Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Kepergian Ayah Febby


Lama Tuan Angga menunggu Febby tidur hingga dia sendiri juga tertidur di sofa menunggu Febby bangun. Saat Tuan Angga bangun dia melihat kearah ranjang ternyata Febby sudah tidak ada hingga membuatnya khawatir dan kesal.


" Kemana dia apa dia kabur? awas saja kalo dia berani kabur, " maki Tuan Angga dalam hati mengetahui Febby sudah tidak ada ditempat tidur.


Tuan Angga mencari ke kamar mandi ke ruang ganti tidak ada juga. Dia turun kebawah dan bertanya pada pelayan, dan pelayan mengatakan Febby keluar dengan terburu-buru sambil menangis.


Tuan Angga semakin khawatir dengan Febby.


" Apa dia benar-benar kabur karena aku siksa disini, ah tidak mungkin, " gumam Tuan Angga dalam hati.


Tuan Angga keluar menyetir mobil mencari Febby hingga dia sampe didepan rumah sakit. Tiba-tiba dia teringat ayahnya Febby dirawat di rumah sakit itu saat awal pertemuan mereka.


Dia berjalan menyusuri lorong kearah tempat ayah Febby dirawat. Dan betapa terkejutnya tuan Angga mendapati Febby sedang menangis sesenggukan memeluk ayahnya. Disana semua alat yang menempel pada tubuh ayahnya sudah dilepas.


" Ayah jangan tinggalkan aku dan Dea. Tolong ayah buka matamu, " ucap Febby masih dengan menangis. Hati Tuan Angga tersentuh melihat kejadian itu, dia merasa iba melihat Febby.


Tuan Angga mendekat kearah Febby dan memegang pundak Febby. Seketika Febby menengok kearah Tuan Angga dan langsung memeluknya.


"Tuan ayahhh .... " ucap Febby sambil menangis dan memeluk Tuan Angga. Tuan Angga membiarkan Febby memeluknya agar dia lebih tenang.


" Sudahlah, ini semua sudah takdir kau tidak bisa melawan takdir. Iklaskan kepergiannya supaya ayahmu tenang di alam sana, " ucap Tuan Angga menenangkan Febby.


Setelah Febby sedikit tenang Febby mendekati Dea yang juga masih menangis disamping ayahnya.


" Sudahlah dek kita iklaskan kepergian ayah. Kakak berjanji akan selalu menjagamu,sudah ya jangan menangis lagi, " ucap Febby menenangkan Dea.


Dea mengangguk pelan lalu mereka berdua berpelukan.


Tuan Angga menemani Febby dan Dea sampe ke pemakaman ayahnya.


" Tidak, ayahku sudah tiada jadi aku sudah tidak terikat perjanjian apapun denganmu. Aku masih sanggup untuk menyekolahkan adikku, " jawab Febby menolak ajakan Tuan Angga.


" Jadi kau menolak niat baikku. Baiklah aku sama sekali tidak rugi, aku ingin lihat sampe mana usahamu untuk menyekolahkan adikmu itu. Dan ya jika kau sudah menyerah pintu rumahku selalu terbuka untukmu, " jawab Tuan Angga sinis.


Lalu Tuan Angga pergi meninggalkan mereka berdua yang masih termenung didepan makam ayahnya.


Dirumah Febby


Sepulang dari pemakaman ayahnya Febby dan Dea pulang kerumah mereka. Febby menyuruh Dea untuk bersih-bersih badan begitupun dengan Febby.


Sehabis mandi Febby merebahkan dirinya ditempat tidur sambil membayangkan kepergian ayahnya yang seperti mimpi.


" Aku harus kuat, aku gaboleh cengeng. Dea masih sangat membutuhkan aku, aku harus kuat demi Dea. Demi Ayah dan Ibu disurga, " ucap Febby menguatkan diri sendiri.


Akhirnya Febby tertidur hingga terbangun sore hari dibangunkan adiknya Dea untuk makan malam. Mereka makan malam berdua tiba-tiba Dea menangis teringat akan ayahnya.


Febby hanya bisa menghibur adiknya agar tidak larut dalam kesedihan meskipun Febby sendiri juga masih terpukul dengan kepergian ayahnya. Selesai makan malam Febby mencuci piring dan mereka kembali ke kamar masing-masing.


Keesokan harinya Dea berangkat sekolah seperti biasa. Dan Febby juga bersiap-siap untuk mencari pekerjaan. Dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya untuk mencari peningkatan gaji yang lebih tinggi.


Sesampainya dikantor yang dituju Febby, disana masih ada lowongan dan Febby langsung diterima tanpa harus interview. Sebenarnya Febby merasa ada yang aneh, tapi dia berusaha berpikir positif mungkin ini adalah keberuntungannya. Dan lebih mengejutkannya lagi dia diterima sebagai sekertaris Direktur yang memiliki perusahaan itu.


Dan sesampainya Febby diruang Direktur, betapa terkejutnya Febby mendapati siapa bosnya.


" Tuann .... " ucap Febby setengah teriak karena kaget.