 


Lintang menggeleng pelan. Ia hanya merasakan nyeri di bagian lukanya. 


Tak sungkan-sungkan Lintang memeluk tubuh Kekar Andreas. Menyalurkan rasa takutnya setelah berjuang melawan maut yang mengintai. Pria itu bak malaikat penyelamat bagi dirinya. 


"Di mana mas Yudha?" tanya Lintang di sela-sela tangisnya. Menatap wajah Andreas dengan lekat.


Aku harus jawab apa? Andreas pun tak sanggup membendung air matanya. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Lintang saat ini, pasti sedih dan hancur jika tahu Yudha belum ditemukan. 


"Saya bersihkan luka Ibu dulu." 


Andreas merogoh sapu tangan dari saku celananya, mengusap wajah Lintang yang dipenuhi dengan darah. Tak ada luka serius di bagian wajah Lintang, namun ada percikan darah yang mulai mengering pembuat Andreas takut.


Bayangan Yudha muncul di depannya. Pria itu seolah-olah tersenyum ke arah Andreas. Entah, semua seperti nyata, namun sang asisten tak bisa menggapai nya. 


Lintang menahan tangan Andreas. "Mas Yudha di mana?" tanya Lintang untuk yang kedua kali. 


Andreas menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup berbohong. Meskipun berat, Lintang harus tahu tentang itu semua. 


"Pak Yudha belum ditemukan, Bu." Mengucapkan dengan penuh penyesalan. Ia seakan tak becus menjaga mereka."Tapi saya yakin, sebentar lagi polisi akan menemukan dia," imbuhnya. 


"Mas Yudha…" 


Lintang menangis histeris. Pelukan Yudha masih terasa hangat mendekap, bahkan Lintang mengingat dengan jelas saat detik-detik mobil Yudha hampir tertabrak. Yudha menarik tubuhnya, dan memeluknya hingga keduanya terjun bersama. Nahas, tonjolan tebing membuat mereka terpisah. Tubuh Yudha terpental hingga membuat tangan mereka terlepas. 


"Ini semua salahku." Lintang menyalahkan diri sendiri. Menjambak rambutnya lalu memukul dadanya sendiri. 


"Ini musibah, Bu." Andreas merengkuh tubuh Lintang. Memberikan kekuatan agar wanita itu untuk tetap tegar. 


"Tidak ada yang salah. Saya yakin sebentar lagi pak Yudha akan segera ditemukan. Sekarang lebih baik kita ke atas, ibu butuh perawatan."


Andreas membalut tubuh Lintang dengan jaket nya, lalu menggendong wanita itu di punggungnya. Mencari tim yang bisa membawa mereka naik. 


Mas Yudha, kamu berjanji padaku, kita akan sehidup semati bersama. Jangan pergi sendirian, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. 


Lintang menyadarkan kepalanya di pundak Andreas. Menumpahkan sisa air matanya. Tak bisa membayangkan dengan nasib suaminya saat ini. 


Beberapa orang menghampiri Andreas. Mereka membantu pria itu untuk bisa naik. Tanpa menurunkan Lintang, Andreas bersusah payah menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan batu. 


Bagaimana saat mereka jatuh dari sini, pasti sangat menyakitkan. Ya Allah, tunjukkan keberadaan Pak Yudha, persatukan mereka lagi untuk membangun rumah tangga yang bahagia.