
Suasana ruangan yang ditempati pak Juli terasa hening. Meskipun sudah sadar, pria itu belum berbicara apapun. Matanya terus tertuju pada Lintang dan Bu Fatimah yang duduk di sofa. Saling tatap namun juga saling membisu. Ingin memeluk kedua wanita itu, itu hanya angan-angan belaka yang sulit untuk terwujud.
"Kenapa ayah bisa sampai terluka seperti ini?"
Bian mengusap sisa darah yang mengering di wajah pak Juli dengan tisu basah. Ia belum tahu penyebab kepala pak Juli sampai berdarah.
Apa mas Juli akan menceritakan pada Bian. Apa masalah ini akan dibawa ke jalur hukum.
Ketakutan bu Fatimah memuncak. Ia yang duduk di samping Lintang hanya bisa meremas ujung bajunya dan menunduk. Keringat nya terus bercucuran membasahi kulitnya. Takut semua orang menyalahkan perbuatannya yang tidak disengaja.
"Tadi ayah jatuh dari kamar mandi. Untung ada ibunya Lintang yang menolong ayah," ucap pak Juli dusta, menutupi fakta yang sebenarnya terjadi.
Bian menoleh ke belakang menatap bu Fatimah.
Kenapa bisa bu Fatimah yang menolong, Memangnya ayah jatuh di mana?
Bian hanya bisa bertanya dalam hati, tak ingin memperpanjang masalah itu lagi.
Lintang menatap pak Juli tanpa ingin mendekat. Entah apa yg ia rasakan, hatinya bercampur aduk saat melihat tubuh sang ayah yang nampak lemas.
"Apa mama juga tahu tentang ini?"
Pak Juli menggeleng pelan. Kepalanya masih terasa sakit jika bergerak.
"Bian, aku mau bicara sebentar sama kamu."
Yudha beranjak lalu keluar. Bian mengikutinya dari belakang. Keduanya berhenti di depan ruangan pak Juli. Yudha duduk di kursi besi yang menjulur panjang. Menepuk sebelahnya yang kosong.
"Ada apa, Kak?" tanya Bian duduk di samping Yudha. Meskipun derajat mereka sangat berbeda, Bian mencoba untuk memandang Yudha sebagai keluarga.
"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa Ibu yang menolong ayah?" tebak Yudha yang tak meleset sedikit pun.
Bian mengangguk. Melepas tas ransel yang membuat pundaknya terasa pegal.
"Apa mereka balikan, Kak?"
"Menurut kamu?" Yudha balik tanya. Ia sendiri juga bingung dengan hubungan mertuanya. Bu Fatimah ingin berpisah, namun mereka masih terlihat jelas saling peduli.
Bian tersenyum. "Aku akan mendukung jika itu benar terjadi. Bu Fatimah berhak bahagia di masa tuanya. Semua ini salah mama. Seandainya dulu aku tahu ayah sudah punya istri, tidak mungkin aku membiarkan mama menikah dengannya, Kak."
"Lalu, bagaimana mama dan adik kamu?"
"Aku yang akan mengatakan pada mereka. Bagaimanapun juga mama harus bisa melepas ayah."
"Kenapa kamu tidak mendukung mamamu?" tanya Yudha mengimintidasi.
Bian menghela napas panjang. Sebagai seorang pria, ia harus berpikir luas dan memberikan keputusan yang tepat.
"Karena mama salah, Kak. Dia sudah merebut ayah dengan cara yang tidak benar." jelas Bian.
"Kamu kuliah jurusan apa?" tanya Yudha untuk yang kesekian kali.
"Administrasi."
"Kebetulan aku ada tempat kosong di kantor, jika kamu berminat temui Andreas, tapi kinerja kamu harus bagus, kalau tidak, aku pecat."
Baru saja membuka mulut, Yudha sudah masuk kembali meninggalkan Bian.
"Niat nggak sih, nawarinnya, apa cuma iming-iming doang," gerutu Bian setelah Yudha menghilang dibalik pintu yang tertutup.
Yudha menghampiri pak Juli yang nampak kesusahan mengambil mangkuk. Menoleh ke arah Lintang dan Bu Fatimah. Entah kenapa, kedua wanita itu bergeming dan tak ada yang ingin membantu sang mertua.
"Ayah lapar?" tanya Yudha menatap bubur sumsum yang ada di meja samping brankar.
"Iya, tapi ayah belum bisa bangun. Kepala ayah masih sakit," keluh pak Juli memegang perban yang membalut lukanya.
Biarpun ia adalah orang yang lebih terpandang, Pak Juli tetaplah mertuanya, ayah dari Istrinya.
Suara dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin dekat. Lintang menghampiri Yudha, memegang pundak pria itu.
Wajahnya lesu saat menatap pak Juli dari atas hingga bawah. Ternyata pria yang dulu sangat gagah itu kini sudah tua. Punggung tangan yang dihiasi dengan jarum infus itu tampak keriput serta rambutnya mulai beruban.
"Bukannya ku tidak mau menyuapi ayah, tapi perutku mual kalau lihat makanan."
Disapa begitu saja hati pak Juli terasa sejuk. Rasa sakit yang menyeruak lenyap seketika. Air matanya mengalir membasahi pelipisnya, betapa rapuhnya pria itu kini hidup bagaikan tanpa arah setelah pintu hatinya yang lama tertutup.
"Nggak papa."
Matanya melirik bu Fatimah yang masih duduk anteng.
Sebuah kecupan mendarat di perut rata Lintang yang tertutup dress berwarna navy. Setelah itu Yudha mengelus perut rata sang istri.
"Anak papa nggak boleh nakal, ya. Kasihan mama," bisiknya.
"Kamu hamil, Nak?" tanya pak Juli memastikan.
Lintang hanya mengangguk tanpa suara.
Pintu terbuka lebar, wajah mungil nan lucu yang hampir seharian di tinggalkan itu nampak di ambang pintu.
Semua menoleh ke arah sumber suara termasuk pak Juli yang masih berbaring.
Lion
"Mama, Papa…" teriaknya dengan kencang membuat Lintang menutup telinganya.
Lion berlari berhamburan memeluk Lintang. Merangkak naik meminta gendong, tak segan-segan mencium pipi mama tirinya dengan lembut.
"Lion kesini sama siapa?" tanya Lintang mengusap peluh Lion yang membasahi kening.
"Sama oma dan opa."
Yudha langsung berjalan menuju pintu. Menyambut bu Indri dan pak Radit yang baru saja tiba.
"Mama kapan pulang? Tahu dari mana aku ada di sini?" Yudha melayangkan pertanyaan yang bertubi.
"Baru sampai, kata bi Siti kalian mengantar bu Fatimah ke rumah lama. Tapi setelah sampai sana, tetangga kamu bilang ke rumah sakit, Mama dan papa langsung ke sini."
Pak Radit berdiri di samping brankar, tangan nya mengulur bersalaman dengan pak Juli. Ini yang kedua kali mereka bertemu setelah di pernikahan Yudha dan Lintang.
"Kenapa kepalanya sampai terluka, Pak?" tanya pak Radit ikut cemas.
"Aku yang tidak hati-hati, Pak. Nggak papa, sebentar lagi juga sudah boleh pulang."
"Lintang, ibu mau pulang saja. Naik taksi."
"Bu…"
Seketika Yudha menarik tangan bu Fatimah yang hampir pergi. Menggandengnya ke arah brankar.
"Sepertinya ayah ingin mengatakan sesuatu pada, Ibu," ucap Yudha asal.
Bu Fatimah nampak canggung. Disaksikan seluruh keluarga membuatnya tak percaya diri. Meskipun keberadaannya sangat berarti, bu Fatimah merasa berkecil hati karena pernah ditinggalkan. Dan berpikir dirinya memang wanita yang tak berguna.
"Aku sudah bercerai dengan Sovia. Aku ingin membuka lembaran baru di masa tua ku bersama kamu. Maafkan aku yang pernah khilaf."
Bu Fatimah tersenyum kecut. Goresan luka yang menancap lima tahun lalu masih terasa. Kepahitan hidup yang ia alami bersama Lintang kini kembali melintas. Bayangan hitam itu seakan tak bisa terhapuskan.
"Kalau kamu kembali padaku hanya karena harta dan kedudukan Yudha, lebih baik tidak usah. Aku bisa menjalani hidupku tanpa kamu," ucap Bu Fatimah tegas.