
Lintang mengumpulkan beberapa baju kotor yang ada kamar Yudha. Menatap sang empu yang berbaring dan sibuk dengan ponselnya, tertawa sendiri hingga tak mengindahkan keberadaannya yang sibuk menyiapkan baju kerja.
Kejadian semalam yang sedikit mencekam tak membuatnya surut untuk melakukan aktivitas hariannya seperti saat ini.
"Bapak mau pakai kemeja warna apa?" tanya Lintang berdiri di sisi ranjang.
"Terserah." Mengucap tanpa menatap Lintang yang sudah membawa dua baju dengan warna yang berbeda.
Akhirnya Lintang memilih kemeja yang berwarna navy dan meletakkannya di sofa. Itu adalah warna favoritnya dan juga membuat Yudha lebih tampan saat memakainya.
Yudha melirik sang istri yang sibuk memilih dasi.
"Oh iya lupa, hari ini aku tidak masuk, jadi nggak usah siapin baju."
Kenapa nggak bilang dari tadi.
Lintang menggerutu dalam hati. Menatap Yudha dengan tatapan menusuk. Mengembalikan baju ke tempat semula. Menutup lemari dengan keras sehingga menimbulkan suara.
Yudha bisa melihat raut wajah Lintang yang kesal. Namun, ia pun tak bisa berbuat apa-apa daripada serba salah.
Lintang membawa baju ke tempat cucian. Memisah satu persatu baju suaminya dan juga Lion. Seperti biasa, sebelum berangkat kerja, ia menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah.
"Biar saya yang nyuci, Bu," ucap Bi Siti menghampiri Lintang.
"Tidak usah, Bi. Biar saya saja, bibi kerjain yang lain," ucap Lintang ketus.
Hati dan otaknya saat ini semrawut hingga tak bisa berpikir jernih.
Lion ikut menghampiri Lintang dan menarik pucuk bajunya.
"Aku mau makan sama mama," pinta Lion merengek manja.
"Sebentar ya, Sayang. Mama bersihin baju dulu."
Tanpa sengaja, Lintang melihat ada warna merah di jaket Yudha yang membuat ulu hatinya berdenyut. Dadanya kembang kempis mengingat suaminya memakai jaket itu saat semalam keluar.
Aku harus bertanya pada Mas Yudha.
Lintang meletakkan jaket itu kembali dan lebih mementingkan Lion yang terus menunggunya.
Lima menit kemudian, Lintang menggendong Lion menuju meja makan. Mengambil sepiring nasi beserta lauk. Menyuapi nya dengan sabar seperti ibu kandung.
Yudha keluar dari kamar menatap Lintang dan Lion bergantian. Namun, ia tak mau bergabung dengan mereka dan memilih ke ruang kerja.
Duduk bersandar menatap ke arah luar jendela. Membolak-balikkan ponsel yang ada di tangannya lalu memutar kursi, tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini, hati dan raganya lelah dan jenuh, tidak ada tempat hiburan untuk mengurai itu semua.
"Papa…" Suara Lion membuyarkan lamunan Yudha yang hampir melayang.
Ia tersenyum, merentangkan tangannya, menyambut kedatangan Lion yang berlari ke arahnya.
Lion duduk di pangkuan sang papa, tangan mungilnya bergerak membuka laptop yang ada di depannya.
"Makan nya sudah?" tanya Yudha mencium pipi gembul bocah itu.
Lion mengangguk tanpa suara.
"Mama di mana?" tanya Yudha berbisik, takut ada Lintang di depan dan mendengar ucapannya pada Lion.
"Bersihin kamar papa dan kamar Lion," ucap Lion seperti yang diucapkan Lintang.
Terkadang ingin memuji, namun juga jengkel dengan sikap dingin sang istri.
"Pa, kita jalan-jalan yuk, aku pingin main."
Lion merosot turun, menggoyang-goyangkan lengan kekar papanya.
"Tanya mama dulu. Mau nggak?"
Lion berlari keluar menghampiri Lintang yang sibuk merapikan selimut di kamar Yudha. Membuka tirai kamar pria itu dan juga mengelap meja yang ada di sana.
Seperti yang diucapkan Yudha, Lion pun merengek pada Lintang dengan wajah memelas.
"Baiklah, Mama mandi dulu ya, Lion ganti baju sama mbak Mimah."
"Hore… hore…"
Lintang ikut bahagia melihat putra sambungnya yang juga nampak ceria.
Meskipun hanya ibu tiri, Lintang tak ubahnya ibu kandung, memberikan kasih sayang untuk Lion seperti menyayangi ibunya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Lion langsung berlari ke arena bermain. Ia sudah tak sabar ingin bergumul dengan bocah seumurannya yang sudah berada di dalam. Seperti pasangan yang lain, Lintang dan Yudha mengikuti langkah putranya dari belakang. Meskipun saling diam, mereka pun nampak serasi.
"Yudha…." Suara cempreng dari belakang membuat Lintang dan Yudha menoleh.
Seorang wanita cantik berlari kecil menghampiri Yudha yang ada di depan pintu tempat bermain.
Itu kan perempuan yang di restoran. Ternyata dia mengenal mas Yudha, ucap Lintang dalam hati.
Claire, ngapain dia di sini?
Yudha pun terkejut hingga seluruh tubuhnya kaku bak patung hidup.
Yudha yang bengong pun tak sempat menghindar dari pelukan Claire yang mendadak.
Lintang menggeleng, kedua bola matanya langsung digenangi cairan bening, satu pertanyaan belum ia layangan, namun mendapati sebuah fakta baru yang mencengangkan.
Yudha mencengkal tubuh Claire hingga tersentak ke belakang. Mendekati Lintang yang terus berjalan mundur.
"Lintang, ini tidak seperti yang __"
"Cukup!" pekik Lintang mengangkat tangannya, memberi tanda pada Yudha untuk diam.
"Sayang, aku bisa jelasin."
"Jangan sentuh saya!" Lintang menepis tangan Yudha yang hampir menyentuhnya.
Claire menatap Lintang dan Yudha bergantian lalu kembali menatap wajah Lintang yang tak asing baginya.
"Yudha, ini siapa?" tanya Claire.
Bagaimana ini, Lintang tidak mau semua orang tahu statusnya, tapi jika aku bilang bukan, pasti salah lagi.
Lintang mengusap air mata yang lolos membasahi pipinya lalu menatap Yudha.
"Maaf, Pak. Saya mau pulang, nanti bilang ke Lion kalau saya tidak bisa menemaninya lagi."
Lintang menyerahkan tas milik Lion dan berlari keluar.
"Lintang.." teriak Yudha, hampir saja melangkah, Claire menarik lengan pria itu dari belakang.
"Kamu mau ke mana, Yud? Lagipula dia bukan siapa-siapa, tenang saja, nanti aku bisa mencarikan pembantu seperti dia."
Yudha melepas tangan Claire dengan pelan, matanya pun ikut berkaca mengingat kacaunya Lintang, tadi.
"Dia bukan pembantu, tapi istriku. Mulai hari ini jangan temui aku lagi."
Yudha menegaskan, sesakit apapun luka karena sikap Lintang, ia tetaplah Yudha Anggara, pria yang mencintai Lintang tanpa celah.
Yudha memanggil Lion lalu pulang, tak peduli dengan Claire yang terus memanggilnya.
"Ternyata itu istrinya Yudha, beruntung sekali dia." Tersenyum menyeringai.
Setelah masuk ke mobil, Lion menatap jok yang ada di samping Yudha.
"Mama ke mana, Pa?" tanya Lion polos.
Yudha menatap Lion dari pantulan spion yang menggantung.
"Mama ada perlu sebentar, dia pulang dulu. Lion tenang saja, pokoknya kita akan bertemu mama lagi."
Lintang, aku sangat mencintaimu, tapi aku bingung harus bersikap bagaimana, jika kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu marah melihat aku dengan wanita lain.
Yudha menerobos jalanan dengan kecepatan sedang, meskipun sedikit buru-buru, keselamatan Lion lebih utama.
Mimah berlari menghampiri mobil Yudha yang berhenti di halaman. Membawa Lion masuk ke rumah.
Yudha melangkah lebar di depan Mimah.
"Mimah, apa Bu Lintang sudah sampai?" tanya Yudha antusias tanpa menghentikan langkahnya.
"Belum, Pak."
"Maksud kamu?" tanya Yudha memastikan.
"Bu Lintang belum pulang, Pak."
Pernyataan Mimah membuat Yudha terbelalak. Pasalnya, mereka keluar berselisih lebih lama, dan seharusnya Lintang pun sudah tiba lebih dulu.