
Andreas memakai kemeja putih dibalut dengan jas berwarna navy serta celana senada. Tak lupa jam tangan mahal dan sepatu hitam mengkilap. Pria itu terlihat sangat tampan membuat semua mata terpana.
Penampilannya yang sempurna membuat Bu Mila terpaku. Meskipun dalam kegelapan, ibunya Gita mampu menatap wajah Andreas dengan jelas. Bahkan tahi lalat kecil yang ada di samping hidung pun nampak.
Masih di halaman rumah, mereka memulai bercengkrama sembari menunggu Lintang dan Yudha yang masih dalam perjalanan.
"Kamu beneran calon suami Gita?" tanya Bu Mila memastikan. Melirik mobil mewah Andreas sekilas lalu fokus pada sang pemilik.
Cerita dari Gita saja tak cukup, kini Bu Mila bisa melihat langsung pria yang selalu di puja putrinya setiap hari.
Andreas menatap Gita yang tersenyum manis. Gadis itu pun jauh lebih cantik dengan dandanannya malam ini. Memakai rok selutut dengan kemeja kotak dan make up natural, nampak santai namun tetap anggun. Itu pilihan Andreas tadi siang dan langsung dipakai seperti keinginannya.
Ternyata aku tidak salah memilih. Malam Ini Gita cantik sekali.
"Iya, Bu," jawab Andreas membungkuk ramah, meraih tangan Bu Mila lalu menciumnya.
Sebagai rakyat jelata, Bu Mila kagum dengan putrinya yang bisa mendapatkan pria tampan seperti Andreas. Tak hanya itu, kesopannya pun sudah dibuktikan. pria itu dengan menghormatinya sebagai orang yang lebih tua. Padahal, masih banyak diluaran sana wanita yang jauh lebih cantik dan mapan, namun itulah jodoh, tak dinyana dari mana asalnya, sekali sudah jodoh pasti akan mendekat dengan sendirinya.
"Di luar dingin, mendingan kita masuk dulu, nungguin pak Yudha dan Lintang di dalam saja." Gita menatap jalanan yang masih sepi. Belum ada tanda-tanda sang sahabat datang.
Andreas menarik tangan Gita dari belakang, sedangkan Bu Mila berjalan lebih dulu.
"Bantuin aku bawa barang-barangnya," pinta Andreas lirih, menyungutkan kepalanya ke arah mobil.
"Seharusnya bapak tidak usah repot-repot, ibu tidak perlu sogokan, yang penting bapak serius dan setia, ibu sudah menerima."
"Setidaknya ada buah tangan untuk ibu."
Andreas membuka bagasi. Mengeluarkan semua barang yang ia beli tadi siang.
Setelah barang bawaannya sudah berada di bawah, Gita membantu Andreas membawanya masuk.
Andreas mengedarkan pandangannya ke arah ruang depan, sederhana dan kecil. Andreas mengingat rumah Lintang waktu pertama kali ke sana bersama dengan Yudha.
Tak jauh beda, di rumah Gita pun ada sebuah foto jadul yang dipajang di dinding yang membuatnya ingin tertawa.
"Itu apa?" tanya Bu Mila yang baru saja keluar. Meletakkan secangkir kopi di depan Andreas. Lalu mendekati Gita yang menumpuk paper bag di atas kursi.
"Itu hanya oleh-oleh untuk ibu," jawab Andreas singkat.
"Ibu jadi tidak enak." Tertawa renyah, tangannya mulai membuka satu persatu isi tasnya.
"Wah, ini pasti mahal." Menjewer sebuah kebaya yang nampak mewah. Bu Mila tak henti-hentinya ikut memuji Andreas.
Gita yang tadinya duduk di samping sang ibu kini beralih duduk di sisi andreas.
"Maaf, Pak. Ibu memang begitu, tapi dia nggak matre kok," bisik Gita di telinga Andreas.
"Nggak papa, aku suka. Pokoknya apa pun akan aku lakukan, asalkan ibu merestui hubungan kita." Andreas mengutarakan lagi apa yang ada dalam hati.
Suara mobil terdengar, Gita dan Andreas yakin itu adalah Yudha dan Lintang yang katanya ingin ikut menyaksikan prosesi lamaran Andreas, meskipun digelar sederhana, Lintang ingin di samping Gita saat acara.
Gita membuka pintu. Senyumnya mengembang melihat sosok yang ia tunggu berjalan ke arahnya.
"Kenapa kamu lama sekali, Lin?" Gita berhamburan memeluk ibu hamil itu dengan erat. Menatap lagi ke arah seseorang yang baru saja turun.
Lintang mengangguk, ikut menatap mertuanya dan sang ibu.
Menyambut hangat pada orang-orang yang terpandang. Alangkah bahagia rumahnya yang jauh dari kata mewah itu diinjak mereka.
"Silakan masuk Bu, Pak," sambut Gita ramah.
Membersihkan lagi sofa-sofa lapuk yang masih kosong. Bergegas mengambil minuman di belakang. Memegang dadanya sebelum keluar membawa jamuannya.
"Sebenarnya Andreas sudah berani ke sini sendiri." Pak Radit mulai mengawali pembicaraan, tak perlu banyak basa-basi langsung ke pokok masalah.
"Tapi kami sebagai orang tuanya tetap saja ingin mengantarnya untuk melamar putri ibu," lanjutnya.
Bu Mila tersenyum, masih bingung dengan kehadiran mereka yang tak masuk dalam daftar ucapan Gita. Pasalnya, putrinya itu hanya bilang akan ada satu orang, namun kini menjadi enam orang, termasuk Lion.
Seperti Andreas, Lintang pun membawa buah tangan. Ia meletakkan beberapa perhiasan di meja. Yudha hanya membisu, sebenarnya ia sangat malas untuk datang, namun karena paksaan dari Lintang, akhirnya ia pun ikut turun tangan.
"Ta…tapi kami dari keluarga nggak punya Bu, rumah kami jelek. "
Andreas tersenyum tipis. Menatap Gita yang tampak malu-malu.
"Nggak papa, Bu. Setelah menikah ibu dan Gita bisa pindah ke rumah saya."
Hati bu Mila berdebar-debar, namun ia masih menyembunyikannya. Tidak boleh terlihat kampungan di mata mereka. Meskipun miskin harus tetap punya harga diri.
Andreas menepuk tempat kosong di sisi nya. Memberi kode pada Gita untuk duduk di sana.
Gita menatap semua orang, matanya berhenti lagi pada Andreas. Lalu mengikuti perintah pria itu. Keduanya mendengarkan perbincangan Bu Mila dan Pak Radit. Menyetujui apapun keputusan mereka.
Lion yang dari tadi duduk di pangkuan Yudha merosot turun menghampiri Andreas dan Gita.
"Om mau menikah, seperti papa dan mama?" tanya Lion polos. Menatap Andreas dan Gita bergantian.
Mereka mengangguk bersamaan. Andreas Mengangkat tubuh mungil Lion ke pangkuannya.
"Lion, semua orang kalau sudah dewasa pasti menikah, nanti Lion pun akan menikah, tapi menunggu waktunya dulu."
Lion cengar-cengir, menutup bibir nya dengan kedua telapak tangan. Mengingat temannya di sekolah yang menurutnya cantik seperti Lintang.
"Calon istri Lion namanya Cantika, Om."
Yudha menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke lidah. Terkejut dengan ucapan Lion yang sangat konyol.
Semua menertawakan tingkah lucu Lion kecuali Yudha yang sangat malu.
Ia tak habis pikir dengan putranya yang sudah mewarisi kemesumannya di usianya yang masih sangat kecil.
Lintang bisa melihat wajah sang suami yang tampak merona. Ia hanya bisa tersenyum kecil.
Aduh, ada-ada saja kalau mau bikin bapaknya malu. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Lion, Sayang. Anak kecil belum boleh punya calon istri. Itu urusan orang dewasa. Jadi Lion harus fokus belajar dan belajar, jangan yang lain," tutur Lintang tegas.
Lion mengangguk berat.