
Meja makan yang beberapa bulan ini dihuni dua orang, kini kembali bertiga. Setelah seharian penuh sibuk dengan pekerjaannya, Bian melepaskan penat di rumah dengan keluarga. Bersama mama dan adik tercintanya.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Bian di sela-sela makannya. Sebagai kakak, ia selalu ingin tahu tentang adiknya.
Apalagi usianya yang menginjak tujuh belas tahun membuat Bian lebih posesif dengan apa yang dilakukannya di luar.
"Baik, memangnya kenapa?" Indira balik tanya. Ia tak ingin sang kakak terlalu ikut campur urusannya.
"Nggak papa." Bian menatap sang mama yang menuangkan susu untuknya.
"Besok kan hari libur, kamu mau nggak, kakak ajak main?"
"Ke mana?" tanya Indira singkat. Meskipun beda ibu, Indira dan Lintang banyak kesamaan. Mereka berdua mewarisi sifat sang ayah yang sedikit kaku juga cuek pada sekitar. Namun, tingkat kasih sayangnya sangat tinggi pada orang terdekat.
"Ke rumah kak Yudha."
Seketika itu Sovia meletakkan sendok nya dengan kasar hingga membuat Bian terkejut.
"Apa nggak ada tempat lain, Bi. Ngapain kamu ajak Indira ke sana?"
Bian menelan makanannya lalu berdiri. Ia merangkul pundak sang mama dari belakang.
"Ma, Indira itu anak kandung ayah. Itu artinya dia saudara kandung kak Lintang. Apa salahnya kalau kita menjalin hubungan dengan mereka. Lagipula ayah juga kangen dengan Indira."
Bian mengucapkan seperti apa yang diperintahkan Yudha. Menurutnya langkah kakak iparnya itu jalan yang terbaik juga.
Sovia masih memasang wajah datar.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Sovia dengan lembut. "Mama nggak boleh marah terus, nanti cepat tua," ucap Bian merayu. Sebagai anak Laki-laki ia sangat pintar membujuk mamanya jika sedang merajuk.
"Terserah kamu saja, tapi mama nggak ingin di duakan oleh kalian." Masih bernada ketus.
Bian dan Indira bergelayut manja di pelukan Sovia.
"Ra, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Bian yang masih memeluk Sovia. Meskipun ia berbicara pelan, tetap saja sang mama masih bisa mendengar.
Indira menggeleng tanpa suara. Entah, ia masih enggan untuk dekat dengan laki-laki.
"Jangan bilang kalau kamu mau jodohin Indira dengan teman kamu?" Sovia menyahut tanpa melepas pelukannya.
"Nggak, Ma. Dia harus kuliah yang pintar dan mendapatkan pekerjaan, setelah itu baru menikah."
Yudha memang belum mengatakan rencananya untuk mendekatkan Indira dan Kean pada Bian. Ia hanya menyuruh mereka datang untuk sekedar main.
"Sekarang kalian tidur, Mama mau beresin cucian dulu."
Sovia menatap punggung Indira dan Bian berlalu.
"Meskipun aku sekuat tenaga menjaga pernikahan kita, tetap saja tidak akan kekal."
Kisah lama kembali terlintas.
Saat itu Bian baru berumur lima tahun. Ayahnya meninggal karena penyakit jantung yang diderita. Setelah masa iddah Sovia usai, ia mengajak putranya jalan-jalan. Bian yang masih sangat kecil memanggil pak Juli dengan sebutan ayah. Awalnya pak Juli tak begitu mengindahkan Sovia dan Bian. Namun, iman yang begitu tipis membuat hati pak Juli tergoda oleh kecantikan Sovia, janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya. Disaat itu keduanya menjalin cinta. Sovia tidak ingin mereka hanya pacaran dan berhubungan tanpa status. Akhirnya Sovia meminta pak Juli untuk menikahinya. Beberapa bulan kemudian, Sovia dinyatakan hamil. Disaat itu pula ia mulai mengikat pak Juli untuk lebih memperhatikannya dan sering ke rumahnya.
Namun, semakin lama cintanya untuk sang istri pertama pun luntur saat melihat wajahnya semakin tua, di saat itu pak Juli memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal bersama sovia. Pada akhirnya cinta sejati tidak akan pernah pudar, sedangkan cinta sesaat hanya sekilas terselip saja.
Berjalannya waktu membuktikan yang sebenarnya. Tidak ada yang perlu disesali. Semua itu sudah suratan yang harus diterima. Pasalnya, Bu Fatimah pun tidak lagi merebut suaminya, melainkan pria itu yang kembali pada rumahnya untuk berlabuh.
Bian menatap foto Hilya yang dikirim oleh Yudha. Ia masih merencanakan sesuatu pada gadis itu, meskipun bingung tetap ia lakukan, menganggap itu adalah tugas untuknya.
Dia sangat cerdas, Bi. Lulusan universitas luar negeri. Bekerja padaku setahun yang lalu, kinerjanya juga luar biasa, terserah kamu, mau diapain. Pesan itu mengiringi. Beserta nomor kontak dan semua akun sosmed yang tertera di bawahnya.
Yudha memang tak menyerahkan Hilya ke kantor polisi dan meminta sang adik ipar untuk menaklukan gadis itu.
"Gimana caranya?" Akhirnya Bian memilih basa-basi lewat akun yang ada di bawah sana, meskipun terkesan norak.
"Kak Yudha beneran gila, terus diapain biar bikin orang ini kapok, apa ditiduri, nanti kalau dia hamil gi mana?" Bian terus menggerutu mengingat tugas yang sangat absurd itu.
Pagi sekali, Indira sudah bersiap. Ia memakai celana jeans hitam dan kaos putih. Menatap penampilannya di pantulan cermin lalu menyemprotkan parfum di area tubuhnya, setelah itu mengambil tas selempang dan keluar. Menemui Bian yang sudah menunggunya di ruang depan.
"Kalian nggak sarapan dulu?" tanya Sovia yang baru saja keluar.
"Nggak usah, Ma. Tadi kak Lintang nelpon meminta kita untuk segera datang," jawab Bian memeriksa pesan dari kakak iparnya.
"Ya sudah, kamu hati-hati, jangan ngebut."
Indira menatap rumah mewah yang ada di depannya. Kedua tangannya saling terpaut. Berbeda dengan Bian, ini pertama kali baginya untuk bergumul dengan keluarga Lintang.
"Kak, aku takut, gimana kalau kak Lintang tidak menerimaku?" ucap Indira dengan bibir bergetar.
Bian tersenyum, membantu sang adik melepas seatbelt. "Jangan takut, di rumah ini tidak ada yang galak, ayah juga masih tinggal di sini."
"Bagaimana dengan ibunya kak Lintang? Apa dia akan menerimaku?"
"Yakinlah, semua orang akan menerimamu."
Bertepatan saat Bian dan Indira turun, sebuah mobil mewah masuk dari arah gerbang.
Bian mengingat-ingat mobil yang tak asing di matanya.
Setelah melihat orangnya, Bian tersenyum dan membantu pria itu membuka pintu.
"Kak Keanu," sapa Bian.
Keanu hanya mengangguk tanpa suara. Matanya menangkap gadis yang ada di samping mobil.
Wajahnya mengingatkan pada seseorang yang ia kenal. Penampilannya yang simple dan rapi pun juga membuatnya terpesona. Namun, ia enggan menyebut meskipun dalam hati. Keanu ingin melupakan sosok yang kini sudah mempunyai suami.
"Siapa dia?" tanya Keanu pada Bian. Menyungutkan kepalanya ke arah Indira yang masih menatap ke arah rumah.
"Itu adikku. Adiknya kak Lintang juga."
Seperti ada sebuah kebetulan. Entah itu apa, Keanu pun tak mengerti. Hari ini ia datang ke rumah Yudha hanya memenuhi panggilan Lion yang terus merengek, sedangkan Indira dan Bian menuruti permintaan Lintang dan Yudha, namun mereka dipertemukan meskipun rencana mempersatukan itu belum dilontarkan.