Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
104. Pulang


Yudha kembali menunjukkan keperkasaannya sebagai pria sejati. Pagi itu menjadi hari yang paling bahagia. Sinar mentari yang begitu cerah menggambarkan hati Lintang dan Yudha yang saat ini juga berbinar. 


Lintang sudah menyuruh Bian untuk mengemas bajunya yang ada di vila. Ia lalu merapikan penampilannya. Menatap bayangannya dari pantulan cermin, cantik tanpa celah, meskipun banyak yang melebihi nya, tetap saja di mata Yudha ia yang terbaik di atas segala-galanya. 


"Setelah ini aku akan membuka cabang di luar kota," ujar Yudha seraya memakai sepatunya. 


Lintang mendengus kesal. Segala cara sudah ia lakukan untuk membuat Yudha tak terlalu sibuk. Namun, semua itu sia-sia, bahkan beberapa bisnis sudah dirancang suaminya. Mengembangkan beberapa proyek yang pernah terbengkalai juga membangun tempat pariwisata di berbagai daerah.


"Aku nggak peduli," jawab Lintang ketus, meraih tas yang ada di ranjang. 


Yudha melirik, ia bisa melihat raut kekesalan di wajah istrinya. 


"Marah?" goda Yudha meraih tubuh Lintang hingga jatuh ke pangkuannya. 


"Mau sampai kapan kamu sibuk bekerja, apa aku ini nggak penting buat kamu."


Lintang mengucap dengan ketus hingga membuat Yudha terkekeh. 


"Aku cuma bercanda, Sayang." 


"Bercanda tapi tetap dilakukan," sahut Lintang 


Menikah satu tahun membuat Lintang hafal dengan semua yang ada di diri sang suami, termasuk segala keinginannya. 


"Ak __"


Ucapan Yudha terpotong saat suara ketukan pintu menggema. Keduanya saling tatap dan mengangkat bahu. 


"Mungkin pelayan mengantar makanan." 


Yudha beranjak lalu membuka pintu. 


Lintang duduk di tepi ranjang sambil mengelus perutnya yang terus bergerak. Semalam saat dijenguk papanya pun tak henti-hentinya bocah itu menendang-nendang perut Lintang. 


"Papa," seru suara cempreng dari ambang pintu. 


Lintang menoleh ke arah sumber suara. Terkejut dengan kehadiran putranya. 


"Lion, kamu kesini dengan siapa?" tanya Lintang yang juga ikut mendekat.


Lion menunjuk ke arah luar. Ternyata disana sudah ada seluruh keluarga. 


Seketika wajah Lintang merah merona, ia memilih mundur dan bersembunyi di belakang Yudha.


"Mama, Papa, Ibu, Ayah, kalian kok bisa tahu aku ada disini?" ucap Yudha sedikit gugup. Ingin merahasiakan keberadaannya justru malah terbongkar. 


Andreas memundurkan langkahnya perlahan saat ia mendapat tatapan tajam dari sang bos. 


Ini pasti ulah Andreas, dasar asisten kurang ajar. Apa dia ingin membuatku malu, kenapa harus bilang pada mereka. Apa dia nggak dengar aku menyuruhnya menunggu di Bandara.


Yudha hanya bisa menggerutu dalam hati. 


"Kamu nggak perlu tahu, yang penting sekarang cepetan kita pulang, besok mama ada arisan, kalau terlambat gimana?" 


"Kenapa mama nggak ajakin aku?" rengek Lion menarik ujung baju Lintang. 


Lintang menatap Yudha, mencari bantuan pada pria itu untuk menjawab pertanyaan Lion.


Bu Indri hanya menahan tawa melihat kepanikan di wajah menantunya. Bagaikan terkunci, bibir Lintang tak bisa mengucap apapun. 


"Tadi malam dedeknya gak mau diganggu, Sayang. Tapi papa janji, malam ini papa dan mama akan temani Lion tidur." Mengusap rambut Lion dengan lembut. 


Seketika itu Lion melompat kegirangan. 


Lintang menghela nafas panjang. Akhirnya ia lega saat perhatian semua orang tak lagi fokus pada nya. 


Sesekali Yudha melirik Andreas yang sibuk dengan majalah dewasa di tangannya. 


"Kenapa kamu membawa Lion ke hotel?" Mengucap dengan suara pelan, bahkan nyaris tak terdengar. 


"Tadi Lion nangis, Pak. Kalau nggak diajak ketemu bu Lintang, dia nggak mau mandi, Bu Indri marah-marah, terpaksa saya ajak. 


"Tapi kenapa mama dan yang lain ikut?" geram Yudha, seharusnya Andreas bisa mengajak Lion sendiri, bukan ramai-ramai. 


"Kan sekalian ke bandara, Pak. Kalau kembali ke villa kita terlambat."


Sangat masuk akal, mengingat jarak Vila dan Bandara yang sangat jauh.


Yudha memilih diam, membantah seperti apapun ia tetap kalah dengan asisten nya yang jauh lebih mengerti dan paham dengan semua tugasnya. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sekian lama berjuang untuk hidup, akhirnya kini Yudha bisa bernapas dengan lega, ia bisa menginjakkan kaki di rumahnya kembali. 


Sebuah kue besar sudah menyambutnya di teras depan. Matanya berkaca, seolah-olah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. 


"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang." Pelukan pertama diberikan oleh Sang mama.


"Semoga pernikahan kalian langgeng sampai tua, dan diberikan banyak anak."


Yudha mengusap air matanya yang tak senganja lolos. Sungguh, ia merasa terharu didampingi orang-orang tercinta. Meskipun dulu hubungannya sempat renggang, namun kini mereka kembali menjalin hubungan baik. 


Ucapan selamat bertubi-tubi ia terima dari seluruh keluarga, dulu ini bukanlah acara yang penting bagi Yudha, namun saat ini ia bisa merasakan hangatnya berkumpul dengan keluarga.


"Selamat datang kembali, Pak. Semoga diberi panjang umur dan sehat selalu, banyak anak dan rezeki," doa  bi Siti. 


"Makasih, Bi," jawab Yudha duduk di sofa ruang keluarga. Ia mulai memotong kue dan memberikan pada seluruh keluarga dan juga pembantunya. 


"Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, Pak." 


Andreas mengucapkan dengan takut-takut, kedua tangannya saling terpaut dengan kepala yang menunduk menatap lantai. 


"Makasih, tapi ingat! Sekali lagi kamu berkhianat, aku pecat," sergah Yudha  hanya melirik sekilas. 


"Baik, Pak."


Kabar Yudha masih hidup tak hanya diketahui keluarga, namun juga semua pihak kantor, kini mereka berbondong-bondong datang untuk ikut merayakan hari ulang tahun pernikahan Yudha dan Lintang yang pertama. 


Ini kali pertama rumah Yudha di penuhi dengan tamu. Banyak doa yang membanjiri untuknya dan Lintang, juga bayi yang masih bersemayam dalam kandungan. 


''Untung semalam kita sudah melakukannya di hotel," bisik Yudha di telinga Lintang, yang membuat sang empu celingukan, takut ada yang mendengar ucapan absurd suaminya. 


Lintang tersenyum dan mengangguk saat ada yang berjabat tangan. Mempersilahkan semua orang masuk. 


Kini rumah Yudha dipenuhi tamu yang tak disangka. Ia dan Lintang sebagai sang tuan rumah pun menyambut antusias. Mereka yang berhamburan mencari tempat duduk. 


"Ada jamuan apa saja, Bi?" tanya Yudha pada bi Siti yang sibuk membuat minum. 


"Bibi sudah siapkan semuanya, Pak. Kemarin Pak Andreas bilang akan ada tamu banyak, Bibi langsung belanja."


Yudha hanya ber oh ria. Mengurungkan hukuman untuk sang asisten. 


Acara yang seharusnya digelar kecil-kecilan kini semakin meriah. Mereka silih berganti memberikan kado untuk Lintang, Lion dan juga Yudha. Meskipun Yudha sudah bisa membeli apapun, tetap saja itu sangat berarti baginya.


Senyuman yang terus menghiasi bibir Lintang, tiba-tiba saja meredup saat matanya menangkap seseorang yang sedikit aneh diantara tamu lainnya."


Kenapa dia melihatku seperti itu?