Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 124. Putus


Berkali-kali ponsel Bian berdering. Beberapa pesan pun masuk dengan nama yang sama, namun Bian enggan untuk menjawab atau membukanya. Ungkapan Hilya membuat hati Bian perih. Hubungannya dengan Hilya seolah-olah hanya sebatas imbalan karena ia sudah membantu wanita itu. 


Tidak apa-apa, Hil. Kamu memang pantas mendapatkan laki-laki yang lebih sukses dariku, tapi ingat, hatiku hanya terbuka satu kali. Itu artinya tidak akan ada kesempatan kedua kali untuk orang sepertimu. 


Tanpa terasa, mobil berhenti di depan rumah Yudha. Bian langsung turun membawa pesanan Yudha. Berjalan gontai menghampiri Lintang yang ada di ruang tengah. 


"Cepet amat, Bi. Tadi kamu ngebut?" Lintang mengambil kantong kresek dari tangan Bian. Ia langsung membukanya tanpa melihat wajah adik tirinya yang kusut. 


"Nggak juga, Kak," jawab Bian singkat. 


Menghempaskan tubuhnya di sofa yang menjulur panjang. Menutup matanya untuk melupakan wajah Hilya yang terus melintas. 


"Kalau capek, istirahat saja. Biar nanti aku yang bilang ke mas Yudha." Lintang duduk di depan Bian, berseberangan meja. 


"Ciri-ciri perempuan setia itu gimana sih, Kak?" tanya Bian tiba-tiba membuat Lintang mengerutkan alisnya. 


"Maksud kamu?" tanya Lintang memastikan pertanyaan Bian. Yang ia tahu, Bian bukan tipe pria yang gampang menceritakan masalah yang menerpa.


Bian duduk dengan kedua tangan saling terpaut. Jika selama ini ia sanggup memendam keadaan keluarganya yang penuh drama, kali ini ia tak mampu untuk menyimpan masalahnya sendiri. 


"Aku pengen mempunyai istri yang setia. Dia mau menerimaku apa adanya, tidak pernah memandang harta atau pekerjaanku." Suara Bian terdengar berat. 


Apa Bian berantem dengan Hilya? terka Lintang dalam hati.


"Apa ini ada hubungannya dengan Hilya?" Cetus Lintang sambil menikmati kuenya. 


Bian tersenyum lalu menunduk. 


"Aku tidak mau membahas dia lagi, mungkin kami memang belum berjodoh."


Dari lubuk hati terdalam, Bian masih mencintai gadis itu. Selain cantik, Hilya pun lembut setiap kali bersamanya. Namun, ungkapan tadi sudah membuktikan semuanya. Dan ia tak ingin berharap penuh pada gadis itu. 


"Aku tidak bisa menilai seseorang dari wajahnya. Ketulusan orang akan terlihat seberapa dekat kita dengannya. Kalau kamu ada masalah, cerita ke kakak." 


Bian menggeleng tanpa suara. Meneguk teh hangat milik Lintang. 


Ponsel Bian berdering lagi, kali ini  bukan nama Hilya yang berkelip, melainkan bos sekaligus kakak armya. 


"Ada apa, Kak?" sapa Bian lesu. Semangatnya patah hanya mengingat ucapan Hilya.


"Kamu di mana?" tanya Yudha antusias. 


"Masih di rumah kakak." 


"Kak Lintang lagi ngapain?"


Lintang merebut ponsel Bian lalu menempelkan di telinganya. 


"Lagi  selingkuh, Mas. Kan suamiku nggak ada di rumah." 


Yuda bergelak tawa. Sedikitpun di benaknya tak percaya dengan ucapan Lintang. 


"Kalau kamu berani selingkuh, aku tetap tidak akan menceraikanmu. Tapi aku juga tidak memberimu kesempatan untuk berduaan dengan selingkuhan mu itu." 


Lintang menanggapinya dengan senyuman. 


"Suruh Bian cepat balik. I love you." 


Yudha memutuskan sambungannya sebelum Lintang menjawab, ia tak bisa berlama-lama berbicara dengan Lintang karena ada tamu. 


Bian tak bisa meninggalkan rumah Yudha sebelum bertemu dengan dua bocah mungil yang ada di ranjang. Ia mengulas senyum melihat Lion yang terlelap dengan tangan memeluk Rembulan. Mengingat masa kecilnya saat bersama Indira. 


"Tidak ada yang lebih tenang selain anak kecil. Mereka tidak punya masalah." Mencium Lion dan Rembulan bergantian. 


Bian sudah lebih lega, curhat dengan Lintang sedikit mengurangi beban pikiran yang membuatnya kacau. Ia ingin fokus dengan pekerjaannya dan tak ingin lagi memikirkan asmaranya. 


"Bian, aku mau bicara." Teriakan itu menghentikan Bian yang hampir membuka pintu mobil. Ia  menoleh ke arah sumber suara. Nampak gadis cantik di depan gerbang.


"Hilya, ngapain dia di sini?" Bian hanya mematung dan tak ingin mendekat. Menyuruh satpam untuk tetap berjaga di sana. 


"Pak tolong, buka gerbangnya, aku mau bicara dengan Bian," rengek Hilya mengiba. Tak peduli dengan panasnya matahari yang kian membakar tubuh. Saat ini ia hanya ingin menjelaskan pada Bian. 


Bian acuh. Ia tetap masuk ke mobil. Begitu juga dengan Hilya yang tak pantang menyerah. Meskipun tak bisa masuk ke rumah Yudha, Hilya menghalangi mobil Bian yang sudah keluar gerbang. 


Bian membuka kaca mobilnya, menatap Hilya sinis. 


"Minggir, atau aku tabrak!" bentak Bian. 


"Tabrak saja, aku nggak takut." Hilya berdiri tepat di depan mobil Bian. Menguji kesabaran seorang Bian.


Bian menghela napas panjang. Terpaksa ia turun dan menghampiri Hilya. 


"Semuanya sudah jelas. Kamu memilih laki-laki yang lebih kaya daripada aku," cetus Bian.


Hilya tersenyum. Ia bangga karena Bian cemburu padanya. Namun juga bingung untuk menjelaskannya.


"Kita harus bicara, Bi," pinta Hilya dengan lembut sembari meraih tangan Bian, namun dengan kilat pria itu menepis tangan Hilya. 


"Jangan sentuh aku! Sekarang juga kita putus. Terserah kamu mau dengan siapapun. Anggap saja kita tidak pernah kenal." 


Sekujur tubuh Hilya membeku, ia tak percaya mendengar ucapan tadi. Itu seperti sebuah mimpi di siang bolong. 


Ini nggak mungkin. 


Hilya tak percaya. Ia berlari mengikuti Bian yang kembali masuk ke mobil. 


"Aku akan jelaskan semuanya, Bi. Ini tidak seperti yang kamu dengar." Hilya mengetuk-ngetuk pintu mobil, namun sedikitpun pria itu tak peduli dan melajukan mobilnya ke arah kantor. 


Hilya ambruk, menantap mobil Bian yang mulai menjauh. Ini pertama kalinya hati nya hancur oleh seorang laki-laki. 


"Maafkan aku, Bi. Bukan maksudku menyakitimu." Hilya mengusap air matanya lalu bangkit. Merogoh ponsel yang  ada di tasnya. 


"Halo, Ma. Aku mau melanjutkan kuliahku di Swiss. Mama tolong persiapkan semuanya." 


Wanita yang ada di seberang sana tersenyum bangga mendengar permintaan putrinya.


Hilya masuk ke mobil. Banyak tujuan yang ingin ia bawa lari ke sana, selain untuk menambah ilmu, ia ingin melupakan Bian. Laki-laki yang pernah bersemayam di hatinya walaupun singkat. Pertemuannya dengan Bian memberikan banyak pelajaran, namun juga menciptakan luka bagi Hilya. Selama ini ia menganggap pacaran itu adalah hal yang tabu, tapi sekarang, ia merasakan pahit manis sebuah hubungan.


Bergulat dengan pekerjaan mungkin akan membantu Bian melupakan kejadian yang menimpa dirinya. Sesampainya di kantor, ia langsung fokus dengan laptop yang ada di depannya. 


"Fokus amat, Bi," ujar Andreas  yang baru masuk. 


"Hemmm…" jawab Bian singkat membuat Andreas memgernyit. Meletakkan tugas baru lalu keluar. 


Setelah pintu tertutup rapat. Bian mengacak rambutnya. Berusaha sekeras apapun, wajah Hilya terus mengikuti dan membuatnya tak tenang.


''Perempuan bukan segala-galanya. Yakinlah jika kamu akan mendapatkan yang terbaik."