
" Mama sayang sama kamu, Mama juga sayang sama Dea dan juga Marcel. Kalian semua sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri, " ucapnya sambil melepaskan pelukannya, menatap Febby dengan senyum lembutnya. Senyum seorang ibu pada anaknya,itulah yang Febby rasakan.
" Tapi Ma, semua itu gara gara Angga sama Marcel. Aku yakin mereka sengaja banget ngrencanain ini buat ngerjain Dea. Aku yakin banget Ma, " ucap Febby berusaha mengungkapkan argumennya sendiri.
" Sudahlah, nanti Mama yang akan bilang sama Marcel dan juga Angga. Kamu jangan marah marah lagi ya, gak baik buat kesehatan mental kamu. Lagi pula Mama udah kepengen punya cucu dari kamu. Jadi kamu enggak boleh setres enggak boleh banyak pikiran, " ucap Mamanya penuh harap.
Deg, bagai disambar petir disiang bolong. Febby kaget setengah mati. Perkataan Mamanya benar benar membuatnya kaget sekaligus panik.
Cucu? bagaimana ini, aku mana mungkin memberinya cucu. Aku sama sekali tidak pernah berfikir sejauh ini. Kenapa harus secepat ini Mah mintanya?
Febby bergumam sendiri, wajahnya langsung pucat pasi mendengar permintaan Mamanya.
" Sayang? Nak ... kau kenapa? apa kau keberatan dengan keinginan Mama? " ucap Mamanya membuyarkan lamunan Febby.
Febby segera terjaga dari lamunannya.
" Ahh enggak kok Ma, enggak. Cuma saja aku belum siap, lagipula Angga juga pasti belum siap kalau harus secepat ini. "
" Tapi Mama sudah kepingin nimang cucu. Tolong ya sayang jangan nolak permintaan Mama. Nanti Mama yang akan urus bulan madu kalian. "
Mama lalu berlalu pergi meninggalkan Febby. Febby hanya bisa menghela nafas, menyandarkan tubuhnya pada dinding.
Sudah jatuh ketimpa tangga. Kenapa hidupku semalang ini, huhuhu ....
Febby merebahkan dirinya diatas ranjang. Menatap langit langit kamar, pikiran dan hatinya saling beradu pendapat. Disatu sisi ada Mama mertua yang begitu baik dan sayang dengannya. Namun disisi lain dia juga tidak ingin melahirkan anak dari suaminya. Jangankan melahirkan, meneruskan pernikannya saja sudah sangat lelah.
Febby lebih memilih tidur, dia malas keluar kamar. Bertemu dengan orang orang yang nantinya akan semakin membuatnya kesal.
Sampai akhirnya Febby merasa tubuhnya terkena percikan air. Febby langsung bangun membuka matanya, dan ternyata yang dia lihat saat pertama kali membuka mata adalah suaminya.
" Kau! kau sudah pulang? " ucap Febby sambil melirik kearah jam. Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi.
" Sudah? sudah selesai ngomelnya? habisnya kau susah dibangunin, jadi aku terpaksa cipratin air kewajah kamu deh. Hehe maaf ya sayang, " ucap Tuan Angga sambil terkekeh. Dia lalu duduk di tepi ranjang, menatap dalam dalam istrinya.
" Mama menyuruhku pulang, katanya kita akan bulan madu ke Bali. Mama sudah mengurus semuanya dan kita tinggal berangkat. Apa kau keberatan? " ucap Tuan Angga kemudian, mengatakan apa alasan dia pulang lebih awal.
Febby hanya diam tak menjawab, namun terlihat jelas kemarahan di wajahnya.
" Aku nggak bisa kalau harus menolak Mama. Aku takut Mama akan kecewa, apa boleh buat aku setuju. Lalu kau? bagaimana denganmu apa kau setuju? "
" Kau tanya aku? menurutmu? hahaha tentu saja aku sangat setuju. Ini adalah waktu yang aku nanti nantikan, bisa berbulan madu dengan dirimu, " jawab Tuan Angga antusias sambil memegang dagu istrinya. Tuan Angga langsung keluar untuk memberitahu mamanya bahwa mereka sudah siap.
Hihh dia benar benar menyebalkan. Kupikir dia akan menolak, taunya malah kegirangan. Awas kau lihat saja nanti, aku akan buat kau menyesal karena sudah menyetujui rencana Mama. Angga menyebalkan ....
Febby menghentakkan kakinya dan mengepalkan tangannya mmenahan semua kekesalannya. Kesabarannya benar benar sudah terkuras habis.
Setelah semua persiapan selesai, Mama dan juga Marcel mengantarkan Tuan Angga dan juga Febby sampai bandara.
" Hati hati ya Nak, jaga istrimu baik baik. Jangan berantem, ingat kalian harus selalu akur, nikmati masa bulan madu kalian. Mama sayang kalian, " ucap Mama memberikan nasihat sebelum mereka pergi.
" Iya Ma siap, aku pasti akan selalu menjaga istriku ini dengan baik. Dan akan aku pastikan dia akan pulang dengan utuh dan selamat, " jawab Tuan Angga sambil merangkul Febby. Febby hanya tersenyum canggung sambil menepis tangan suaminya.
" Iya Ma, aku titip Dea ya sekalian bilangin sama Dea, maaf aku nggak sempet pamit sama dia. Oh iya dan kau Marcel, ingat jika sampai kau berani membuat Dea nangis lagi, akan kupastikan kau akan menyesal, " ucap Febby memberi peringatan pada Marcel. Dari sorot matanya masih terlihat jelas kemarahan Febby pada Marcel.
" Iya siap laksanakan! " ucap Marcel tegas sambil memberi hormat.
Febby hanya mendengus kesal. Lalu Tuan Angga menarik tangan Febby untuk segera masuk.
" Sudah nggak ada yang dibicarakan lagi kan Ma? kalau gitu kita masuk dulu ya, bentar lagi pesawatnya berangkat, "ucap Tuan Angga sambil berlalu dan melambaikan tangannya.