Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Dinner part 1


Marcel sedang duduk di kursi kebanggaannya. Dia memandangi foto manis Dea yang dia pasang di meja kerjanya.


Gadis yang manis, kamu sedang ngapain ya. Aku kangen sama kamu, tapi tidak tahu apa kamu juga punya perasaan yang sama sepertiku.


"Tok ... tok ... tok ...." suara itu membuyarkan lamunannya. "Ya masuk."


"Maaf Pak, ini dokumen dokumen yang harus anda tanda tangani," ucap sekertaris itu seraya menyerahkan beberapa dokumen.


"Hem," seraya menandatangani dokumen itu. Sekertaris itu memperhatikan bosnya. Dan tanpa sengaja dia melihat sosok wanita cantik dalam foto, yang tak lain adalah Dea.


Sejak kapan Pak Marcel mempunyai kekasih? Orang sedingin dia mana ada yang mau?


"Apa yang kau lihat!" bentak Marcel yang mengetahui sekertarisnya sedang memandangi foto Dea. "Em ... itu, anu pak, dia cantik sekali. Apa dia kekasih anda?" jawab sekertaris itu cengengesan.


"Bukan urusanmu. Sudah sana pergi," ucap Marcel dingin seraya melemparkan dokumen itu. Sekertaris itu mengambil dokumen dengan buru buru. "Baik Pak, permisi."


Saat sekertarisnya berjalan beberapa langkah, Marcel menghentikan langkah kakinya. "Tunggu," sekertaris itu langsung berhenti. Memutar badannya. "Ya, ada apa lagi Pak?" wajahnya terlihat gugup.


Ya ampun, apa aku melakukan kesalahan karena sudah lancang bicara tadi? Habislah aku.


"Kau harus mengingat betul wajahnya, jika suatu hari nanti dia datang kemari kau harus menyambutnya dengan baik. Dia akan menjadi atasan kalian nanti," ucap Marcel dengan mimik wajah yang tidak bisa ditebak.


"Baik Pak, ada lagi?"


"Tidak, kau boleh pergi," sekertaris itu lalu pergi.


"Tok ... tok ... tok ...." belum lama sekertaris itu pergi, pintunya sudah kembali diketuk.


"Masuk. Ada apa lagi!" jawab Marcel kesal dikira itu sekertarisnya lagi.


Selin mengernyitkan dahinya. Dia berjalan mendekati Marcel. "Kamu marah padaku?" ucapnya seraya duduk di sofa. "Tidak. Kupikir tadi itu bukan kamu. Oh iya ada apa?"


"Aku hanya merasa bosan di rumah mulu. Jadi aku datang kesini deh. Emm kantor kamu masih tetap sama seperti dulu, nggak ada yang berubah," ucap Selin seraya memperhatikan sekitar. Marcel tak menanggapinya, dia hanya diam melihat tingkah Selin.


"Sudah jangan basa basi, aku tahu kedatanganmu kesini bukan untuk melihat kantorku. Ada apa?" tanya Marcel dengan wajah datar.


Selin menghembuskan nafasnya kasar. " Ok, baiklah. Kau sudah lama ikut dengan Wijaya Enterprize. Kau bahkan tahu jelas seluk beluk kantor ini. Kau tentu juga tahu rahasia Angga. Jadi apa kau bisa membantuku? aku ingin masuk ke kantor ini, sebagai asisten pribadinya. Tapi jangan sampai istrinya tahu, nanti bisa ngamuk dia," ucap Selin mengutarakan tujuannya.


"Apa kau sudah tidak waras? Apa kau sudah kehilangan akal? Aku tahu kau suka dengannya. Tapi ingat Selin, Angga sekarang sudah beristri."


"Apanya yang salah?! aku hanya ingin bekerja disini. Bisa melihatnya setiap hari saja sudah cukup bagiku. Aku tahu dia sudah menikah, itu sebabnya aku mau kamu merahasiakannya."


"Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan Angga. Tapi aku tidak bisa berjanji, dan ingat! Jangan mengusik rumah tangga mereka," ucap Marcel penuh penekanan.


"Ya, tentu."


Selin menjawab dengan semangat. Dia lalu pergi meninggalkan ruangan Marcel tanpa berpamitan.


Selin tersenyum sendiri sambil berjalan meninggalkan ruangan Marcel.


"Apa yang kutakutkan beneran terjadi. Aku harus mengawasi setiap gerak gerik Selin. Jangan sampai dia melewati batasannya. Huh ..." Marcel menghembuskan nafasnya kasar. Dia menyandarkan tubuhnya, memikirkan Dea saja sudah membuatnya pusing. Sekarang tambah lagi masalah Selin.


*****


Hari sudah sore, namun Febby tak kunjung bangun juga. Tuan Angga akhirnya membangunkannya. "Yank, bangun yank, sudah sore," ucap Tuan Angga sambil mengguncang guncangkan tubuh Febby pelan. "Emh ... iya," namun tidak juga membuka matanya.


"Cup," satu kecupan mendarat dibibir Febby. Febby langsung membuka matanya lebar lebar. Mendorong Tuan Angga agar menjauh dari tubuhnya. Dia kemudian bangun dan mendudukkan dirinya. "Apaan sih kebiasaan deh," ucapnya dengan wajah cemberut.


"Sudah sore sayang, mandi dulu sana. bau nih," ucap Tuan Angga seraya menutup hidungnya. Febby mengernyitkan dahinya. Tuan Angga terkekeh melihat tingkah Febby.


"Mandiin," rengek Febby dengan manja. "Ok,ayo," jawab Tuan Angga atusias mendengar permintaan Febby.


"Gendong," rengek Febby lagi.


Tuan Angga langsung membopong Febby tanpa menunggu lama. Febby langsung mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya.


"Lepasin," lagi lagi Febby membuat Tuan Angga dibuat gemas dengan tingkahnya.


Tuan Angga dengan cekatan melepas satu persatu pakaiannya. Dia menelan ludahnya sendiri. Dibawah sana ada sesuatu yang terasa sesak. Istrinya benar benar menantang kesabarannya. "Bugh," Febby memukul dada Tuan Angga.


"Aww ... kenapa aku dipukul?" tanya Tuan Angga sambil meringis kesakitan. "Mikirin apapan?" ketus Febby.


"Mikirin kamu, sepertinya enak kalau aku memakanmu disini," jawab Tuan Angga dengan senyum menggoda. Febby langsung memerah. "Dasar mesum!" teriaknya seraya mendorong Tuan Angga keluar. Dia menutup pintu lalu menguncinya. "Aku mandi sendiri saja," ucapnya dari balik pintu. Tuan Angga hanya tersenyum dengan tingkah Febby.


"Sabar ya, hari ini kamu harus bobo lagi. Belum saatnya," ucap Tuan Angga sambil mengelus elus sesuatu di dalam celananya.


*****


Tiba saat yang dinantikan. Jam menunjukkan pukul 19:00. Tuan Angga menutup kedua mata Febby. Dia menuntun Febby berjalan menuju taman belakang rumah yang sudah di dekor seindah mungkin. "Duh aku mau dibawa kemana sih, hati hati pegangin aku," ucap Febby seraya tangannya meraba raba sekitaran. "Iya, tenang saja," balas Tuan Angga seraya menuntun Febby.


"Sudah sampai," ucapnya seraya memegangi pundak Febby. Lalu dia membuka penutup mata Febby. Febby hanya diam menunggu penutup matanya dibuka. Perlahan Febby membuka matanya. Dia membulatkan matanya, lalu air matanya jatuh membanjiri pipinya. Dia langsung memeluk suaminya.


Febby memeluk Tuan Angga sangat erat. Namun tidak berkata apapun. Yang ada hanya suara tangisnya. Tuan Angga membalas pelukan itu, dia mengusap usap lembut punggung Febby. "Apa kamu suka?" tanya Tuan Angga disela sela pelukannya.


"Hm," hanya itu yang keluar dari mulut Febby. Tuan Angga melepas pelukannya. Memegangi kedua lengan Febby, menatapnya dalam. "Lalu kenapa wajahmu murung seperti itu?" tanya nya khawatir.


""Aww..sakit, kenapa mencubit sih," erang Tuan Angga kesakitan saat Febby mencubit perutnya. "Bodoh, siapa yang murung! ini namanya nangis bahagia tau!" ketus Febby seraya mengusap air matanya. Tuan Angga hanya cengengesan mendengar jawaban Febby.


"Apa kau yang mempersiapkan semuanya?"


"Ya, spesial untukmu. Ayo kita kesana," Tuan Angga mengajak Febby ke taman yang sudah di beri meja kecil dengan dua kursi untuk dinner romantis mereka. Dengan dihiasi lilin lilin yang mengitari meja itu berbentuk hati. Serta bunga bunga yang dipasang dipagar berbentuk hati, menambah kesan romantis malam itu. Saat Febby berjalan menapaki karpet menuju meja itu, seketika lampu disekitarnya menyala bersama sama. Febby hanya bisa menganga mengagumi kejutan itu.